Biaya Lebih Efisien, Program PMDSU Hasilkan 547 Publikasi Bereputasi

0

JAKARTA (Suara Karya): Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang digagas Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti, Kemristekdikti dinilai makin efektif dan efisien. Karena dengan anggaran yang minimal, program tersebut menghasilkan cukup banyak publikasi ilmiah di jurnal bereputasi.

“Itu bisa terjadi karena setiap doktor program PMDSU rata-rata menulis lebih dari satu publikasi ilmiah,” kata Dirjen SDID Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti dalam acara penyambutan mahasiswa peserta program PMDSU Batch III di Jakarta, Selasa (15/10).

Acara yang dihadiri Menristekdikti Mohamad Nasir itu dibuka oleh Kepala Staf Kepresidenan, Jendral (Purn) Moeldoko.

Program PMDSU merupakan skema beasiswa percepatan studi pascasarjana (S-2+S-3) selama empat tahun masa studi di perguruan tinggi terbaik dalam negeri. Program itu merupakan terobosan baru yang dilakukan Kemristekdikti dalam melahirkan dosen dan peneliti unggul masa depan.

Pasalnya, lanjut Ali Ghufron, para peserta program PMDSU diproyeksikan akan menjadi doktor pada usia di bawah 30 tahun. Hal itu selaras dengan kebutuhan dosen muda yang diyakini dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan informasi.

“Kebutuhan dosen terbilang cukup tinggi, karena banyak dosen yang masuk masa pensiun. Lewat program percepatan ini, diharapkan proses regenerasi dosen bisa cepat. Apalagi jika kualitas mereka sesuai dengan kualifikasinya,” ucap Ali Ghufron.

Merujuk pada data Sister (Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi) per Oktober 2019 disebutkan jumlah dosen yang berusia di bawah 40 tahun sebanyak 104.470 dari total 253.214 dosen. Dari jumlah itu, 85 persen masih berkualifikasi magister. Sisanya 15 persen sudah doktor.

“Lewat skema program PMDSU, kami optimis para lulusannya dapat mengisi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) untuk kemajuan pendidikan tinggi Tanah Air,” ucapnya.

Dan yang tak kalah penting, menurut Ali Ghufron, biaya program PMDSU hanya satu per tiga dari biaya yang dibutuhkan jika mengirim mereka keluar negeri. Padahal, kualitasnya tak kalah dibanding lulusan luar negeri.

“Bahkan, mereka jauh lebih produktif. Ada satu lulusan yang menerbitkan lebih dari lima publikasi internasional. Ada beberapa yang punya 22 publikasi ilmiah. Mereka bisa menjadi aset untuk pembangunan SDM di Tanah Air,” katanya.

Program PMDSU mendapat apresiasi Menristekdikti Mohamad Nasir karena berhasil menyumbang cukup banyak publikasi internasional. Tercatat, hingga 9 September 2019, ada 547 publikasi telah dihasilkan dari 211 mahasiswa PMDSU dan 133 promotor.

Pada program PMDSU Batch III, publikasi terbanyak sementara diraih Alexander Patera Nugraha dari Universitas Airlangga (Unair) dengan 22 publikasi. Kemudian ada Putri Cahaya Situmorang dari Universitas Sumatera Utara (USU), R Joko Kuncoro dan Suhailah dari Unair dengan jumlah publikasi masing-masing 5 dokumen.

“Para mahasiswa PMDSU ini adalah anak-anak bangsa yang bertalenta. Kami akan melakukan beragam program terobosan lain untuk mencari talenta anak banga yang terbaik,” kata Menteri Nasir menegaskan.

Nasir berharap mahasiswa PMDSU menjadi insan yang berkarakter dan membekali diri dengan wawasan kebangsaan. Baginya, lulusan PMDSU tak sekadar menjadi doktor, tetapi harus memiliki karakteristik khas Indonesia yang mampu melihat potensi keunggulan untuk kemajuan negeri.

“Bukan tidak mungkin 10 atau 20 tahun ke depan kalianlah yang akan mengisi posisi-posisi strategis dan pembuat kebijakan di negeri ini,” kata Guru Besar Universitas Diponegoro itu.

Kepala Staf Kepresidenan, Jendral (Purn) Moeldoko mengatakan, seorang ilmuwan wajib memiliki jiwa kepemimpinan. Ia pun berbagi tips dan trik untuk menjadi SDM berkualitas. Disebutkan, 10 karakteristik yang wajib dimiliki pemimpin muda yaitu mau mendengarkan, jujur, cerdas, tegas, inovatif, kerja keras, disiplin, tanggung jawab, pantang menyerah dan taat beribadah.

Moeldoko kemudian memberi contoh bagaimana Korea Selatan dan Singapura bisa menjadi negara maju dengan tingkat ekonomi yang baik. “Saya percaya pendidikan adalah salah satu hal yang dibutuhkan untuk mengubah nasib seseorang atau negara,” ucapnya. (Tri Wahyuni)