BI: Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Masih Didorong Konsumsi Rumah Tangga

0

JAKARTA (Suara Karya): Seiring dengan menurunnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat ke level 1, pertumbuhan perekonomian DKI Jakarta terus menunjukan perbaikan positif. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan III 2021, tercatat pertumbuhan perekonomian DKI Jakarta 2,43 (yoy).

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2021 (10,94%, yoy). Pertumbuhan ekonomi yang melambat tersebut dipengaruhi oleh penerapan PPKM Darurat dan dilanjutkan dengan PPKM Level 4 hingga pertengahan triwulan laporan. Dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 3,51% (yoy) pada triwulan laporan, pertumbuhan ekonomi Jakarta masih lebih rendah.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Onny Widjanarko mengatakan, dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,57% (yoy) dengan andil sebesar 2,59% terhadap pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta. Kenaikan konsumsi rumah tangga terutama didukung dari peningkatan aktivitas ritel, perdagangan, dan rekreasi seiring dengan mulai adanya pelonggaran pembatasan aktivitas mulai pertengahan triwulan.

Diungkapkannya, adanya insentif pemerintah terkait relaksasi PPnBM kendaraan bermotor juga turut mendorong peningkatan pembelian mobil di DKI Jakarta. Komponen dengan andil terbesar kedua yaitu konsumsi pemerintah yang tumbuh sebesar 6,97% (yoy) dengan andil sebesar 0,95%. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan belanja barang dan jasa, serta belanja pegawai.

Selanjutnya, investasi tercatat tumbuh sebesar 1,29% (yoy) dengan andil sebesar 0,50%. Peningkatan investasi terutama berasal dari peningkatan belanja modal pemerintah yang bersumber dari APBN dan impor barang modal. Ekspor juga mencatatkan pertumbuhan 19,06% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan impor yang tercatat sebesar 18,30% (yoy). Perbaikan ekspor luar negeri sejalan dengan perekonomian global yang membaik.

“Dari sisi sektoral, Lapangan Usaha (LU) industri pengolahan tumbuh sebesar 11,85% (yoy) dengan andil terbesar terhadap perekonomian DKI Jakarta (1,29%). Peningkatan kinerja LU industri pengolahan terutama didorong oleh meningkatnya produksi mobil sejalan dengan kebijakan relaksasi PPnBM,” kata Onny di Jakarta, Rabu (11/11/2021).

Selain itu, peningkatan tersebut dipengaruhi pemberian izin untuk beroperasi dengan kapasitas 50-100% bagi industri yang termasuk dalam sektor kritikal dan esensial di tengah penerapan PPKM. Selanjutnya, LU perdagangan tercatat tumbuh sebesar 3,53% (yoy) dengan andil sebesar 0,53%. Selain ditopang oleh penjualan kendaraan bermotor, adanya peningkatan penjualan eceran secara online mendorong peningkatan kinerja bagi sektor ini, di tengah perlambatan perdagangan eceran secara offline. LU jasa keuangan juga mengalami pertumbuhan yang positif sebesar 4,86% (yoy) dengan andil sebesar 0,53% seiring dengan peningkatan fungsi intermediasi perbankan.

Selain itu, LU infokom juga tumbuh positif sebesar 2,76% (yoy) dengan andil sebesar 0,37% seiring dengan masih meningkatnya penggunaan internet di tengah pelaksanaan work from home/school from home. Adapun sektor utama lainnya yang mencatatkan pertumbuhan positif yaitu LU penyedia akomodasi dan makanan dan minuman (7,09%, yoy), LU transportasi dan pergudangan (7,97%, yoy), dan LU jasa kesehatan dan kegiatan sosial (1,94%, yoy). (Bayu)