BIPA Kini Digelar di 38 Negara, Bahasa Indonesia Makin ‘Go Internasional’

0

JAKARTA (Suara Karya): Bahasa Indonesia tampaknya makin digandrungi warga asing. Hal itu terlihat dari jumlah pemelajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) yang tahun ini mencapai 10.730 orang, yang tersebar di 38 negara.

“Bandingkan kelas BIPA tahun lalu, yang diikuti 8.854 pemelajar di 23 negara,” kata
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbudristek, Endang Aminudin Aziz dalam taklimat media di Jakarta, Selasa (28/12/21).

Aminudin menjelaskan, program BIPA untuk luar negeri dari segi kebijakan tahun ini dilaksanakan melalui 3 skema, yaitu pengiriman pengajar dari Indonesia, penugasan tenaga pengajar lokal dan pembelajaran jarak jauh secara daring.

“Tahun 2021, pelaksanaan BIPA lebih banyak menggunakan guru yang menjadi mitra kami baik di Indonesia maupun luar negeri. Para diaspora Indonesia memberi dukungan yang luar biasa. Program tersebut juga difasilitasi KBRI, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI),” ujarnya.

Perbedaan BIPA pada bahan ajar. Tahun lalu, bahan ajar BIPA diproduksi di Indonesia, lalu dikirim ke luar negeri. Tahun ini, Badan Bahasa melibatkan komunitas lokal untuk masuk menjadi penyusun bahan ajar BIPA. “Sekarang bahan ajar BIPA lebih kontekstual,” ucapnya.

Terkait Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), yang saat ini digelar daring mendapat sambutan luar biasa. Hal itu terlihat pada jumlah pendaftar tahun ini yang mencapai 166 ribu orang. Sedangkan tahun sebelumnya hanya 62 ribu orang.

“UKBI Adaptif yang diluncurkan pada 2021 ini, sebenarnya pengembangan UKBI 2019. Prosesnya jadi lebih mudah dan cepat, kareba mulai dari pendaftaran, ujian dan penilaian dilakukan daring. Pada setiap tingkatan/level, jenis soal antar setiap peserta pun berbeda,” tuturnya.

Keistimewaan lainnya adalah sertifikat UKBI bisa diterima minimal 1 minggu setelah ujian. Karena itu, tak heran jika peserta UKBI meningkat signifikan setelah metode baru diterapkan.

Terobosan lain yang dilakukan Badan Bahasa adalah peluncuran Aplikasi Penyuntingan Ejaan Bahasa Indonesia (Sipebi). Aplikasi itu bersifat luring mudah alih (portable) yang berfungsi untuk melakukan perbaikan/penyuntingan teks bahasa Indonesia secara otomasi.

“Tingkat kesalahan paling tinggi ada pada pengunaan kata di untuk imbuhan. Menjadi tantangan tersendiri bagi kami, bukan hanya urusan ejaan tapi juga tata bahasa,” ujarnya.

Sipebi secara resmi diluncurkan pada 28 Oktober 2021 lalu. Sebagai karya perdana dalam hal pemeriksaan ejaan, Sipebi masih dalam tahap pengembangan sehingga dianggap memiliki banyak keterbatasan.

“Badan Bahasa menerima masukan dan saran dari masyarakat pengguna Sipebi untuk penyempurnaan produk di masa depan,” tuturnya.

Dalam mendukung Gerakan Literasi Nasional (GLN), Badan Bahasa melakukan kegiatan Praktik Baik Literasi bagi Generasi Muda dan Pembinaan Komunitas Literasi. Kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan budaya literasi, khususnya minat baca buku nonteks pelajaran dan minat menulis di kalangan generasi muda.

Kegiatan itu dilakukan di 5 kabupaten yakni, Kabupaten Banjar, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Tanahlaut.

Untuk meningkatkan kualitas bahan ajar, Badan Bahasa mengundang penulis profesional yang punya minat menulis literasi melalui sayembara. Dari 800 pendaftar, terpilih 75 judul buku yang akan dicetak tahun depan, lalu dibagikan ke jenjang PAUD dan SD di wilayah 3T.

“Tahun ini kami juga menerjemahkan sejumlah buku teks bahan bacaan anak hingga 1.375 judul cerita anak dan 350 judul buku cerita berbahasa daerah. Ini kami jadikan bahan pengayaan literasi. Karena literasi harus dibiasakan sejak dini,” ujarnya.

Untuk wilayah perkotaan, Badan Bahasa menyiapkan dalam bentuk arsip lunak (soft file) sehingga bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

“Kami juga melakukan penerjemahan dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia. Agar penulis bahasa daerah dari Sabang sampai Merauke bergairah untuk menulis. Ada 350 judul buku yang diterjemahkan. Semoga tahun depan bisa lebih banyak lagi,” katanya.

Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga makin diminati masyarakat. KBBI setiap harinya diakses hingga 142.331.621 kali. “Kami lihat KBBI makin popular. Ini hasil kerja keras tim di bawah Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan ahli leksikografi andal yang dikembangkan bersama,” kata Aminudin.

Ditambahkan, KBBI telah melewati dua kali pemutakhiran pada April dan Oktober 2021. Ada 2.035 lema baru yang ditambahkan ke dalam KBBI daring.

Kegiatan penting lain yang dilakukan Badan Bahasa pada 2021 adalah Festival Tunas Bahasa Ibu untuk revitalisasi bahasa dan sastra daerah yang diujicobakan di 3 provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.

“Ada 5 Bahasa daerah yang direvitalisasi, yaitu bahasa Sunda, Jawa, Makassar, Bugis dan Toraja,” ujarnya.

Mitra yang berpartisipasi dalam festival, antara lain dinas pendidikan, organisasi, PTN, PTS, komunitas, budayawan, sastrawan, akademisi, serta seniman. Guru dan siswa menjadi mitra terpenting dalam revitalisasi bahasa dan sastra berbasis sekolah.

Festival Tunas Bahasa Ibu 2021 menghasilkan pedoman untuk penyelenggaraan revitalisasi bahasa dan sastra daerah pada tahun 2022 yang mencakup isu global pelindungan bahasa dan sastra daerah; dan situasi kebahasaan di Indonesia

Selain itu masih ada tantangan pelindungan bahasa dan sastra daerah; praktik pelindungan bahasa dan sastra selama ini (termasuk adanya FTBI sebagai salah satu praktik baik); pendekatan baru pelindungan bahasa dan sastra daerah; dan contoh materi pembelajaran. (Tri Wahyuni)