Berkat Mesin CNC, SMK Warga Surakarta Terpilih jadi ‘Center of Excellent’

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Warga Surakarta, Jawa Tengah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Pusat Keunggulan (PK) atau Center of Excellent (CoE). Prestasi itu diraih berkat keberhasilannya dalam membuat mesin Computer Numerical Control (CNC) untuk industri.

“Keberhasilan semacam ini harus diberi apresiasi. Sekolah tersebut didorong menjadi teaching factory bagi siswa SMK lainnya untuk pelatihan,” kata Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi) Kemdikbud, Wikan Sakarinto saat berkunjung ke SMK Warga Surakarta, Jawa Tengah, pada Minggu (31/1/21).

Kunjungan Wikan sekaligus memastikan program SMK sebagai PK dapat berjalan dengan baik. “Kami ingin pastikan budaya kerja, sistem dan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) di sekolah yang dipilih sebagai PK dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

Wikan menyaksikan secara langsung produk nyata SMK Warga, yakni mesin CNC yang diberi label HKI (Hasil Karya Indonesia). Mesin bernama CNC 3 Axis dan CNC 5 Axis merupakan hasil karya bersama guru SMK, mitra industri dan siswa SMK Warga.

Mesin CNC karya anak bangsa itu dijual dengan harga sangat kompetitif, yakni Rp170 juta untuk CNC 3 Axis dan Rp370 juta untuk CNC 5 Axis. Mesin tersebut memiliki kualitas dengan standar industri. Sehingga bisa jadi pilihan bagi industri yang ingin dapat mesin CNC berkualitas tetapi dengan harga lebih terjangkau.

“Selain melayani pesanan industri, dana bantuan untuk Center of Excellent (CoE) ini dapat dipakai untuk teaching factory. SMK Warga bisa membuat workshop dan training center bagi murid kelas XI dan XII bagi satuan pendidikan vokasi lainnya maupun masyarakat sekitar,” ucapnya.

Dengan daya sekitar 500 watt, mesin CNC 3 Axis dapat digunakan untuk industri rumahan. “Saya sarankan kepada kampus vokasi di seluruh Indonesia yang memiliki jurusan manufaktur dan permesinan untuk membeli produk HKI,” kata Wikan menegaskan.

Selain mesin CNC, SMK Warga juga membuat bucket yang dipakai untuk escavator atau alat berat pertambangan berukuran besar. Produk tersebut dibuat lewat kerja sama SMK Warga, PT BUMA, dan industri kecil sekitarnya. Produk tersebut telah dibeli PT BUMA sebanyak 180 unit.

Produk bucket buatan SMK Warga memiliki keunggulan, yaitu masa pakai lebih lama sekitar 550 jam, jika dibandingkan produk luar negeri yang masa pakai sekitar 480 jam. Alhasil, produk yang biasanya impor dari Cina dan Jepang, sekarang banyak yang memilih buatan SMK Warga. Bahkan pesanan produk kini mencapai 500 unit dengan kisaran harga Rp1 juta per unit.

“Jadi, teaching factory di SMK Warga telah memiliki research and development yang dikembangkan bersama Akademi Teknologi Warga, Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (UNS) dan PT BUMA. Produk yang dihasilkan lebih unggul dibandingkan buatan luar negeri,” ucapnya.

Tak hanya itu, mesin CNC besutan HKI ini memiliki sistem controller yang dikembangkan mandiri oleh SMK Warga sendiri. “Karya anak bangsa ini sungguh patut diapresiasi oleh bangsa sendiri dan dunia,” tutur Wikan.

Ditambahkan, SMK nantinya akan dapat pendampingan dari perguruan tinggi vokasi untuk pengawasan atas pelaksanaan teaching factory. “Kami juga akan buat kebijakan, dimana semua politenik dan SMK harus memakai batik buatan SMK pada hari tertentu,” kata Wikan menandaskan.

Pada hari yang sama, Dirjen Wikan juga berkesempatan menjadi model busana yang diproduksi siswa jurusan tata busana SMK negeri maupun swasta di Jateng.

Tercatat, ada sekitat 35-40 baju produk SMK diperagakan Wikan secara bergantian dalam sesi pemotretan yang berlangsung di SMKN 4 Surakarta.

Layaknya model profesional pada sesi pemotretan, Wikan pun harus berganti-ganti pose pada setiap peragaan baju yang dikenakannya.

“Meski melelahkan, tapi saya senang. Saya harap SMK juga mau berlelah-lelah untuk maju. Silakan pakai foto-foto ini secara gratis untuk promosi lewat media sosial yang dimiliki sekolah,” katanya.

Wikan berharap, baju buatan SMK bisa diproduksi secara massal dan dipasarkan ke luar negeri. “Tentunya ini juga bisa melibatkan siswa jurusan lain untuk perencanaan, desain, teknologi informasi, marketing, akunting dan sebagainya,” katanya.

Seiring keinginan Wikan, Kepala SMKN 4 Surakarta Wening Sukmawati pun menyatakan dukungannya atas kegiatan yang dilakukan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada Jurusan Tata Busana SMK di Jawa Tengah Jateng tersebut.

“Ini adalah gelar karya anak tata busana se-Jawa Tengah di SMKN 4 Solo, yang terpiluh sebagai CoE untuk Tata Busana. Kami juga akan memilih SMK sebagai COE Jurusan Tata Rias dan Rambut,” ujarnya. (Tri Wahyuni)