Butuh Perhatian Bersama, Masih Ada 6 Provinsi Belum Eliminasi Kusta!

0

JAKARTA (Suara Karya): Penyakit kusta hingga kini masih menjadi masalah kesehatan yang sangat kompleks di Indonesia. Ada 6 provinsi yang belum mencapai eliminasi kusta. Prevalensi kusta di 6 provinsi itu yaitu 1 per 10.000 penduduk.

“Penyakit kusta tergolong kompleks sehingga butuh perhatian semua pihak,” kata Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono saat membuka rangkaian peringatan Hari Kusta Sedunia di RSUP Sitanala Tangerang, Senin (31/1/22).

Ke-6 provinsi itu, disebutkan, Papua Barat, Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Gorontalo. Sementara di tingkat kabupaten atau kota, masih ada 101 kabupaten atau kota yang belum eliminasi kusta.

Secara global, Indonesia menjadi penyumbang kasus kusta nomor tiga di dunia setelah India dan Brazil. Pada 2021, ada 7.146 penderita kusta baru, dengan proporsi anak sebesar 11 persen (data per 24 Januari 2022).

Dante menambahkan, Kementerian Kesehatan menargetkan eliminasi kusta pada 2024. Namun, upaya eliminasi kusta di Tanah Air masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Salah satunya, adanya stigma dan diskriminasi terhadap keluarga dan penderita kusta.

Dampak dari stigma itu, pasien kusta tidak dapat melanjutkan pendidikan, sulit mendapat pekerjaan, diceraikan oleh pasangan, dikucilkan oleh lingkungan, ditolak di fasilitas umum bahkan fasilitas pelayanan kesehatan. Sehingga penderita semakin sulit dideteksi dan diobati.

“Deteksi dini dan pengobatan segera bagi penderita kusta sangat penting. Kecacatan akan terjadi jika gejala atau manifestasi kusta tidak diobati segera. Akibat lainnya, timbul permasalahan ekonomi dan stigmatisasi pada penderita serta keluarganya,” tutur Dante.

Wamenkes menekankan, upaya pengendalian kusta butuh perhatian bersama, terutama pada pencarian penderita kusta, serta pengobatan dini sebelum terjadinya kecacatan, di fasilitas pelayanan kesehatan.

Penderita kusta harus mendapat dukungan baik dari keluarga maupun lingkungan sosialnya. Hal ini untuk meningkatkan kepercayaan diri penyandang kusta, sehingga mereka bisa kembali berdaya, aktif dan produktif.

Kusta merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae). Gejala yang ditimbulkan berupa bercak putih dan merah, tidak ada rasa gatal dan sakit. Karenanya penderita kusta seringkali tidak menyadarinya. Padahal penyakit kusta berpotensi menimbulkan kecacatan apabila tidak segera diobati.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), Sri Linuwih Menaldi menyebut, stigma dan diskriminasi terhadap pasien kusta hingga kini masih berlanjut. Untuk itu, Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) yang memiliki disabilitas, baik itu mata, tangan dan kaki perlu diberdayakan agar kualitas hidup menjadi lebih baik.

“Pasien kusta tidak hanya sakit fisiknya, mentalnya juga sakit. Jadi mereka perlu diberdayakan untuk mengikis stigma tersebut,” ujarnya.

Upaya eliminasi, menurut Sri Linuwih, butuh dukungan dari seluruh stakeholders dan seluruh lapisan masyarakat, termasuk OYPMK. (Tri Wahyuni)