Cegah Harimau Sumatera dari Kepunahan, Swasta Harus Dilibatkan!

0
(Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Upaya pencegahan harimau Sumatera dari kepunahan seharusnya juga melibatkan kalangan swasta. Karena habitat dari raja hutan itu tak terbatas di kawasan konservasi, tetapi juga bisa menjelajah hingga wilayah konsensi hutan tanaman industri (HTI).

“Keterlibatan swasta dalam kegiatan konservasi akan memberi peluang bagi harimau Sumatera untuk terhindar dari kepunahan,” kata Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno dalam webinar bertajuk “Sinergitas dan Koeksistensi Industri dengan Konservasi Harimau Sumatera”, Rabu (29/7/20).

Webinar diselenggarakan Forum HarimauKita, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas dan Program Magister Manajemen Lingkungan Universitas Pakuan.

Wiratno menjelaskan, Hari Konservasi Harimau Sedunia atau Global Tiger Day diperingati setiap 29 Juli di seluruh dunia. Indonesia sebagai salah negara pemilik hewan harimau yang masih ada di dunia ikut berpartisipasi kegiatan Global Tiger Day.

“Peringatan Global Tiger Day ini menjadi momen penting untuk membangun kesadaran masyarakat tentang perlunya aksi pelestarian harimau Sumatera dalam habitatnya,” ucap Wiratno.

Hal senada dikemukakan Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Iman Santoso. Katanya, penerapan ‘best management practices’ di areal konsesi kehutanan menjadi penting. Karena lebih dari 70 persen habitat harimau di Sumatera berada di luar kawasan konservasi.

“Distribusi dan areal jelajah harimau Sumatera tumpang tindih dengan konsesi kehutanan,” ujarnya.

Karena itu, menurut Iman, areal konsesi perlu dialokasikan koridor satwa. Dan yang tak kalah penting, perlu keterlibatan swasta dalam mendukung konservasi harimau Sumatera diluar kawasan konservasi yang terintegrasi pada skala lanskap.

Ditambahkan, keberhasilan penerapan ‘Best Management Practices’ terkait konservasi jenis dan pengelolaan areal yang bernilai konservasi tinggi (NKT) di areal konsesi perlu dukungan dan kolaborasi dengan seluruh pihak, selain edukasi.

“APHI menyadari pentingnya edukasi, baik di level kelompok masyarakat terkait pengelolaan areal NKT. Kegiatan ini melibatkan lembaga donor seperti USAid LESTARI untuk pengembangan model monitoring NKT serta FFI yang diidentifikasi KEHATI,” katanya.

Kegiatan dengan UNDP, lanjut Iman, dilakukan melalui Catalyzing Optimum Management of Natural Heritage for Sustainability of Ecosystem, Resources and Viability of Endangered Wildlife Species (Conserve).

Dukung pernyataan APHI, praktisi hutan tanaman APP Sinarmas, Dolly Priatna menyatakan, selama ini upaya pelestarian harimau dan gajah Sumatera telah dilakukan di areal konsesi hutan tanaman.

“Kami melakukan penilaian, penetapan dan pengelolaan Kawasan Lindung dan HCV/HCS, dengan memperhatikan SOP dan “working instruction”. Bahkan kami membentuk Tim Satgas Mitigasi Konflik Manusia-Satwa Liar dan membuat pelatihan mitigasi konflik manusia-satwa liar secara reguler,” katanya.

Dolly mengatakan, sosialisasi-edukasi kepada pekerja HTI dan masyarakat sekitar dilakukan secara terus menerus. Proses monitoring keberadaan satwa liar juga dilakukan di areal konsesi.

“Kami menggunakan camera traps dengan penghitungan langsung, agar bisa tahu keberadaanya” kata Dolly.

Ditambahkan, areal yang menjadi habitat alami satwa liar tetap dipertahankan pada kawasan hutan tanaman. Peningkatan kawasan lindung dalam areal konsesi untuk mempertahankan keberadaan hutan alam serta mencegah perburuan satwa liar lainnya.

“Di lapangan, kami juga menggelar patroli dan berkolaborasi dengan UPT Lingkup Ditjen KSDAE (BKSDA Balai Taman Nasional), Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK (BPPHLHK) Seksi Wilayah II Pekanbaru, KPHP, unsur TNI/Polri, serta Forum HarimauKita dan Volunteer Tiger Hearth,” ucapnya. (Tri Wahyuni)