Berkat Magang Industri, Mahasiswa Universitas Pertamina Juara OGIP

0

JAKARTA (Suara Karya): Mahasiswa Fakultas Teknologi Eksplorasi dan Produksi Universitas Pertamina berhasil menyabet juara pertama pada kompetisi Oil and Gas Intellectual Parade (OGIP) yang digelar UPN Veteran Yogyakarta. Kemenangan tim bernama Lateral itu pada kategori Geothermal Study Case Competition.

Ketua Tim Lateral, Dies Valley dalam keterangan pers secara virtual, Minggu (18/4/2021) menjelaskan, keberhasilan tim-nya karena mata kuliah dan kesempatan magang industri untuk pengembangan energi geothermal.

“Dalam kompetisi ini, kami membuat pengembangan lapangan geothermal dengan mekanisme 3 sumur eksplorasi dan 4 sumur deliniasi memakai drilling jenis slim-hole. Kedepan, lapangan eksplorasi itu bisa berkembang hingga memiliki 21 sumur produksi dan 7 sumur injeksi,” paparnya.

Hasil perhitungan keekonomian proyek selama 30 tahun yang disusun tim menunjukkan, lanjut Dies Valley, biaya ‘Capital Investment Cost’ sebesar 361 juta dolar akan menghasilkan ‘Internal Rate of Return’ sebesar 8,324 persen.

Bersama anggota tim lainnya, yaitu M Fadil Akhwan dan Gadis Wahyu Ramadhani, Dies menambahkan, penting pula untuk melakukan sosial dan edukasi kepada masyarakat sekitar lokasi proyek mengenai potensi energi geothermal.

Alasannya, sumber energi baru dan terbarukan (EBT) itu belum banyak diketahui masyarakat, sehingga tim perlu mempertimbangkan aspek safety. Proyek dijalankan dengan mematuhi peraturan pemerintah serta unsur ramah lingkungan.

Juara kedua pada ajang yang sama juga dimenangi mahasiswa Universitas Pertamina. Tim bernama Condensate itu beranggotakan Arif Aulia Fikri, Galih Bayu Permadi dan M Alpex Firstonda.

Ketua Tim Condensate, Galih menyebut, mereka memiliki 2 skema dalam penyelesaian kasus geothermal yang diberikan panitia. Diusulkan, pemboran eksplorasi untuk produksi dan delineasi menggunakan sumur kombinasi, yakni slim-hole dan standard-hole.

“Skema itu adalah strategi terbaik untuk menghasilkan energi dengan jumlah maksimum,” ucap Galih.

Bagi kedua tim, kemenangan di ajang bergengsi itu sangat membanggakan. Menurut Galih, aplikasi pembelajaran di kelas dalam bentuk studi kasus seperti itu dapat lebih mempersiapkan diri mereka untuk terjun ke dunia industri nantinya.

“Selain belajar di kelas dan di laboratorium, kami juga sering melakukan kunjungan lapangan baik ke lokasi proyek maupun industri. Saya pribadi, kunjungan tersebut membuat kami lebih siap kerja karena ilmu yang didapat tak lagi sebatas teori tetapi juga praktek. Bahkan kami melihat kondisi nyata di industri energi,” katanya.

Kompetisi seputar EBT menjadi penting, karena peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan industri di Indonesia setiap tahunnya, membuat kebutuhan terhadap bahan bakar minyak (BBM) semakin meningkat.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, konsumsi BBM nasional diperkirakan mencapai 75,27 juta kilo liter (kL) pada tahun ini.

Dewan Energi Nasional dalam Outlook Energi Indonesia 2016 memprediksikan, kebutuhan energi Indonesia pada 2025 akan mencapai 238,8 juta ton setara minyak (Tonne of Oil Equivalent/TOE) dengan skenario Business as Usual (BaU).

Jumlah itu diproyeksikan akan meningkat menjadi 682,3 juta TOE pada 2050 mendatang, dengan asumsi rata-rata pertumbuhan kebutuhan energi pada periode 2015-2050 di angka 4,9 persen per tahun.

Untuk mencukupi kebutuhan itu, Pemerintah Indonesia terus mencari berbagai alternatif EBT. Salah satunya adalah energi yang berasal dari panas bumi (geothermal). Badan Geologi mencatat, pada Desember 2019 potensi energi geothermal di Indonesia mencapai 23,9 Gigawatt (GW).

Namun, potensi ini baru dimanfaatkan sebesar 8,9 persen. Padahal, sebaran sumber energi geothermal di Indonesia hampir merata. Ditemukan lebih dari 300 titik potensi geothermal dari Sabang sampai Merauke. (Tri Wahyuni)