Conny Semiawan dan HAR Tilaar Raih Lifetime Achievement dari UNJ

0
PENGHARGAAN UNJ - Dua tokoh pendidikan; Prof Conny R Semiawan dan Prof HAR Tilaar diberikan penghargaan oleh Universitas Negeri Jakarta. (Ist)

JAKARTA (Suara Karya): Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memberi penghargaan Lifetime Achievement Award kepada dua tokoh pendidikan; Prof Conny R Semiawan dan Prof HAR Tilaar. Penghargaan diberikan karena jejak prestasi mereka yang mumpuni dalam dunia pendidikan di Tanah Air.

“Penghargaan ini diharapkan dapat menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia,” kata Pelaksana tugas (Plt) Rektor UNJ Intan Ahmad dalam acara Dies Natalis UNJ ke-54 di Jakarta, Selasa (15/5).

Hadir dalam kesempatan itu, Irjen Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Jamal Wiwoho.

Dalam pidatonya, Intan mengemukakan, UNJ sebagai salah satu LPTK (lembaga pendidikan tenaga keguruan) saat ini memikul tantangan yang berat. Pasalnya, calon guru yang dihasilkan harus siap menghadapi revolusi industri 4.0 di masa depan.

“Guru nantinya hanya sebagai fasilitator. Karena ilmu bisa diperoleh dari berbagai sumber. Jika model pembelajaran di kampus eks-LPTK masih konvensional seperti sekarang ini, kualitas pendidikan dasar dan menengah bakal kedodoran,” ujarnya.

Ia mencontohkan rekor skor PISA siswa SMP Indonesia yang hingga kini masih rendah. PISA (Programme for International Students Assessment) adalah tes yang dilakukan OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bidang sains, matematika dan membaca.

Karena itu, menurut Intan yang juga Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemristekdikti itu, pemerintah akan melakukan revitalisasi LPTK agar menghasilkan guru yang profesional dan paham teknologi.

“Proses dimulai dari seleksi ketat saat penerimaan mahasiswa dalam program pendidikan profesi guru (PPG). Proses pendidikan dilaksanakan selama satu tahun. Mereka juga harus lolos uji kompetensi, sebelum terjun sebagai guru,” ujarnya.

Soal masalah radikalisme yang masih marak dalam kampus, Intan Ahmad mengatakan, orangtua memiliki kewajiban yang sama dalam membentuk karakter anak. Karena itu, toleransi seharusnya ditanamkan pada anak sejak dini dari rumah, tak hanya dibebankan pada kampus.

“Radikalisme bukan persoalan agama tetapi ke pola pikir. Karena itu pentingnya anak diberi pemahaman soal tolaransi dalam keberagaman agar tercipta hidup yang lebih damai,” tuturnya. (Tri Wahyuni)