Berkat Teknologi PGT-A, Peluang Kehamilan IVF Naik jadi 68 Persen

0

JAKARTA (Suara Karya): Teknologi PGT-A (Pre-Implantation Genetic Testing for Aneuploidy) dalam program bayi tabung (IVF) mendongkrak peluang kehamilan hingga 68 persen pada kelompok usia tertentu.

“Teknologi PGT-A di Morula IVF Indonesia dapat mendeteksi masalah kromosom pada embrio, yang menjadi penyebab terjadinya keguguran pada program bayi tabung,” kata Direktur Scientific PT Morula Indonesia, Prof Arief Boediono PhD di Jakarta, Senin (23/1/23).

Hadir dalam kesempatan itu, Managing Director Morula IVF Indonesia, Sonny Adi Nugroho dan Corporate Vice President Marketing PT Morula Indonesia, Putu Deddy Suhartawan.

Teknologi PGT-A memberi manfaat bagi pasangan yang sudah melakukan program bayi tabung berulang kali, tapi belum berhasil untuk hamil, pasangan yang memiliki riwayat keguguran berulang, pasangan yang memiliki riwayat kelainan bawaan pada kehamilan sebelumnya, dan ibu yang sudah berusia lanjut.

Selain PGT-A, lanjut Prof Arief, perlu pemeriksaan kromosom lanjutan lainnya yaitu PGT-M (Pre Implantation Genetic Testing for Monogenic /single-gene defect).

Beberapa kelainan dapat dicegah menggunakan teknologi PGT-M seperti thalassemia, spinal muscular atropy, cystic fibrosis dan penyakit genetik lain yang bersifat menurun.

Hasil studi yang dilakukan Morula mulai Januari 2019 hingga September 2022 pada hampir 500 pasien menunjukkan teknologi PGT-A membantu potensi kehamilan sebesar 68 persen pada kelompok usia 38-39 tahun dan 46 persen usia diatas 40 tahun.

Pada kelompok usian38-39 tahun, persentase kehamilan dengan teknologi PGT-A lebih baik 25 persen dibanding kehamilan Non PGT-A. Si usia 40 tahun ke atas, PGT-A membantu persentase kehamilan 19 persen lebih baik dari yg Non PGT-A.

Data lain mengungkapkan, pasien dalam rentang usia 36-44 tahun memiliki angka kromosom normal (euploid) yang jumlahnya lebih rendah dibandingkan kromosom tidak normal (aneuploid).

Hal itu menunjukkan teknologi PGT-A harus direkomendasikan pasien dalam kelompok usia tersebut agar tujuan mendapatkan embrio yang sehat agar mendapat bayi yang sehat pula, bisa terpenuhi.

Teknologi itu juga dapat mengidentifikasi embrio dengan kromosom seks yang normal atau sehat dengan mengidentifikasi kromosom 46 XX atay 46 XY, dalam bahasa awam dikenal dengan deteksi jenis kelamin yang normal.

“Kegagalan program bayi tabung, sekitar 60-70 persen disebabkan kromosom yang tidak normal, terutama pada wanita usia di atas 38 tahun. Kerusakan kromosom bisa mencapai sekitar 75 persen,” ujarnya.

Kromosom abnormal yang terjadi saat proses pembentukan sel-sel telur, sperma dan saat perkembangan embrio, dapat menyebabkan kromosom yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, atau bahkan hilangnya atau penambahan DNA.

“Kelainan kromosom itu dikenal sebagai aneuploidy. Kondisi itu menyebabkan kelainan kromosom seperti Down Syndrome dan Edwards Syndrome, dan kelainan dari kromosom jenis kelamin bayi seperti Turner Syndrome, Jakob Syndrome, Klinefelter Syndrome dan Triple X serta 60 persen keguguran,” ujar Prof Arief.

Sedangkan teknologi PGT-M (Pre-Implementation Genetic for Monogenic disorder) di Morula IVF dapat mendeteksi mutase single-gene (monogenic) yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit genetik bawaan seperti thalassemia, spinal muscular atropy dan cystic fibrosis.

“PGT-M dapat membantu pasangan untuk mendapat keturunan tanpa risiko terkena penyakit-penyakit keturunan tersebut,” katanya.

Saat ini tim Morula IVF Jakarta berhasil melahirkan bayi dari pasien dengan spinal muscular atropy tanpa menderita penyakit tersebut berkat teknologi PGTA- PGTM.

Ditanya soal biaya, Managing Director Morula IVF Indonesia, Sonny Adi Nugroho menyebut angka Rp83 juta hingga Rp150 juta. “Jadi tidak benar biaya program bayi tabung itu mencapau miliaran rupiah. Untuk PGTA dan PGTM, biayanya berkisar Rp83-150 juta tergantung kondisi pasien,” ucapnya.

Ditambahkan, biaya itu sudah memperhitungkan efektivitas dari sisi biaya, yang meliputi konsultasi, USG, cek laboratorium pasangan suami istri, analisa sperma, obat stimulasi atau hormone, tindakan Ovum Pick Up (OPU), fasilitas Time Lapse/VIP Incubator, tindakan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI), dan tindakan Embryo Transfer (ET). (Tri Wahyuni)