Suara Karya

BI Sebut Inflasi Februari 2024 di DKI Terkendali

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Arlyana Abubakar. (Suarakarya.co.id/Boy)

JAKARTA (Suara Karya): Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta mencatat realisasi inflasi di ibu kota negara masih relatif terkendali. Pasalnya, hal itu tidak terlepas dari hasil sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta yang semakin kuat.

Demikian dikatakan Kepala Kantor Perwakilan BI DKI Jakarta Arlyana Abubakar dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Sabtu (2/3/2024)

Dikatakan Arlyana, selama Februari 2024, TPID Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pengendalian inflasi, antara lain (1) Program sembako murah di berbagai kelurahan dalam rangka pengendalian inflasi jelang HBKN Ramadhan; (2) Pengiriman perdana 15 juta kilogram beras premium ke ritel modern se-Jabodetabek dalam rangka pengendalian harga beras; (3) Pengawasan keamanan pangan segar di 4 (empat) pasar tradisional, dan 1 (satu) swalayan di Provinsi DKI Jakarta; (4) Capacity Building TPID dalam rangka penguatan Rencana Kerja tahun 2024; serta (5) Rapat Koordinasi TPID mingguan dalam rangka pemantauan stok dan harga.

“Ke depan, sinergi TPID DKI Jakarta akan terus diperkuat untuk memastikan strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif) dapat berjalan baik dan efektif, utamanya melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Dengan berbagai upaya sinergi dan kolaborasi tersebut, inflasi Jakarta diharapkan dapat tetap terkendali dalam sasaran yang lebih rendah yaitu 2,5±1% pada tahun 2024,” kata Arlyana.

Sekadar informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2024 dengan menggunakan tahun dasar baru (SBH 2022), Jakarta mencatatkan inflasi sebesar 0,45% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi 0,19% (mtm). Tekanan inflasi terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok transportasi, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Secara tahunan, Jakarta mengalami inflasi sebesar 2,12% (yoy), masih terkendali dalam sasaran 2,5±1%, meskipun meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (1,83%, yoy). Inflasi tersebut lebih rendah dari Nasional (2,75%, yoy).

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,24% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat deflasi 0,06% (mtm). Inflasi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh meningkatnya harga beras yang disebabkan oleh tingginya biaya produksi, penurunan produktivitas, dan mundurnya masa panen sebagai dampak lanjutan El Nino. Harga cabai merah juga meningkat seiring dengan menurunnya pasokan akibat gangguan cuaca. Di sisi lain, penurunan harga bawang merah, cabai rawit, dan tomat menjadi penahan meningkatnya inflasi pada kelompok ini seiring dengan relatif terjaganya pasokan.

Selanjutnya, kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 0,72% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan lalu yang mengalami deflasi 2,16% (mtm). Tekanan inflasi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh meningkatnya tarif angkutan udara sejalan dengan kenaikan biaya operasional serta masih tingginya harga avtur.

Selain itu, juga terdapat kelompok lainnya yang menjadi pendorong inflasi Jakarta pada Februari 2024 yaitu kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 0,14% (mtm) yang terutama didorong oleh kenaikan harga kontrak rumah sejalan dengan meningkatnya permintaan pada periode pemilu. Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi sebesar 0,47% (mtm) yang didorong oleh meningkatnya harga emas perhiasan sejalan dengan mulai meningkatnya harga emas global. (Boy)

.

 

 

 

 

 

 

 

 

Related posts