Bulog Gelontorkan 200 Ton Beras untuk Korban Gempa dan Tsunami

0
Dokumen foto Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mempromosikan beras renceng ukuran 200 gram. (bulog.co.id)

JAKARTA (Suara Karya): Perum Bulog menggelontorkan 200 ton cadangan beras pemerintah (CBP) untuk korban gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan sekitarnya. Ini untuk memenuhi kebutuhan tanggap darurat seperti bencana alam dan rawan pangan.

“Bila pemerintah merasa CBP yang digelontorkan kurang, Bulog siap menambah CBP sesuai permintaan. Di samping itu, Bulog juga menyediakan kebutuhan pangan pokok lainnya yang dibutuhkan masyarakat seperti daging beku, gula pasir, tepung terigu, dan minyak goreng,” kata Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, melalui siran persnya yang diterima suarakarya.co.id di Jakarta, Senin (1/10).

Selain menyalurkan bantuan melalui CBP, Budi mengungkapkan melalui program “Bulog Peduli” siap menyalurkan bantuan awal kepada korban gempa berupa daging senilai 250 juta rupiah, sembako dan kebutuhan sandang lainnya. Bantuan tersebut dari dana program Corporate Social Responsibility (CSR) Bulog sebagai bentuk kepedulian kepada mesyarakat terdampak gempa dan tsunami yang sangat membutuhkan bantuan.

“Bulog Peduli juga siap mengerahkan bantuan tim kemanusiaan untuk membantu merehabilitasi psikologis dampak korban gempa,” ujarnya.

Untuk diketahui, Gudang Bulog di Sulteng ada beberapa yang mengalami kerusakan namun tidak signifikan seperti tembok yang retak dan pagar yang roboh.

Budi menambahkan, saat ini stok beras yang tersedia di Sulteng sekitar 12 – 13 ribu ton, aman untuk ketahanan stok beberapa bulan kedepan sehingga tidak ada perlu kekhawatiran masyarakat dan pemerintah daerah.

“Stok beras Bulog secara nasional lebih dari 2 juta ton, gudang-gudang Bulog di seluruh Indonesia siap menyalurkan stok tersebut bila sewaktu-waktu dibutuhkan pemerintah baik untuk bencana alam maupun untuk stabilisasi harga,” ujarnya.

Dengan stok yang cukup besar kata Budi, artinya Bulog siap menjaga tiga pilar ketahanan pangan nasional yakni pilar ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilisasi. (Rizal Cahyono)