Cara Mudah Deteksi Dini Skoliosis, Suruh Anak Sesekali Telanjang!

0

JAKARTA (Suara Karya): Penyakit tulang bengkok (skoliosis) pada anak bisa diobati tanpa menimbulkan kecacatan jika sudut tekukan masih dibawah 30 derajat. Untuk itu, pentingnya orangtua melakukan deteksi dini saat anak berusia diatas 10 tahun.

“Caranya mudah, suruh anak menghadap ke tembok kamar dengan bertelanjang dada. Perhatikan apakah bahu, pinggang maupun panggulnya sejajar antara kiri dan kanan. Jika tidak, itu pertanda skoliosis,” kata dokter spesialis ortopedi, Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Phedy dalam diskusi media, di Jakarta, Rabu (30/10/19).

Dalam kesempatan itu, Phedy didampingi dokter spesialis rehabilitasi medis RS Siloam Kebon Jeruk, Tetty MD Hutabarat.

Phedy menjelaskan, kebanyakan kasus skoliosis dibawa ke dokter setelah kondisinya sudah parah. Kebengkokan tulangnya sudah mencapai lebih dari 70 persen. Jika dilakukan operasi sekalipun, kondisinya tidak bisa kembali normal.

“Kondisi ini sungguh disayangkan, mengingat kasus skoliosis banyak terjadi pada anak perempuan,” ujarnya.

Karena itu, lanjut dr Phedy, saat ini anak perempuan anak masuk usia 10 tahun dan 12 tahun untuk terus memantau punggungnya. Karena skoliosis bakal makin parah kondisinya saat anak mendapat menstruasi.

“Untuk anak laki-laki, saat mereka berusia 12-13 tahun. Semakin dini penyakit ditemukan, maka proses pengobatan jadi lebih mudah dan tak ada kecacatan,” katanya.

Dijelaskan, skoliosis adalah kelainan pada tulang belakang yang melengkung seperti huruf C atau S. Badan kesehatan dunia atau WHO mencatat, sekitar tiga persen warga dunia rentan terkena skoliosis. Di Indonesia, angkanya berkisar 3-5 persen dari total populasi.

Kelainan ini biasa ditemukan pada anak sebelum masa pubertas, yaitu pada usia
10-15 tahun. Jika dibiarkan, skoliosis dapat menghambat aktivitas sehari-
hari, bahkan membuat penderitanya mengalami gangguan jantung, paru-paru, atau kelemahan pada tungkai.

“Skoliosis di atas 70 derajat dapat menyebabkan gangguan fungsi paru-paru, sedangkan di atas 100 derajat dapat mengganggu fungsi jantung,” ucapnya.

Soal faktor penyebab, Phedy menyebut, sebagian besar kasus skoliosis tidak ditemukan penyebabnya (idiopatik). Namun, beberapa kondisi dapat memicu yaitu cedera tulang belakang, infeksi tulang belakang, bantalan dan sendi tulang belakang yang mulai aus akibat usia (skoliosis degeneratif), bawaan lahir (skoliosis kongenital) serta gangguan saraf dan otot (skoliosis neuromuskular) pada penyakit distrofi otot atau cerebral palsy.

Menurut Phedy, skoliosis makin parah jika dibiarkan atau ditangani dengan cara yang tidak tepat. Penanganan skoliosis tak harus dengan cara operasi. Pertama, pasien harus diobservasi dulu. Ini untuk pasien dengan lengkungan dibawah 30 derajat. Pasien diminta untuk melakukan latihan stretching untuk memperbaiki keseimbangan (imbalance) otot.

Pada pasien dengan sudut 30-40 derajat dan dalam kondisi pertumbuhan, lanjut Phedy akan dilakukan ortosis atau brace terlebih dulu. Brace adalah penggunaan rompi dari bahan fiber yang dapat menahan tulang agar kembali normal atau tidak bergeser.

“Kebanyakan pasien mengaku tidak tahan dengan brace. Karena mereka bergerak seperti robot. Apalagi alat tersebut dipakai lebih dari 13 jam per hari selama 2 tahun. Banyak pasien yang mengalami kegagalan, karena tak tahan pakai alat brace,” tuturnya.

Jika dua hal itu tidak bisa dilakukan, kata Phedy, baru dilakukan operasi. Terutama pada pasien dengan lengkungan tulang diatas 70 persen. Jika tidak, maka nyawa taruhannya. Karena tulang yang bengkok itu menekan organ jantung dan paru-paru. “Pasien mudah sesak nafas. Biasanya baru jalan 10 menit sudah kelelahan. Kondisi itu menganggu aktivitas,” ujarnya.

Ditambahkan, RS Siloam Kebon Jeruk memiliki klinik khusus untuk skoliosis yang disebut Sports, Shoulder, & Spine Clinic. Klinik itu untuk penanganan otot dan tulang yang berhubungan dengan cedera olah raga, kaki, pergelangan kaki, bahu dan tulang belakang.

“Penanganan cedera pada area itu, antara lain cedera ligamen, cedera bantalan sendi lutut, dislokasi sendi, maupun patah tulang. Pengobatan dilakukan lewat obat-obatan, fisioterapi, radiofrekuensi (prosedur untuk mengurangi nyeri dengan gelombang radio) hingga tindakan operasi. (Tri Wahyuni)