BPJS Kesehatan Gelar Uji Coba Sistem Rujukan Online di 20 Ribu Faskes

0

JAKARTA (Suara Karya): Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akan menggelar uji coba sistem rujukan online pada 15 Agustus hingga 30 September 2018. Upaya itu untuk memudahkan pasien mendapat layanan rumah sakit sesuai kebutuhan.

“Jadi tak ada lagi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu. Pasien dirujuk ke rumah sakit sesuai kebutuhannya,” kata Deputi Direksi Bidang Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Arief Syaefuddin, di Jakarta, Selasa (14/8).

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi dan Deputi Direksi Bidang Jaminan Pelayanan Kesehatan Rujukan, BPJS Kesehatan, Budi Mohamad Arief.

Arief menjelaskan, sistem rujukan online sebetulnya sudah dipersiapkan sejak lama. Namun implementasinya, hal itu sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur masing-masing fasilitas kesehatan.

“Saat ini tinggal 6 persen saja dari total fasilitas kesehatan tahap pertama (FKTP) dan 6 rumah sakit di seluruh Indonesia yang belum terkoneksi internet di daerahnya. Pelayanan tetap diberikan secara manual hingga ada jaringan internet,” ujarnya.

Ditambahkan, sistem rujukan online merupakan digitalisasi proses rujukan berjenjang untuk kemudahan dan kepastian peserta dalam mendapat layanan di rumah sakit. Kondisinya disesuaikan dengan kompetensi, jarak dan kapasitas rumah sakit berdasarkan kebutuhan medis pasien.

“Prosedur rujukan online pada dasarnya sama dengan rujukan manual, tetapi prosesnya menggunakan teknologi,” ujar Arief seraya menambahkan uji coba dilakukan di 20.906 fasilitas kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Arief menyebut nilai plus dari rujukan online adalah bersifat real time dari FKTP ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) serta penggunaan digital documentation. Data dari P-Care di FKTP langsung terkoneksi ke FKRTL sehingga memudahkan analisis data calon pasien.

“Dalam sistem rujukan online, sedikit sekali penggunaan kertas (paperless). Jadi meminimalisir kemungkinan kendala yang terjadi akibat pasien lupa membawa surat rujukan,” tuturnya.

Dijelaskan, lewar sistem rujukan online, peserta JKN tidak perlu khawatir jika kehilangan atau lupa membawa surat rujukan karena informasi rujukan peserta sudah terekam dalam sistem online, baik di FKTP maupun di rumah sakit. Peserta cukup menunjukkan kartu JKN, maka bisa dilayani di FKTP dan FKRTL tempatnya dirujuk.

Kedua, lanjut Arief, data peserta sudah tercatat di database antar fasilitas kesehatan, sehingga pelayanan peserta JKN pun menjadi lebih cepat. Mengingat data tidak perlu di-input ulang pada saat pendaftaran, termasuk data diagnosa penyakit yang diderita peserta.

Peserta JKN juga mendapat kepastian rujukan ke fasilitas kesehatan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan medis peserta yang bersangkutan,” katanya.

Disebut jumlah FKTP yang telah bergabung dengan BPJS Kesehatan hingga 31 Juli 2018, tercatat ada 22.367 FKT yang terdaftar. Dari angka itu, sebanyak 20.906 FKTP sudah terhubung jaringan komunikasi, sehingga bisa menerapkan sistem rujukan online.

Terkait layanan baru BPJS Kesehatan, Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mendukung hal itu. Karena bisa mempermudah pasien dalam mendapat layanan kesehatan. “Kami hanya minta ada kolom aduan bagi masyarakat. Hal itu sebagai fungsi kontrol,” ucapnya.

Arief menjelaskakan, pihanya membuka kolom aduan bagi pasien yang ingin berkomentar. Bahkan pasien yang tidak puas atas layanan rumah sakit bisa memberi bintang 1-5 seperti pada aplikasi ojek online.

“Kami akan putuskan kontrak kerja sama dengan rumah sakit yang dapat bintang 2 kebawah. Kami juga perhatikan komen-komen yang tidak puas,” kata Arief menandaskan. (Tri Wahyuni)