Cegah Learning Loss, Gunakan Teknologi untuk Mitigasi Dunia Pendidikan

0

JAKARTA (Suara Karya): Teknologi digital seharusnya digunakan pemerintah untuk mitigasi dunia pendidikan secara besar-besaran, yaitu sebagai enabler (pembuka akses) dan disruptor (perombakan). Sayang, teknologi saat ini hanya sebatas alat.

“Hal itu bisa dilihat dari cara para pendidik mengajar lewat aplikasi video-conference, yang tak jauh beda dengan cara mereka sebelumnya mengajar di depan papan tulis,” kata Ketua Dewan Pers yang juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Prof Mohammad Nuh dalam webinar yang digelar SEVIMA, Selasa (24/8/21) sore.

Narasumber lain dalam webinar tersebut adalah Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Jawa Timur, Prof Suprapto dan CEO SEVIMA Sugianto Halim.

Karena itu, menurut Prof Nuh, tak heran jika dunia pendidikan di Indonesia mengalami learning loss (kegagalan belajar) yang luar biasa di masa pandemi covid-19. Karena teknologi yang seharusnya digunakan untuk mitigasi pendidikan di masa pandemi, justru dimanfaatkan seadanya saja.

“Ketika teknologi hanya dijadikan alat untuk melewati pandemi, maka hasilnya akan seadanya saja,” ucapnya menegaskan.

Mantan Rektor Institut Teknologi Sebelas Nopember Surabaya (ITS) itu menyebut 4 tips bagaimana teknologi digital bisa memitigasi dunia pendidikan secara besar-besaran. Pertama, filosofi dalam memanfaatkan teknologi dalam pendidikan harus disepakati secara jelas dan tegas: yaitu semangat untuk memenuhi janji kemerdekaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di era kepemimpinan Nuh sebagai Mendikbud, telah dirintis Buku Sekolah Elektronik, Data Pokok Pendidikan dan Forum Laporan Pendidikan Tinggi. Pembuatan beragam sistem itu memanfaatkan teknologi yang menjadi pembuka akses pendidikan.

“Ketika landasan filosofi itu sudah matang, maka tahap berikutnya adalah menata pola pikir. Yakni, memastikan tujuan memanfaatkan teknologi dalam pendidikan untuk mendidik anak-anak bangsa dalam menghadapi tantangan di masa depann,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Nuh, pendidikan tidak boleh berpola hafalan. Karena, apa yang dupelajari saat ini, belum tentu akan dipakai lagi di masa depan. Yang penting adalah mengajarkan kepada peserta didik untuk belajar cara belajar (learning how to learn).

“Indonesia punya banyak mimpi pada 25 tahun mendatang. Kita akan memiliki miopi atau rabun jauh, jika mendidik anak dengan ilmu dan cara hari ini. Seharusnya ajarkan anak itu ‘learning how to learn’ (belajar caranya belajar), agar pada 2045 mampu bersaing di dalamnya,” ucap Prof Nuh.

Tips ketiga adalah memahami Indonesia memiliki tantangan sekaligus peluangnya tersendiri. Sebagai negara kepulauan dengan keberagaman sosio-ekonomi, memang masalah berupa konektivitas internet, akses, maupun pemahaman dan kemampuan mengoperasikan teknologi digital, merupakan kesenjangan yang tak bisa dinafikkan.

Namun, lanjutnya, Indonesia memiliki dua modal utama, yaitu ‘demographic dividend’ yang mana 64 persen dari total populasi Indonesia ada di usia produktif. Dan ‘digital dividend itu berada di usia produktif yang masih rajin belajar dan bekerja.

“Ketika mereka diberi akses kepada teknologi informasi, maka mereka bisa secara kreatif mengatasi sejumlah permasalahan pendidikan di tanah air,” katanya.

Jaringan internet Palapa Ring, yang dirintis di era kepemimpinan Pak Nuh sebagai Menkominfo merupakan salah satu bukti dari kreatifitas masyarakat. Ketika akses internet sudah ada di pelosok, maka masyarakat dengan sendirinya akan memanfaatkan fasilitas tersebut.

“Rasio penduduk usia produktif di atas 64 persen, ditambah dengan kreativitas bangsa, maka keduanya bisa menjadi modal penting menuju Indonesia emas pada 25 tahun mendatang. Karena itu, pendidikan harus membuka akses, mengeksplorasi keberagaman. Karena kekuatan sebenarnya ada di tangan kita sebagai masyarakat, The Power of We,” kata Pak Nuh.

Pertanyaan Prof Nuh tersebut kemudian dijawab Prof Suprapto. Katanya, pemerintah secara berkelanjutan terus memfasilitasi upaya pengembangan pendidikan digital. Misalnya lewat hibah penelitian, program kampus merdeka, dan pertukaran industri dengan dunia pendidikan.

“Sayangnya, dana penelitian kita ini, walau cukup kecil dibanding negara lain, tetap tidak pernah terserap habis. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama, bahwa potensi untuk pengembangan terbuka lebar,” ujarnya.

Tips yang terakhir, menurut Prof Nuh, teknologi digital harus menjadi digital lifestyle. Artinya, gaya mengajar dan mendidik harus berangkat dari kebiasaan di dunia digital tersebut.

“Sistem pembelajaran digital tak perlu tatap muka di waktu pembelajaran. Ketika materi pembelajaran sudah ada dalam bentuk video, maka belajar bisa kapan saja, dimana saja.

“Perlu perubahan mindset. Belajar dari rumah secara hybrid, bukan belajar di rumah dengan cara memindahkan papan tulis dan klasikal kelasnya saja ke dalam aplikasi. Perubahan ini harus kita lakukan sangat cepat, karena kedepan kebutuhan skill juga makin kompleks,” lanjut Nuh.

Hal senada dikemukakan Sugianto Halim. Pembangunan digital lifestyle dapat dilakukan mulai dari cara-cara yang sederhana. Misalkan, civitas akademika yang tergabung dalam Komunitas SEVIMA menggunakan sistem pembelajaran Edlink yang memberi ruang bagi pembelajaran secara asynchronous (tunda).

“Dosen cukup mengunggah video di sistem tersebut, lalu para mahasiswa dapat menyimak dan mengerjakan kuis kapan saja. Sistem pembelajaran ini juga dihadirkan secara terintegrasi dengan sistem akademik berbasis komputasi awan (SiakadCloud), sistem pelaporan, dan beragam kebutuhan akademik lainnya,” kata Sugianto.

Pemanfaatan sistem itu, menurut Sugianto, dapat dilakukan secara gotong royong, karena sistem juga tersedia dalam versi komunitas dan bisa diunduh secara gratis oleh perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Yang paling penting adalah komitmen kita untuk menggunakan dan menyongsong kemajuan teknologi. (Tri Wahyuni)