CABG, Solusi Terkini Atasi Jantung Koroner pada Pasien dengan Stent

0
Ketua Siloam Heart Institute (SHI), Maizul Anwar dalam diskusi media secara virtual, Jumat (12/6/20). (suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Rumah sakit Siloam Kebon Jeruk (Bonjer) kini mampu melaksanakan operasi jantung koroner melalui prosedur Coronary Artery Bypass Graft (CABG). Operasi ini menjadi solusi bagi pasien jantung koroner yang tak bisa diatasi dengan obat-obatan atau sudah dipasang stent.

“CABG adalah sebuah prosedur tindakan bedah dengan membuat pembuluh darah baru. Di dunia kedokteran, prosedur ini disebut bypass pada penyakit jantung koroner,” kata Ketua Siloam Heart Institute (SHI), Maizul Anwar dalam diskusi media secara virtual, Jumat (12/6/20).

Dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular itu menjelaskan, pembuluh darah baru itu nantinya akan melintasi pembuluh darah jantung yang menyempit. Pembuluh darah baru diambil dari bagian tubuh lain, seperti arteri di dada, lengan dan pembuluh vena dari kaki.

“Tindakan CABG dilakukan dengan dua teknik, yaitu menggunakan mesin jantung paru konvensional (on pump) atau tanpa menggunakan mesin jantung paru (off pump),” katanya.

Ditambahkan, penyakit jantung harus mendapat perhatian karena hingga kini masih menjadi faktor penyebab nomor satu kematian di dunia. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah setiap harinya.

Sementara Kementerian Kesehatan mencatat ada 1,5 persen atau 15 dari 1.000 penduduk Indonesia terkena penyakit jantung koroner. “Penyakit jantung yang paling umum terjadi adalah jantung koroner,” ujarnya.

Ditambahkan, kasus jantung koroner biasa dialami mulai usia produktif, yaitu termuda 31 tahun hingga 85 tahun. Untuk kasus usia di bawah 50 tahun, kejadian itu berhubungan erat dengan gaya hidup, seperti pola makan yang kurang baik, merokok, malas olahraga, hipertensi serta stres yang tinggi.

Selain itu, penyakit jantung koroner juga dapat terjadi karena hiperkolesterolemia atau gula darah tinggi karena pola makan yang tidak sehat.

Ditanya apakah memungkinkan operasi di masa pandemi, Maizul mengatakan, sangat memungkinkan. Apalagi RS Siloam Bonjer selama ini telah menjalankan protokol kesehatan untuk covid-19 bagi pasien maupun tenaga medis untuk keamanan dan kesehatan bersama.

“Pasien akan menjalani skrining kesehatan sebelum operasi. Pertama, pasien harus rapid test. Jika hasilnya negatif, maka pasien bisa dijadwalkan untuk operasi,” ujarnya.

Tetapi jika hasil rapid test positif, pasien harus menjalani pemeriksaan swab. Jika hasilnya positif, maka operasi akan ditunda hingga pasien dinyatakan terbebas dari covid-19. “Semua itu dilakukan untuk kepentingan bersama. Karena tak hanya pasien yang ingin sehat, petugas medisnya pun sama,” kata Maizul menandaskan. (Tri Wahyuni)