Bingung Soal Ejaan, Yuk Cari di Aplikasi Kebahasaan EYD!

0

JAKARTA (Suara Karya): Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) meluncurkan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V dalam bentuk aplikasi web, agar mudah diakses masyarakat.

“Untuk kemudahan akses dan keluasan jangkauan, EYD Edisi V terbaru diterbitkan dalam bentuk aplikasi web yang dapat diakses melalui laman ejaan.kemdikbud.go.id,” kata Kepala Badan Bahasa Kemdikbudristek, E. Aminudin Aziz disela acara peluncuran tersebut, di Jakarta, Kamis (18/8/22).

Aminudin menjelaskan, peluncuran EYD Edisi V menandakan perkembangan bahasa Indonesia makin pesat. Hal itu tentunya berpengaruh pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang akan dimutakhirkan dua kali dalam setahun, yakni pada akhir April dan akhir Oktober.

“Penyesuaian pada KBBI terus berjalan hingga akhir Oktober, sehingga semua penyempurnaan EYD terakomodasi dalam sistem,” tuturnya.

Pedoman ejaan edisi kelima kembali menggunakan nama EYD, karena nama tersebut sudah melekat lama di benak masyarakat penutur bahasa Indonesia. Sebelumnya, yaitu edisi keempat, ejaan itu dikenal dengan nama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

“Jika dilihat sejarahnya, sejak pertama kali diresmikan pada 1972, ejaan itu telah menggunakan nama EYD. Di edisi kedua (1987) dan edisi ketiga (2009), ejaan itu mendapat tambahan frasa pedoman umum dan berganti nama menjadi Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD),” ujarnya.

Pada EYD Edisi V terbaru, memiliki sejumlah perubahan pada penambahan kaidah baru dan perubahan pada kaidah yang telah ada. Selain ada perubahan pada redaksi, contoh, dan tata cara penyajian. Perubahan itu secara keseluruhan mencapai lebih dari 50 persen.

Agenda besar lainnya yang dilakukan Badan Bahasa adalah Kongres Bahasa Indonesia (KBI) XII. Kongres yang digelar pada 2023 itu berslogan “Adibasa, Adiwangsa” yang diwujudkan dalam tema “Literasi dalam Kebinekaan untuk Kemajuan Bangsa”.

Tema KBI XII mengandung makna penguatan literasi baca tulis perlu ditumbuhkan dari kesadaran tentang kebinekaan yang menjadi fakta keindonesiaan yang meliputi adat istiadat, suku bangsa, bahasa, dan agama.

“Untuk mengembangkan potensi bahasa Indonesia, tahun depan ada isu penting yang kita bahas dalam KBI. Hasil rekomendasi diberikan kepada Presiden, agar memberi kewenangan kepada pihak terkait untuk menindaklanjuti upaya penyelamatan bahasa daerah,” ujar Kepala Badan Bahasa.

Tema KBI dikembangkan tiga subtema yang selaras dengan tiga program prioritas Badan Bahasa, yaitu Revitalisasi Bahasa dan Sastra Daerah; Literasi Bahasa dan Sastra Indonesia; dan Penginternasionalan Bahasa Indonesia yang bermuara pada peningkatan literasi bahasa dan sastra daerah dan literasi bahasa dan sastra Indonesia.

“Kesadaran tentang keberadaan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing dengan memperhatikan kedudukan dan fungsi bahasa-bahasa tersebut dapat membentuk jati diri yang kuat dan daya saing yang unggul demi memajukan bangsa dan negara Indonesia,” kata Aminudin Aziz.

Karen itu, logo KBI XII melambangkan tiga program unggulan Badan Bahasa, yaitu Revitalisasi Bahasa Daerah, Literasi Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Penginternasionalan Bahasa Indonesia. “Ketiga program itulah yang jadi payung besar bagi kerja-kerja kebahasaan dan kesastraan yang dipumpunkan pada peningkatan literasi,” ucapnya. (Tri Wahyuni)