Cara Unik Rumah Berdaya Bali Tangani Orang dengan Gangguan Jiwa

0

Bali (Suara Karya): Rumah Berdaya punya cara unik dalam menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Mereka mengembangkan sejumlah kegiatan seni yang berhasil memutus mata rantai kekambuhan.

Kehadiran Rumah Berdaya disambut Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek saat berkunjung ke Rumah Berdaya, di kota Denpasar Bali, Rabu (24/4/2019).

Ia berharap model Rumah Berdaya bisa dikembangkan ke seluruh Indonesia, namun kegiatannya disesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing daerah. “Konsep pemberdayaan masyarakat ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain. Kegiatannya bisa dimodifikasi,” ujar Nila.

Menkes menambahkan, keunikan dari Rumah Berdaya adalah banyaknya kegiatan yang bisa diikuti ODGJ. Kegiatan itu dapat memutus mata rantai kekambuhan.

“Pemerintah selama ini fokus pada kegiatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif. Jika dibantu sektor lain yang berhubungan dengan produktivitas, seperti usaha mandiri atau pekerjaan maka penanganan bagi ODGJ menjadi paripurna,” tuturnya.

Untuk itu, Nila berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan sektor lain. Harmonisasi itu akan membantu ODGJ untuk pulih dan kembali beraktivitas seperti semula. Hal itu dibuktikan oleh kelompok ODGJ di Rumah Berdaya.

Menkes mengutip data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang menunjukkan jumlah ODGJ pada angka 11 per 100 ribu orang atau sekitar 7 ribu orang. Penanganan orang sebanyak itu tidak bisa diselesaikan oleh unit rumah sakit jiwa atau Puskesmas.

“Komunitas semacam Rumah Berdaya ini hanya untuk ODGJ yang kondisinya sudah stabil. Potensi mereka disalurkan lewat sejumlah kegiatan seperti melukis, usaha cuci motor dan melinting dupa. Sedangkan ODGJ yang sudah pulih bekerja di bagian administrasi di kantor,” tuturnya.

Rumah berdaya awalnya didirikan pelukis Budi Agung Kuswara dan psikolog dr Rai SpKJ. Kolaborasi itu menghasilkan kegiatan seni yang disebutkan “Skizofriends Art Movement”. Skizoprenia adalah masalah gangguan jiwa yang kondisinya paling parah.

“Setelah kegiatan itu, Komang Ayu dari Dinas Kesehatan menawari rumah milik pemerintah yang tak terpakai untuk basis kegiatan. Lalu kami namakan Rumah Berdaya,” kata Budi Agung.

Ditambahkan, kegiatan Rumah Berdaya fokus pada pengembangan diri bagi skizoprenia yang terbagi dalam 2 kelompok. Kesatu, pada pengembangan kognitif dan berkarya. Pelatihan disesuaikan kemampuan penderita, yaitu pembuatan dupa, tas dan sablon baju, dan kedua untuk karya seni dan kerajinan tangan.

“Bagi mantan penderita yang sudah advance, mereka bisa bekerja di kantor untuk kegiatan yang bersifat administratif dan membutuhkan pemikiran. Dokter jiwa yang memetakan kegiatan dan pekerjaan setiap orangnya,” ujarnya.

Lewat Rumah Berdaya, lanjut Budi Agung, masyarakat tidak lagi mengasihani ODGJ tetapi justru memberi empati. Hal itu penting guna menghilangkan stigma buruk tentang ODGJ. (Tri Wahyuni)