BPJS Kesehatan Gelar Senam Sehat Kolosal di Lapangan Monas

0
Wapres Jusuf Kalla didampingi istri dan Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris melakukan senam anti dibetes. Kegiatan senam kolosal ini bagian dari kegiatan promotif dan preventif yang digencarkan untuk membangun budaya hidup sehat. (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menggelar senam sehat kolosal di lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Minggu (29/7). Acara yang dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla itu diikuti 18.818 peserta program JKN-KIS se-Jabodetabek.

Wapres Jusuf Kalla meminta pada peserta yang hadir untuk membiasakan gaya hidup sehat. Sehingga tubuh tidak mudah terserang penyakit. “Ini akan menguntungkan tak saja individunya, tapi juga pemerintah. Karena biaya kesehatan semakin berkurang,” ujarnya.

Dana yang ada, lanjut Jusuf Kalla, dapat dipergunakan untuk membangun manusia Indonesia yang lebih berkualitas. Karena tak hanya sehat fisik, tetapi juga memiliki kecerdasan otak.

“Upaya ini tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, tapi juga didukung masyarakatnya. Ayo mulai dari sekarang perbanyak aktivitas fisik, bisa berupa jalan pagi, senam ringan atau berkebun agar tubuh aktif dan sehat,” kata Wapres menegaskan.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris mengatakan, kegiatan senam kolosal tak hanya diikuti peserta di Monas, tetapi juga serentak di Kantor Cabang BPJS Kesehatan seluruh Indonesia. Pembiasaan olahraga dan gaya hidup sehat itu akan berdampak pada penurunan jumlah penderita penyakit katastropik di Indonesia.

“Penyakit katastropik seperti jantung koroner, stroke dan diabetes disebabkan gaya hidup tak sehat dan minim olahraga. Penyakit itu bisa dicegah lewat perubahan perilaku. Mari kita dukung bersama-sama,” ucap Fachmi.

Menurut Fachmi, pada 2017, biaya yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk penyakit katastropik telah mencapai Rp 18,4 triliun atau 21,8 persen dari total biaya pelayanan kesehatan. Karena itu, BPJS Kesehatan akan melakukan sejumlah kegiatan yang bersifat promotif dan preventif.

“Semua Puskesmas kini memiliki kelompok masyarakat yang berisiko menderita penyakit katastropik seperti diabetes melitus dan hipertensi melalui program yang disebut Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis),” tuturnya.

Disebutkan hingga 20 Juli 2018, ada 199,8 juta jiwa penduduk Indonesia telah menjadi peserta JKN-KIS. Dalam memberi layanan kesehatan, BPJS Kesehatan bekerja sama dengan 22.322 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 2.406 rumah sakit dan klinik utama, 1.599 apotek, dan 1.078 optik. (Tri Wahyuni)