‘BPOM Goes to Campus’ Bantu Milenial Kenali Kosmetika Berbahaya

0

JAKARTA (Suara Karya): Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) meluncurkan program ‘BPOM Goes to Campus’, yang diharapkan membantu milenial mengenali kosmetika, suplemen dan obat tradisional berbahaya. Karena tiga komoditi tersebut menjadi komoditi yang digandrungi milenial.

“Tingginya permintaan tiga komoditi itu, ternyata dimanfaatkan oknum dengan mengaplikasi obat tradisional dan kosmetika yang tidak memenuhi standar keamanan, mutu dan manfaat,” kata Kepala BPOM, Penny K Lukito dalam acara peluncuran ‘BPOM Goes to Campus’, di Jakarta, Selasa (2/3/2021).

Hal itu, lanjut Penny, promosi obat tradisional dengan diklaim dapat menyembuhkan penderita corona virus disease (covid-19). “Lewat program pemberdayaan konsumen mahasiswa, diharapkan mereka dapat memilih dan menggunakan produk obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetika yang aman dan bermutu,” ucapnya.

Ditambahkan, selain kegiatan edukasi ke mahasiswa, program tersebut juga akan memilih duta atau juru bicara dari kalangan muda yang akan masuk ke ‘peer group’ atau kelompok sesama usia dengan memanfaatkan teknologi informasi.

“Peningkatan penggunaan sosial media selama pandemi, berdampak pada derasnya arus informasi, termasuk berita-berita hoaks tentang obat tradisional dan kosmetika. Generasi milenial menjadi sasaran utama, karena mereka rentan terpapar berita hoaks tersebut,” tutur Penny.

Peluncuran program tersebut digelar bersamaan dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) secara luring bersama lintas sektor strategis, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Pramuka dan Yayasan Putri Indonesia.

“Lewat FGD ini, juga disepakati komitmen bersama untuk berpartisipasi dalam menyukseskan pelaksanaan ‘BPOM Goes to Campus’. Jika ini berhasil, program akan dikembangkan ke sekolah, melalui program ‘BPOM Goes to School’,” ujarnya.

Karena itu, Penny menambahkan, Kemdikbud nantinya mendorong tiap satuan pendidikan, baik jenjang pendidikan tinggi maupun pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen) untuk menggelar kegiatan edukasi tentang kosmetika dan obat tradisional yang aman.

“Duta Kosmetik Aman dan Duta Jamu Aman akan memberi pengaruh ke komunitasnya dalam memilih obat tradisional dan kosmetika yang aman. Program tersebut masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler di bidang pemberdayaan mahasiswa dan siswa,” katanya.

Begitu pun Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Organisasi tersebut akan mendorong anggotanya untuk mewujudkan Duta Kosmetika dan Jamu Aman di setiap kwartir. Yayasan Puteri Indonesia membantu para duta mendalami pengetahuan dan praktik penggunaan kosmetika yang benar dan tepat, selain melatih berbicara di depan publik dan teknik komunikasi.

“Dengan demikian, para duta bisa menjadi icon yang menarik dan komunikatif. Sehingga komunitas tertarik dan mau mendengarkan penjelasan dari para duta,” ucap Penny menandaskan. (Tri Wahyuni)