BI: Waspadai Inflasi di Akhir September 2022

0
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Endang Kurnia Saputra. Foto: suarakarya.co.id/Bayu Legianto

JAKARTA (Suara Karya): Bank Indonesia (BI) mengkhawatirkan kenaikan inflasi akhir September 2022 khususnya di DKI Jakarta dapat mencapai diatas 4 persen. Tingginya angka inflasi tersebut dipicu dengan adanya kenaikan harga energi dan pangan seperti bahan bakar minyak (BBM), gas elpiji, telur ayam dan harga gabah ditingkat petani yang kini mencapai Rp 5.700 per kilogram.

Untuk itu, Pemerintah, BI dan Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) telah melaksanakan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Endang Kurnia Saputra mengatakan, jika berbicara kenaikan harga beras, secara otomatis kondisi ini juga mengerek inflasi. Belum lagi kenaikan harga barang kebutuhan lainnya yang juga menjadi pemicu naiknya angka inflasi.

Pria yang akrab disapa Adang ini menjelaskan, kenaikan harga beras ini disebabkan karena terjadinya gagal panen diberbagai daerah sentra penghasil beras. Sedangkan untuk kenaikan harga energi memang saat ini masih dipengaruhi perang Rusia dan Ukraina.

“Untuk kenaikan harga beras, ada gagal panen yang diakibatkan kondisi cuaca, yakni banjir dan kondisi alam lainnya dan memang itu tidak dapat dihindari,” kata Adang, di Jakarta, Selasa (30/8/2022) malam.

Dia mengungkapkan, saat ini pukulan kenaikan harga bukan hanya terjadi karena adanya peningkatan permintaan (demand) tetapi juga karena adanya biaya peningkatan produksi (cost push).

“Kondisi ini yang sulit kita hindari untuk menekan inflasi sesuai target BI yakni 2-4 persen,” katanya.

Dengan demikian lanjut Adang, mekanisme ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga (KPSH) melalui operasi pasar hendaknya harus segera dilakukan pemerintah daerah. Sebab, jika menunggu hingga akhir September dikhawatirkan sangat sulit untuk membendung lanju inflasi.

Untuk menekan kenaikan harga pangan kata dia, BI sudah mengusulkan kepada penerintah untuk memberikan subsidi ongkos angkut dan membanjiri pasar dengan beras murah.

“Kalau bisa itu sudah dilakukan sejak awal September, agar momentumnya tetap dapat dan harga-harga tidak terlanjur naik,” katanya.

Namun demikian, adang mengatakan sampai dengan kuartal III September, BI memprediksi inflasi DKI Jakarta berada pada angka 3,81 persen. Tentunya angka itu masih di bawah target BI yakni 2-4 persen.