Cegah Kematian dan Stroke dengan ”MENARI”

0
(suarakaraya.co.id)

Penyakit jantung merupakan momok paling menakutkan bagi manusia di seluruh dunia. Kematian mendadak, hingga stroke merupakan risiko yang dapat menghantui penderitanya.

Ironisnya, terkadang tidak semua orang mengetahui jika mereka mengalami gangguan fungsi jantung. Ini mengakibatkan, tidak adanya rambu-rambu yang ditanamkan pada diri sendiri untuk terus menjaga kesehatan baik dari asupan makanan, atau melakukan cara hidup sehat dengan berolahraga.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan Survei Sample Regristration System (SRS) pada 2014 di Indonesia menunjukkan, Penyakit Jantung Koroner (PJK) menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur setelah stroke, yakni sebesar 12,9 persen.

Data Kemenkes juga mencatat, menurut kelompok umur, PJK paling banyak terjadi pada kelompok umur 65-74 tahun (3,6 persen) diikuti kelompok umur 75 tahun ke atas (3,2 persen), kelompok umur 55-64 tahun (2,1 persen) dan kelompok umur 35-44 tahun (1,3 persen).

Sedangkan menurut status ekonomi, terbanyak pada tingkat ekonomi bawah (2,1 persen) dan menengah bawah (1,6 persen).

Sementara, data World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler atau 31 persen dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia. Lebih dari 3/4 kematian akibat penyakit kardiovaskuler terjadi di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang.

Dari seluruh kematian akibat penyakit kardiovaskuler 7,4 juta (42,3 persen) di antaranya disebabkan oleh Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan 6,7 juta (38,3 persen) disebabkan oleh stroke.

Tingginya risiko kematian dan stroke, yang diakibatkan dari kelainan jantung ini menggugah banyak pihak agar masyarakat peduli akan kesehatan. Salah satunya adalah InaHRS (Indonesia Heart Rhythm Society) yang terus mengkampanyekan pentingnya menjaga kesehatan jantung, dan mencegah terjadinya serangan jantung sejak dini.

Diketahui, kampanye yang dimotori Perhimpunan Dokter Jantung Ahli Arimia Indonesia (InaHRS) sudah mulai dilakukan sejak 2016. Para dokter ahli jantung mengajak masyarakat untuk aktif memeriksakan irama jantung, baik itu pemeriksaan di klinik atau melakukan pemeriksaan sendiri dengan melakukan pemeriksaan nadi.

Ketua Pelaksana Kampanye Fibrillasi Atrium (FA) 2019, dr. Reynold Agustinus Hasudungan Manullang, Sp.JP(K), FIHA kepada wartawan di Jakarta, Rabu (26/6/2019) menyampaikan bahwa terlambatnya deteksi dini Fibrilasi atrium mengakibatkan terjadinya komplikasi yang fatal serta memerlukan biaya pelayanan kesehatan yang cukup tinggi. Selain itu FA juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kematian jantung mendadak pada penderita sakit jantung.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, FasCC, FEHRA, yang juga merupakan Guru Besar Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI mengatakan, FA merupakan kelainan irama jantung berupa detak jantung yang tidak regular sering dijumpai pada populasi di dunia dan di Indonesia.

Disayangkan, pengetahuan dan kepedulian tentang FA sampai saat ini masih rendah, padahal FA dapat menyebabkan bekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dan dapat menyebabkan stroke. Penderita FA memiliki risiko lima kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa FA.

Menurutnya, kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering dijumpai pada kasus stroke dengan FA. Pada 37 persen pasien FA usia kurang dari 75 tahun, stroke iskemik merupakan gejala pertama yang didapati. Di Indonesia, banyak insiden kelumpuhan akibat FA terjadi pada usia produktif, yaitu di bawah usia 60 tahun.

Kelumpuhan yang diderita pasien FA memiliki ciri khusus, seperti memiliki tingkat keparahan yang tinggi, bersifat lama dan sering berulang (relapse). Rata-rata, sekitar 50 persen pasien yang terkena stroke ini akan mengalami stroke kembali dalam jangka waktu 1 tahun.

Untuk diketahui, Fibrilasi atrium (FA) adalah kelainan irama jantung yang ditandai dengan denyut jantung tidak teratur baik cepat maupun lambat. Fibrilasi Atrium merupakan penyakit distrik jantung yang sering ditemui bahkan merupakan salah satu penyakit jantung yang paling sering didapatkan di klinik. Di Indonesia diduga ada sekitar 2.2 juta orang yang menderita FA.

Beberapa keadaan dapat menjadi faktor risiko terjadinya FA, yaitu bertambahnya usia, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner dan faktor genetik. Dilaporkan hingga 40 persen kejadian stroke berhubungan dengan adanya FA, hal ini dapat terjadi karena pada FA terdapat kemudahan untuk terbentuk gumpalan darah di serambi jantung. Bila gumpalan darah tersebut lepas maka umumnya akan tersangkut di pembuluh otak sehingga menimbulkan sumbatan dan menyebabkan stroke iskemik. Disamping itu FA juga dapat menyebabkan gagal jantung.

Kampanye FA ini di dunia pertama kali mulai di Amerika Serikat, dipelopori oleh Heart Rhythm Society (Perhimpunan Dokter Jantung ahli Gangguan Irama se Dunia) beserta National Stroke association (Badan Kesehatan Amerika yang menangani stroke) pada tahun 2012. Sedangkan di Indonesia, kampanye ini dilakukan pertama kali tahun 2016 dipelopori oleh Peritmi/InaHRS (Perhimpunan Dokter Jantung Ahli Arimia Indonesia) bersama dengan Asia Pasific Heart Rhthym Society (APHRS), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Yayasan Jantung Indonesia.

Dalam kesempatan kampanye fibrilasi atrium tahun 2019 yang mengambil tema Waspada Bahaya Fibrilasi Atrium, Stroke dan Sudden Death, InaHRS didukung oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Yayasan Jantung Indonesia menjadi penyelenggara kampanye untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap gangguan irama fibrillasi atrium serta komplikasi yang dapat terjadi. Dalam kampanye ini kembali ditekankan “MENARI”: (Meraba Nadi Sendiri). “MENARI” merupakan salah satu cara mudah untuk mengenali Fibrillasi Atrium (FA) serta gangguan irama lainnya yang diharapkan dapat mencegah kelumpuhan akibat FA.

Diketahui, Rangkaian acara digelar mulai 27 Juni 2019 dan akan diselenggarakan lomba lari 5 Km di Jakarta pada puncak acara kampanye FA 29 September 2019 dengan target peserta minimal 1000 pelari. (Bayu Legianto)