Berkat UKA, Pengapuran Sendi Bisa Diatasi Tanpa Ganti Lutut Total

0

JAKARTA (Suara Karya): Berkat teknologi kedokteran yang makin canggih, masalah pengapuran tulang kini bisa diatasi tanpa perlu ganti lutut. Menariknya, teknik operasi Unicompartment Knee Arthroplasty (UKA) ini telah berhasil diterapkan di Indonesia.

“Dalam dua minggu saja, pasien mengaku sudah bisa bangun dan duduk tanpa nyeri lagi. Sehingga ibadah sholat jadi nyaman,” kata Kepala Divisi Hip, Knee, and Geriatric Trauma (HKGT), Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, dr Franky Hartono SpOT, di Jakarta, Kamis (24/5).

Dalam kesempatan itu, Franky didampingi timnya yaitu dr Karina Besinga, SpOT, dr Daniel Marpaung, SpOT, dr Siti Anissa Nuhonni, SpKFR dan dr Laura Dame Napitupulu, SpAn.

Franky menjelaskan, masalah pengapuran sendi atau osteoarthritis banyak dialami seseorang usia memasuki usia diatas 40 tahun, terutama mereka yang menderita obesitas. Hal itu disebabkan sendi lutut menanggung lebih dari separo berat badan.

“Dampaknya, sendi tulang rawan dalam lutut lama kelamaan jadi menipis. Lalu timbul radang yang membuat rasa nyeri berkepanjangan,” ujarnya.

Ditambahkan, tak ada obat khusus untuk mengatasi pengapuran sendi. Obat oral yang diberikan dokter umumnya untuk mengatasi rasa nyeri, tak mengatasi persoalan utamanya. Termasuk suntikan hyaluronic acid di lutut.

“Belum ada teknologi yang dapat menumbuhkan kembali tulang rawan sendi. Karena itu, solusi untuk mengatasi osteoarthritis yang sudah parah lewat operasi penggantian tulang lutut total,” tuturnya.

Namun, Franky menambahkan, teknologi tersebut ternyata belum optimal. Pasalnya 1 dari 5 pasien tetap mengeluh rasa sakit dan tidak nyaman saat beraktivitas. “Teknologi terus disempurnakan, hingga ditemukan UKA yang hasilnya lebih baik,” kata Franky.

Dijelaskan, teknologi UKA hanya membuang sebagian tulang rawan yang rusak lalu melapisi dengan implan berbahan titanium dan bantalan berbahan plastik polyethylene yang ringan.

“Dari banyak kasus, kerusakan umumnya terjadi di bagian tengah sendi. Sebagian besar sendi lutuh masih sehat. Karena hanya membuang sedikit sendi yang rusak, maka operasi hanya meninggalkan bekas sayatan kecil saja,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Franky, pasien juga dapat sembuh lebih cepat. Dalam 1-2 hari pasien sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat. Setelah itu pasien wajib ikut fisioterapi untuk melatih fungsi gerak lutut.

“Ada pasien kami yang dalam 2 minggu saja sudah bisa jalan seperti orang normal. Proses penyembuhan beda pada setiap orang, karena ada memiliki motivasi kuat dan ada yang malas,” ujarnya.

Ditambahkan, karena tidak memotong sendi yang masih sehat, pergerakan lutut pasien akan terasa lebih alami. Pasien UKA memiliki kemampuan menekuk lutut lebih luas bahkan untuk bersila, jongkok, dan melakukan olahraga low-impact.

“Studi terhadap UKA juga menunjukkan hasil ketahanan implan mencapai 96 persen pada 1000 pasien dalam 10 tahun dan 92 persen dalam 20 tahun,” kata Franky . (Tri Wahyuni)