Buntut dari Gaya Hidup Tak Sehat, Sperma Pria di Jakarta Kian Susut

0

JAKARTA (Suara Karya): Buntut dari gaya hidup yang tidak sehat, kualitas sperma pria di Jakarta semakin rendah. Jumlah embrionya kebanyakan dibawah 15 juta per mililiter.

Hal itu dikemukakan Direktur Scientific Morula IVF Indonesia, Prof Arief Boediono PhD usai meresmikan Ruang Operasi (OK) dan Laboratorium Embrio di Morula IVF Ciputat, di Ciputat Tangerang Selatan, Jumat (11/11/22).

Hadir dalam kesempatan yang sama Direktur Medis Morula IVF Indonesia, dr Arie A Polim; Direktur RSIB Bunda Ciputat, dr Siti Muliana; dan tim dokter Morula IVF yaitu dr Ivander Utama dan dr Diah Sartika Sari.

Meski jumlah embrio sedikit, lanjut Prof Arief, tak perlu khawatir. Berkat teknologi kedokteran yang makin canggih, kendala semacam itu bisa diatasi.

“Teknologi PGTA dan PGTM yang dikembangkan Morula IVF mampu memilah dan memilih embrio yang kromosom di dalamnya kualitas super,” ucapnya.

Dijelaskan, teknologi PGT-A atau Pre-Implamantation Genetic Testing for Aneuploidy dapat mendeteksi kromosom kualitas terbaik dalam embrio.

Sedangkan PGT-M atau Pre Implantation Genetic Testing for Monogenic/single-gene defect adalah teknologi yang dapat mendeteksi embrio dengan penyakit bawaan dari orangtuanya seperti thalassemia, spinal muscular atropy, cystic fibrosis dan penyakit genetik lainnya.

Prof Arief menegaskan, teknologi PGT-A perlu bagi pasangan yang sudah ikut program bayi tabung berulang kali tapi tak kunjung hamil, pasangan dengan riwayat keguguran berulang, pasangan dengan riwayat kelainan bawaan pada kehamilan sebelumnya, dan pasangan berusia di atas 38 tahun.

“Penyebab kasus kemandulan (infertilitas) di Indonesia hingga saat ini masih menyudutkan istri sebagai pihak yang bermasalah. Padahal, 30 persen kasus fertilitas juga ditentukan oleh kualitas embrio dari suami,” ujarnya.

Ditambahkan, penyebab kasus fertilitas itu beragam. Pengalaman menunjukkan sekitar 30 persen berasal dari istri, 30 persen dari suami, 30 persen dari suami dan istri dan 10 persen karena faktor yang tidak diketahui.

“Karena itu, penting bagi pasangan untuk memeriksakan diri ke dokter jika 1-2 tahun tak kunjung hamil setelah pernikahan. Karena indung telur pada perempuan juga punya batas waktu,” katanya.

Jika masalah infertilitas karena faktor embrio, lanjut Prof Arief, Morula IVF Indonesia memiliki teknologi yang dapat mendeteksi masalah kromosom pada embrio. Hal itu untuk mencegah terjadinya keguguran pada pasien ibu dan calon bayi tabung.

“Karena embrio yang dimasukkan ke dalam rahim merupakan kualitas terbaik maka tingkat keberhasilan hamil lebih tinggi dan bayi juga terhindar dari penyakit genetik,” ujarnya.

Prof Arie mengutip hasil studi yang dilakukan pada 2019 hingga September 2022 dengan target sasaran 500 pasien. Hasil teknologi PGT-A membantu potensi kehamilan sebesar 68 persen di kelompok umur 38-39 tahun dan 46 persen usia diatas 40 tahun.

Pada kelompok 38-39 tahun tersebut, persentase kehamilan dengan teknologi PGT-A lebih baik yaitu 25 persen dibanding kehamilan Non PGT-A. Usia 40 tahun ke atas, PGT-A membantu persentase kehamilan 19 persen lebih baik dari yang Non PGT-A.

Data lain mengungkapkan, pasien dalam rentang usia 36-44 tahun memiliki angka kromosom normal (euploid) yang jumlahnya lebih rendah dibandingkan kromosom tidak normal (aneuploid).

Hal itu menunjukkan, teknologi PGT-A harus direkomendasikan kepada pasien dalam kelompok usia 36-44 tahun dengan tujuan ‘healthy embryo is healthy baby’ bisa terpenuhi.

Ditanya jika embrio dari suami ternyata tidak ada yang bagus, Prof Arief mengatakan, proses seleksi terus dilakukan hingga diperoleh embrio yang berkualitas. Termasuk telur dari istri, dicari dengan kualitas terbaik.

“Mereka bisa menjalani treatment di Morula IVF agar menghasilkan embrio dan telur yang berkualitas, serta mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dan berkualitas,” katanya menandaskan.

Ditanya apakah ada pasien azosperma, Prof Arief menyatakan, ada pasien semacam itu. Cairan spermanya ada, tetapi tidak ada satupun embrio di dalamnya. Solusinya, dokter akan melakukan treatment langsung di ‘pabrik’nya yaitu di testis (buah zakar).

Kepada istri, lanjut Prof Arief, pihaknya akan melakukan treatment untuk mengambil indung telur lebih dari satu. Hal itu untuk berjaga-jaga jika prosedur pertama gagal.

“Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Meski semua prosedur sudah dianggap ideal untuk suami dan istri, ada faktor lain yang kita tidak tahu kenapa istri tak bisa hamil. Jumlahnya sekitar 10 persen dari kasus,” ujarnya.

Ditanya soal biaya program bayi tabung dasar, Direktur Medis Morula IVF Indonesia, dr Arie A Polim sebenarnya tidak terlalu mahal dibanding kebahagiaan dapat menggendong buah hati. Angkanya masih dibawah Rp100 juta.

“Biayanya tak sampai miliaran. Untuk teknologi PGTA dan PGTM dikenakan Rp15 juta per embrio. Kenapa mahal, karena teknologi yang dipakai canggih dan orang yang melakukan juga harus ahli,” ucapnya.

Ditambahkan, layanan tersebut sudah memperhitungkan efektivitas dari sisi biaya yang meliputi konsultasi, USG, cek laboratorium, analisa sperma, obat stimulasi, tindakan Ovum Pick Up (OPU), fasilitas Time Lapse/VIP Incubator, tindakan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) dan tindakan Embryo Transfer (ET).

“Kegagalan program bayi tabung terjadi karena sekitar 60-70 persen disebabkan karena kromosom yang tidak normal, terutama pada wanita usia di atas 38 tahun. Kerusakan kromosom bahkan bisa mencapai sekitar 75 persen,” kata dr Arie.

Direktur RSIA Bunda Ciputat, dr. Siti Muliana menyebut, rata-rata 30-40 pasien baru melakukan kunjungan untuk pemeriksaan fertilitas dan program kehamilan di Morula IVF Ciputat setiap bulannya.

“Dari jumlah itu, 50 persen di antaranya akan berlanjut hingga program hamil berbantu dengan IUI atau inseminasi hingga IVF atau program bayi tabung.

Siti Muliana berharap tersedianya ruang operasi dan laboratorium embriolog yang canggih di RSIA Bunda Ciputat akan menjadi pusat rujukan pelayanan bagi pasangan yang memiliki gangguan fertilitas, tidak hanya layanan rumah sakit untuk ibu dan anak.

“Dengan biaya 60juta-an, pasangan suami istri dapat menjalani program basic di Morula IVF Ciputat dengan layanan yang komprehensif,” kata Siti Muliana menandaskan. (Tri Wahyuni)