Blok Rokan di Tangan Pertamina Bisa Ciptakan Efek Domino

0

JAKARTA (Suara Karya): Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyambut positif langkah Pertamina yang akan mengambil alih pengelolaan Blok Rokan pada 2021. Pasalnya, menurut Fabby, hal ini bisa membawa efek domino yang positif bagi masyarakat Riau. 

Selain manfaat ekonomi, kata Fabby, berbagai sektor lain juga akan terimbas positif, seperti pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

“Sebagai industri ekstraktif dengan kapital besar seperti migas, memang bisa menciptakan multiplier effect,” kata Fabby, kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (19/3/2020).

Contoh paling sederhana, lanjut dia, para pekerja Pertamina di Blok Rokan akan membelanjakan gajinya untuk barang dan jasa di lokasi sekitar atau di ibu kota.

Selain itu, Fabby menambahkan, terdapat aktivitas bisnis dari mata rantai produksi migas yang melahirkan permintaan barang dan jasa yang lebih tinggi sehingga akan menumbuhkan industri lain seperti restoran, hotel/penginapan dan jasa-jasa lain.

Dari sisi ekonomi, ujarnya tidak hanya masyarakat merasakan manfaat, namun juga Pemda setempat.

“Pemda akan mendapat dana bagi hasil dan dapat pajak-pajak daerah dan masyarakat menerima bantuan CSR serta kesempatan kerja. Sebagai BUMN, Pertamina bahkan bisa memberikan lebih kepada masyarakat lewat program-program tambahan,” lanjut Fabby.

Terkait CSR, Fabby yakin bahwa Pertamina sudah memiliki berbagai program unggulan yang akan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Termasuk bidang pendidikan anak, pembangunan infrastruktur dasar dan peningkatan sanitasi, pengelolaan lingkungan, serta pendampingan pada usaha kecil dan UMKM,” tegasnya.

Di sisi lain, Fabby merasa optimistis bahwa Pertamina mampu mengelola blok tersebut. Selain sudah berpengalaman, BUMN tersebut juga merupakan salah satu operator ladang minyak terbesar di Indonesia.

Hanya saja, kata dia, karena Rokan merupakan lapangan yang sudah mature dan melewati puncak produksi, Pertamina harus memastikan tingkat produksi optimal dan memperlambat laju penurunan (declining rate).

“Itu tantangan Pertamina. Untuk itu pula diperlukan investasi dalam bentuk eksplorasi sumur dan penggunaan teknologi EOR,” katanya lebih lanjut. (Pramuji)