BPBD Temanggung Distribusikan Air Bersih ke Empat Desa

0
BPBD Kabupaten Temanggung mendistribusikan air bersih di salah satu daerah kekeringan. (Antara)

TEMANGGUNG (Suara Karya): Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, di awal musim hujan ini masih mendistribusikan bantuan air bersih di empat desa.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi, di Temanggung, Senin (26/11/2018) menyebutkan empat desa tersebut, yakni Desa Kalimanggis Kecamatan Kaloran, Desa Tanggulanom Kecamatan Selopampang, Desa Wonotirto Kecamatan Bulu, dan Desa Gedekan Kecamatan Tlogomulyo.

“Memang saat ini telah memasuki musim hujan, namun empat desa tersebut masih memerlukan bantuan air bersih, karena sumber air di daerah tersebut belum bisa dimanfaatkan,” katanya.

Ia mengatakan pada akhir November nanti akan dilakukan evaluasi, kalau memang daerah tersebut nantinya tidak lagi memerluakan distribusi air bersih maka bantuan akan dihentikan seperti daerah lainnya.

Gito mengatakan sebelumnya pada musim kemarau tahun ini pihaknya mendistribusikan air bersih ke 82 dusun di 30 desa yang tersebar di 12 kecamatan, antara lain Kaloran, Kandangan, Kranggan, Pringsurat, Selopampang, Bulu, Tlogomulyo, Gemawang, dan Candiroto.

Dia mengatakan BPBD Temanggung telah mendistribusikan air bersih ke daerah kekeringan sejak 17 Juni 2018 dengan menggunakan mobil tangki milik BPBD, Dinas Sosial, PDAM, DPU, dan PMI.

“Meskipun belum dapat menyebutkan jumlah keseluruhan air bersih yang telah didistribusikan, dia menuturkan sejak awal dimulainya dropping air bersih BPBD melakukan distribusi air bersih rata-rata 16 tangki setiap hari,” ujarnnya.

Ia mengatakan anggaran yang digunakan bersumber dari APBD murni Kabupaten Temanggung, bantuan pihak swasta, dan APBD Perubahan Kabupaten Temanggung 2018.

“Sejak 11 Oktober 2018 kami menggunakan dana APBD perubahan senilai Rp150 juta atau setara untuk menyalurkan 600 tangki,” katanya.

Menurut dia, musim kemarau tahun ini cukup ekstrem, berbeda dengan tahun 2016 dan 2017 yang kondisinya kemarau basah sehingga tidak banyak daerah yang memerlukan bantuan air bersih. (Anggoro Oetomo)