Dampak Budaya Patriarki, Buta Aksara di Indonesia Didominasi Perempuan

0
(Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Linda Agum Gumelar menyayangkan atas masih tingginya angka buta aksara di Indonesia, yang didominasi kaum perempuan.

“Tingginya angka buta aksara di kalangan perempuan, karena Indonesia menganut budaya patriarki yang kuat. Perempuan selalu terpinggirkan,” kata Linda dalam webinar yang digelar Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bertajuk ‘Indonesia Maju, Terwujud Masyarakat Literasi yang Belajar Sepanjang Hayat’, Selasa (29/9/20).

Mengutip data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, Linda menyebut, angka buta aksara di Indonesia saat ini masih tersisa 1,78 persen. Meski dari angka persentase kecil, namun angkanya menjadi besar karena dikalikan dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 250 juta orang.

“Dan sebagian besar penyandang buta aksara, rata-rata perempuan berusia 15-59 tahun yang berasal dari kelompok miskin,” ujarnya.

Pada usia di atas 15 tahun, lanjut Linda, angka buta aksara perempuan mencapai 5,67 persen. Angka itu lebih tinggi dari angka buta aksara laki-laki sebesar 2,52 persen.

Linda menuturkan, kondisi itu terjadi lantaran budaya patriarki yang masih mengakar di masyarakat. Salah satunya, anggapan bahwa anak laki-laki lebih bernilai dibanding anak perempuan.

Pandangan tersebut, menurut Linda, mengakibatkan perempuan kerap kali mengalami ketidaksetaraan gender. Kesehatan dan pendidikan untuk anak perempuan dinomorduakan. Dampaknya, banyak anak perempuan kekurangan gizi dan rentan terhadap penyakit.

“Dampak lainnya adalah rendahnya dorongan mendapatkan pendidikan bagi anak perempuan,” ucapnya.

Linda meminta jangan melihat contoh itu di kota-kota besar, tetapi cobalah lihat kelompok masyarakat di daerah 3T. Karena anak laki-laki dianggap lebih berharga, maka mereka mendapat kesempatan sekolah yang lebih tinggi. Diharapkan anak laki-laki dapat meneruskan ekonomi keluarga.

Selain itu, kata Linda, banyak tugas domestik dilimpahkan ke anak perempuan dibanding anak laki-laki. Hal itu menjadi kendala lainnya. Perempuan, dituntut untuk membantu pekerjaan orang tua di rumah dan di kebun, sehingga tidak punya kesempatan untuk sekolah.

“Belum lagi pada usia 14-18 tahun, anak perempuan sudah dipersiapkan memasuki dunia perkawinan. Kita tahu persis pernikahan di usia anak masih tinggi di Indonesia. Kondisi ini juga terpengaruh budata patriarki tadi,” ucap Linda menandaskan. (Tri Wahyuni)