Cendekia Harapan Bali Bertekad jadi Sekolah Pelopor Bidang STEM

0

JIMBARAN (Suara Karya): Cendekia Harapan Bali bertekad menjadi sekolah pelopor dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics). Metode pembelajarannya menitikberatkan pada problem based learning (PBL), project, debate dan challenge bagi siswanya.

Hal itu dibuktikan lewat karya Sheena Abigail, siswa SMA Cendekia Harapan yang diberi nama Tirta Amertha. Robot sederhana itu dibuat mengetahui kondisi air di Bali. Air dengan PH dibawah normal atau 7 itu tidak baik untuk konsumsi secara terus menerus.

Karya Sheena dipamerkan dalam seminar bertajuk ‘Meneropong Masalah Robotik di Indonesia’ di Sekolah Cendekia Harapan, Denpasar, Bali, Senin (20/5/2019).

Seminar menampilkan pembicara dari Komunitas Robot Indonesia (KRI), Adiatmo Rahardi.

Kepala Pengawas Sekolah Cendekia Harapan, Mustika menunjukkan, upaya Cendekia Harapan Bali dalam mencapai target dengan berani membangun dry laboratorium yang dilengkapi dengan peralatan robotik, seperti Vex, Lego dan Arduino Uno di sekolah.

Komitmen itu disambut pakar robot Adiatmo Rahardi menilai mata pelajaran bidang Science. Katanya, Technology, Engineering dan Mathematics (STEM) lebih efektif diajarkan dengan robot. Hal itu juga menjadi salah satu jalan bagi sekolah sebagai ‘maker movement’.

“Kami mengapresiasi komitmen Cendekia Harapan dalam bidang STEM. Karena di area sekolah yang tak terlalu luas, berani membangun dry laboratorium,” kata Adiatmo menegaskan.

Menurutnya, perubahan sistem pendidikan ke arah ‘maker movement’ memiliki potensi yang besar untuk mengubah kualitas pendidikan di Tanah Air. Karena metode pembelajaran seperti itu memberi kebebasan kepada siswanya untuk berkarya sesuai dengan potensi yang dimiliki.

“Inilah yang jadi keunggulan Cendekia Harapan Bali. Siswa dapat menentukan sendiri metode pembelajaran dan produk yang ingin dibuat dalam satu semester. Gerakan pembelajaran seperti ini tentu akan mencetak generasi ‘maker movement’ di Indonesia,” tuturnya.

Adiatmo menantang para siswa untuk mengembangkan robot dengan cara sederhana. Karena modal terbesar dalam membuat robot adalah “niat” dan ide yang diwujudkan dalam bentuk produk.

“Masalah robot di Indonesia sebenarnya berkaitan dengan sudut pandang masyarakat terhadap robotik. Meski beberapa sekolah sudah melaksanakan pendidikan robotik dan memiliki prestasi luar biasa, ternyata membuat robot hanyalah untuk memenangkan kejuaraan,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Adiatmo, pembuatan robot hanya menjadi sebuah jalan untuk memenuhi capaian penilaian kinerja (KPI) bagi seorang tenaga pendidik. “Membuat sebuah robot itu seperti kita memberi kehidupan ke benda mati. Coba selami bahasanya sampai berhasil. Bukan sekadar bikin, menang lalu selesai,” kata Adiatmo menandaskan. (Tri Wahyuni)