Suara Karya

Berkat Teknologi CCS, Mahasiswa UPER Ungguli Kedigdayaan ITB

JAKARTA (Suara Karya): Mahasiswa Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER) berhasil meraih juara pertama dalam International Undergraduate Geophysics Competition kategori Interpretasi Seismik untuk Carbon Capture and Storage (CCS).

Berkat teknologi itu, UPER mengungguli kedigdayaan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berada di posisi kedua dan ketiga.

Kompetisi yang dilaksanakan kampus ITB Bandung itu juga diikuti perguruan tinghi ternama lainnya seperti Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Brawijaya dan Universitas Syiah Kuala.

Ketiga mahasiswa yang berprestasi itu adalah Muhammad Rafif Athalah, Ivan Marcelino Purba dan Rahmayani.

Rafif menjelaskan, kompetisi menantang peserta untuk menganalisis rangkaian data bawah permukaan dari beberapa sumur dan lintasan penampang seismik. Data itu untuk menentukan daerah yang cocok diinjeksikan CO2 ke bawah permukaan bumi serta potensi kapasitas penyimpanan CO2 dalam teknologi CCS.

Agar CCS diterapkan dengan baik dan aman, Rafif menyebut, ada sekumpulan kriteria yang harus diperhatikan. Salah salah satunya, struktur geologi bawah permukaan pada area penelitian.

“Formasi yang akan diinjeksikan CO2 tidak boleh ada di sesar atau patahan yang bersifat konduit (jalur rekahan), karena tanah di jalur itu cenderung tidak stabil. Jika terjadi reaktivasi pada sesar, t kemungkinan bisa menimbulkan kebocoran CO2,” tuturnya.

Rafif bersama tim menganalisa data menggunakan referensi kalkulasi dari Department of Energy Norwegia. Dari hasil analisis, peserta belajar bagaimana kriteria sebuah formasi cocok untuk menyimpan CO2 dalam bentuk fluida super-kritikal, ukuran tebal batuan penudungnya, serta kriteria lain yang menunjang keselamatan penyimpanan CO2 di bawah permukaan.

“Dari analisis struktur, kami mengetahui reservoir ada di kedalaman dangkal sehingga biaya operasional jadi lebih murah. Pada formasi ini terdapat banyak sesar,” katanya.

Pada formasi kedua, tidak ditemukan banyak sesar, namun reservoir berada di kedalaman yang dalam sehingga biaya operasional cenderung lebih mahal. “Karena itu, kami rekomendasikan injeksi dilakukan pada formasi kedua agar injeksi CO2 lebih aman,” ucap Rafif.

Dosen pembimbing Rafif dan tim, Muhammad Husni Mubarak Lubis mengapresiasi capaian ketiga mahasiswa tersebut. Katanya, partisipasi mahasiswa dalam ajang kompetisi sangat baik untuk mengasah hard skill sekaligus soft skill.

“Lewat kompetisi, mahasiswa berlatih melakukan analisis data, bekerja secara tim dan mengelola sebuah proyek,” pungkasnya.

Sebagai informasi, organisasi Global Carbon Project melalui laporan Global Carbon Budget mengungkap, pada 2022 terjadi peningkatan produksi emisi karbon yang berasal dari energi fosil sebanyak 40,5 GtCO2.

Jumlah itu meningkat sebanyak 0,7 persen dari total emisi karbon pada 2021 sebesar 40,2 GtCO2.

Demi menekan tingginya emisi karbon, berbagai negara mengembangkan teknologi CCS yang dapat menangkap dan menyimpan karbon di dalam permukaan bumi.

Merujuk laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia saat ini memiliki satu lapangan CCS di wilayah Gundih, Jawa Tengah dan disebut mampu menyimpan 300 juta ton CO2. (Tri Wahyuni)

Related posts