Bersama BAZNAS, Sarjana Matematika Ini Memilih Jadi Pendamping Peternakan

0
Dani memilih untuk menjadi seorang pendamping di Program Balai Ternak BAZNAS (Foto: BAZNAS)

JAKARTA (Suara Karya): Taufik Mawaddani atau akrab disapa Dani merupakan lulusan pendidikan matematika. Tak pernah terbesit di pikiran Dani untuk menjadi pendamping peternak di Balai Ternak BAZNAS. Namun kini, seorang sarjana matematika itu memilih untuk menjadi seorang pendamping di Program Balai Ternak Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang diinisiasi oleh LPPM BAZNAS.

“Saat kecil saya bercita-cita menjadi pegawai kantoran atau mungkin menjadi seorang guru. Akan tetapi, rutinitas pekerja kantoran yang berangkat jam tujuh, pulang jam lima sore menjadi kurang menarik bagi saya,” ujar Dani.

Dani bercerita mengenai perjalanan menjadi pendamping BAZNAS. Suatu ketika ia bertemu dengan Kepala LPPM BAZNAS drh. Ajat Sudarjat yang sedang membutuhkan satu tenaga pendamping BAZNAS untuk mendampingi masyarakat di bidang peternakan, khususnya domba dan kambing. Pertemuan inilah yang mengubah pikiran Dani untuk mencari pekerjaan alternatif selain pegawai.

Meski tidak memiliki latar belakang peternakan, Dani merasa tertantang untuk menjadi pendamping Balai Ternak BAZNAS Magelang. Dani mulai mempelajari ilmu peternakan. Di awal perjalanan ini, ia bahkan sudah merasakan keberkahan menjadi seorang pendamping BAZNAS.

Cerita bahwa para nabi penggembala domba juga membuat Dani semakin tertarik mempelajari dunia peternakan sebagai pendamping BAZNAS. Domba dan kambing juga erat kaitannya dengan pengalaman ajaran Islam, seperti kurban, akikah, dan dam (denda) haji. “Beternak itu mulia, menyenangkan, dan menghasilkan,” ujar Dani.

Hari berganti hari, Dani menemukan kenyamanan sebagai pendamping di Balai Ternak BAZNAS Magelang. Bagi Dani, menjadi pendamping BAZNAS tidak hanya mendekatkan dirinya dengan mustahik, tapi juga membuatnya menyukai aktivitas pendampingan peternakan.

“Alhamdulillah saya bisa menerapkan beberapa metode terkait proses penggemukan, breeding, dan pemerahan susu,” ujar Dani.

Seiring berjalannya waktu, pendamping BAZNAS ini membimbing masyarakat untuk mengubah gaya beternak dari peternakan tradisional menjadi peternakan modern. Dani bukan hanya memanfaatkan rerumputan sebagai pakan, namun juga silase dan konsentrat.

Tidak hanya itu, Dani juga memiliki mimpi untuk menginisiasi satu unit bisnis peternakan yang lengkap sehingga pendapatan peternak tak hanya bertumpu pada penjualan ternak, tapi juga usaha sampingan seperti penjualan pakan dan kompos. Untuk diketahui, saat ini Balai Ternak BAZNAS Magelang sedang mengembangkan pabrik pakan dan rumah kompos.

Banting stir menjadi pendamping ternak BAZNAS memberikan tantangan sendiri untuk Dani. Terkadang, pasokan bakalan domba terbatas, kematian ternak karena perawatan yang kurang baik oleh peternak, harga jual yang rendah hingga terbatasnya tenaga ahli dan sulitnya mencari indukan dengan kualitas baik menjadi tantangan bagi Dani.

Namun, semua itu bisa teratasi seiring dengan berjalan waktu. Dalam kurun 2019, Balai Ternak BAZNAS Magelang menjadi balai ternak terbaik dalam produktivitas. Program pengembangbiakan dan penggemukan memang menjadi keunggulan Balai Ternak BAZNAS Magelang.

Sebagai pendamping BAZNAS, Dani berharap nantinya program tersebut bisa diperkuat struktur kelembagaannya sehingga mampu mendesain program secara tepat agar peternak merasakan hasil yang lebih maksimal.

“Saya memiliki target memperkuat kelembagaan Balai Ternak agar dapat memaksimalkan peluang usaha peternakan dari hulu ke hilir. Ini peluang yang mesti dibuat dan dimanfaatkan,” ungkap Dani yang kini menjadi pendamping BAZNAS mengakhiri ceritanya.

Saat ini Dani diamanahkan bertugas di tempat baru di Balai Ternak BAZNAS Sleman, di mana sebelumnya ia bertugas di Balai Ternak BAZNAS Magelang. (Pramuji)