Berkat KIP Kuliah, Dua Anak Muda Ini Berani Bermimpi Besar!

0

JAKARTA (Suara Karya): Ferdiansyah Adrianto (19) mengaku hingga kini masih tak menyangka bisa kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) ternama seperti Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, jika melihat kondisi ekonomi keluarganya yang sangat sederhana.

Katanya, impian itu bisa terjadi berkat dorongan gurunya di SMAN 1, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan dukungan penuh dari ibu dan kedua kakaknya. Ia beranikan diri untuk merantau, jauh dari keluarganya demi meraih mimpi.

Ditanya soal mimpinya itu, Ferdiansyah yang mengambil program studi psikologi itu ingin bekerja sebagai karyawan di bagian Human Resources Development (HRD) sebuah perusahaan. Pekerjaannya tersebut diharapkan bisa membawa ekonomi keluarganya menjadi lebih baik.

“Doakan supaya saya bisa lulus dengan baik dan berhasil meraih mimpi tersebut,” kata pria yang akrab dipanggil Ferdi kepada wartawan, di Solo, Selasa (12/7/22) lalu.

Ferdi yang saat ini memasuki semester tiga mengaku senang bisa kuliah di UNS Surakarta, karena akar keluarga ibunya berasal dari Solo. Lagipula biaya hidup di kota itu lebih murah dibanding kota-kota lain di Indonesia, sehingga uang saku yang diberikan pemerintah Rp5,7 juta per semester terbilang cukup.

“Kalau sedang banyak kegiatan praktik, uangnya memang kurang. Tinggal bagaimana kita menyiasatinya saja, agar uang itu bisa cukup,” tutur Ferdi.

Hal senada dikemukakan Daniela Stefanny (20), lulusan SMAN 8 Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara). Mahasiswa semester tiga, program studi teknik industri itu mengaku senang mendapat beasiswa KIP Kuliah, karena hal itu bisa menjadi jalan baginya dalam meraih impian bekerja di dunia industri.

Anak pertama dari tiga bersaudara itu menuturkan, kehidupan yang dijalaninya sangat sederhana karena ayahnya hanya pegawai kontrak di dinas lingkungan hidup di daerahnya. Sementara ibunya tidak bekerja.

Perempuan yang akrab dipanggil Niela itu belajar ekstra keras tak hanya untuk meraih mimpi, tapi juga menjadi contoh buat kedua adiknya. “Meski kondisi ekonomi sulit, jika kita mau berusaha selalu ada jalan,” katanya.

Niela mengaku dibekali sedikit uang dari orangtuanya sebagai pegangan selama merantau di Solo. Uang tersebut hanya digunakannya saat ‘emergency’, yaitu saat uang saku KIP Kuliah belum cair seperti biasanya.

“Saya sangat mengandalkan uang saku dari pemerintah tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Semua pengeluaran diperhitungkan agar tidak habis sebelum waktunya,” kata Niela yang mengaku suka kewalahan mengatur keuangan saat kuliah mulai banyak kegiatan praktik.

Ditanya soal kekhawatirannya selama kuliah, baik Ferdi maupun Niela mengaku takut beasiswa KIP Kuliahnya dihentikan, karena nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) turun selama dua semester berturut-turut.

“Saya takut sekali beasiswanya dihentikan, karena tidak mungkin mengandalkan ekonomi keluarga agar bisa kuliah. Satu-satunya jalan, saya belajar ekstra keras agar prestasi tetap stabil atau lebih baik,” kata Niela yang berhasil meraih IPK 3.45 pada semester genap lalu.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Ferdi. Peraih IPK 3.5 itu berupaya melakukan yang terbaik agar prestasinya bisa bertahan. Selain, tentunya doa dari ibu dan kedua kakaknya. “Saya juga takut nilai jatuh lalu beasiswa KIP Kuliah dicabut. Padahal, untuk bisa berada disini tidak mudah,” ujar Ferdi.

Pengalaman Ferdi dan Daniela bisa menempuh pendidikan tinggi melalui KIP Kuliah bisa menjadi contoh bahwa impian bisa diraih, asalkan mau berusaha dan berdoa. Jalan kesuksesan sudah diperlihatkan Ferdi dan Daniela, tinggal pribadi masing-masing yang menjalaninya. (Tri Wahyuni)