Cegah Covid-19, RS Siloam Bonjer Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

0
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, RS Siloam Bonjer, Leonardo Paskah Suciadi. (suarakarya.co.id/ist)

JAKARTA (Suara Karya): Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk (Bonjer) menerapkan protokol kesehatan yang ketat bagi pengunjung yang datang ke rumah sakit. Protokol kesehatan mulai dilakukan dari skrining kesehatan di pintu masuk, pemisahan pasien bergejala dan tidak bergejala, kewajiban memakai masker, penyediaan disinfektan hingga pembersihan area rumah sakit secara berkala.

“Semua ini demi kebaikan bersama, untuk meminimalisir penularan corona virus disease (covid-19) di rumah sakit. Baik antar pasien maupun dari pasien ke dokter,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, RS Siloam Bonjer, Leonardo Paskah Suciadi dalam diskusi media yang digelar secara online, Selasa (19/5/20).

Paskah mengungkapkan, saat pemerintah menetapkan covid-19 sebagai pandemi di Indonesia, RS Siloam Bonjer ikut terdampak. Tak ada pasien yang datang, kecuali mereka yang masuk IGD (Instalasi Gawat Darurat).

“Kondisi itu dapat dipahami karena masyarakat diminta untuk tidak keluar rumah jika tidak penting,” ujarnyam

Paskah mengakui, kalangan dokter pun bingung apa yang harus dilakukan setelah pandemi covid-19 ditetapkan pemerintah. Karena, bagaimana pun dokter juga manusia yang juga takut tertular virus tersebut.

“Situasi sepi di rumah sakit memberi kesempatan bagi para dokter untuk mencari informasi terkait covid-19 dan protokol kesehatan yang harus diterapkan,” ujarnya.

Sebulan setelah penetapan pandemi, lanjut Paskah, banyak pasiennya yang ingin ke rumah sakit karena sudah tidak tahan dengan sakit dada yang dirasakan sejak sebulan lalu. Mereka tidak mau ke rumah sakit, karena takut tertular virus.

“Kondisi ini memang dilematis bagi mereka yang menderita penyakit jantung dan komplikasi lainnya. Apalagi jika ketakutan akan tertular covid-19 dibanding penyakit jantungnya. Apalagi berita menyebutkan, kematian akibat covid-19 sebagian besar terjadi pada orang dengan penyakit penyerta,” ujarnya.

Pasien datang ke rumah sakit dengan kondisi sudah nyeri dada, sesak nafas, jantung berdebar keras hinhga pingsan berulang. Tapi ada juga penderita yang datang tanpa gejala sama sekali, padahal mereka memiliki risiko tinggi.

“Penyakit jantung disebut silent killer, karena bisa terjadi tanpa gejala. Kondisi tanpa gejala ini cenderung lebih berbahaya, karena penderita merasa sehat-sehat saja, padahal jantungnya bisa tiba-tiba berhenti,” katanya.

Untuk itu, Paskah menilai perlunya dilakukan skrining atau penilaian faktor risiko. Hal itu sangat penting sebagai deteksi dini, sebelumnya berkomplikasi dan menimbulkan gejala.

Mereka yang tergolong berisiko adalah orang dengan usia lanjut, wanita pascamenopause, faktor keturunan dalam keluarga, kegemukan, perokok, gangguan kolesterol dan penderita penyakit kronik lain seperti stroke, diabetes melitus, hipertensi dan gangguan ginjal.

“Mereka yang berisiko tinggi wajib konsultasi berkala untuk mengetahui apakah jantungnya sehat atau ada komplikasi penyakit lainnya. Semakin dini diketahui, maka proses pengobatannya jadi lebih mudah dan murah,” katanya.

Jika terjadi ketidakstabilan kondisi jantung, Paskah menambahkan, terapi optimal harus dilakukan sesuai rekomendasi, baik berupa perawatan intensif di rumah sakit atau menjalani prosedur penting seperti kateterisasi jantung dan intervensi koroner, serta operasi bedah jantung sesuai kondisi yang ada.

“Kita tak boleh abai dalam memantau kesehatan jantung sendiri, karena jantung termasuk penyakit serius yang kronik. Jadi, jangan takut berobat ataupun menjalani prosedur medis jika memang dibutuhkan, sebelum terlambat,” ujarnya.

Rumah Sakit Siloam Bonjer saat ini telah memiliki layanan telekonsultasi dan home care yang menjadi solusi ditengah pandemi. Pasien bisa mendaftar melalui aplikasi Aido Health. Setelah memilih rumah sakit, jadwal konsultasi dan melakukan pembayaran, pasien dapat memeriksa kotak masuk di email untuk dapat tautan meeting dan password Zoom untuk video call.

“Setiap pasien mendapat 20 menit waktu konsultasi. Metode ini praktis dan nyaman untuk digunakan. Cara ini juga bagi pasien yang kontrol rutin untuk masalah kronik jantung dan pembuluh darahnya,” ujarnya.

Terkait layanan home care, dijelaskan, hal itu untuk pasien yang tak memungkinkan untuk keluar rumah. Layanan home care memungkinkan pasien untuk memanggil jasa dokter, perawat, fisioterapis dan rehabilitasi medik ke rumah sesuai dengan tindakan medis yang dibutuhkan, antara lain perawatan luka, fisioterapi, pelayanan paliatif untuk penyakit kanker, hingga skrining covid-19. (Tri Wahyuni)