JAKARTA (Suara Karya): Kecerdasan buatan (AI) mulai memberi dampak nyata terhadap layanan kesehatan di Indonesia. Philips Future Health Index (FHI) 2026 mencatat, 69 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan alat berbasis AI meningkatkan kapasitas mereka untuk melayani lebih banyak pasien, jauh di atas rata-rata global sebesar 50 persen.
Laporan FHI 2026 edisi ke-11 yang diluncurkan Royal Philips juga menunjukkan, 88 persen tenaga kesehatan Indonesia melaporkan peningkatan efisiensi alur kerja melalui AI, dibandingkan 71 persen secara global.
Sebanyak 87 persen tenaga kesehatan mengaku mendapat akses lebih cepat terhadap hasil diagnosis, sementara 82 persen mengatakan AI mempercepat pengambilan keputusan terkait diagnosis.
AI juga membantu meningkatkan akses terhadap informasi pasien. Sebanyak 75 persen tenaga kesehatan melaporkan kemudahan mengakses data pasien yang terintegrasi lintas tim medis, dibanding 57 persen secara global.
Dampak tersebut mulai terlihat pada kapasitas layanan. Di antara tenaga kesehatan yang melaporkan peningkatan kapasitas, median peningkatannya mencapai 4 pasien tambahan per minggu.
Selain meningkatkan produktivitas, 59 tenaga kesehatan Indonesia melaporkan penghematan waktu rata-rata sedikitnya 88 jam per tahun.
Sebanyak 67 persen mengatakan, AI meningkatkan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, sementara proporsi yang sama melaporkan penurunan stres.
Potensi AI juga dinilai relevan untuk mengatasi kesenjangan layanan kesehatan antarwilayah. Sebanyak 81 persen tenaga kesehatan percaya AI dapat mempersempit kesenjangan kualitas layanan dan meningkatkan pelayanan bagi masyarakat di wilayah yang kurang terlayani.
Dari sisi institusi, 43 persen pemimpin layanan kesehatan Indonesia melaporkan penghematan anggaran berkat penerapan AI, dibanding 34 persen secara global. Sebanyak 69 persen menilai manfaat investasi AI memenuhi atau bahkan melampaui biayanya.
Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan mengatakan, pembahasan AI dalam layanan kesehatan kini memasuki tahap baru, dari sekadar mempertanyakan potensi, menjadi melihat dampaknya dalam praktik.
“Prioritas kita saat ini adalah memastikan manfaat awal tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan,” ucap Astri menegaskan.
Menurut dia, AI perlu terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, didukung peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti pelayanan kesehatan.
Namun, kesiapan layanan kesehatan masih perlu mengejar laju adopsi AI. Sebanyak 63 persen tenaga kesehatan mengatakan penggunaan alat berbasis AI di institusi mereka meningkat dalam setahun terakhir, sementara 57 persen telah menggunakan AI generatif untuk membahas ide terkait pekerjaan.
Di sisi lain, 58 persen tenaga kesehatan mengaku beralih menggunakan alat AI pribadi ketika pilihan yang tersedia di tempat kerja tidak memenuhi kebutuhan mereka.
Kondisi itu dinilai berisiko jika alat yang digunakan belum tervalidasi secara klinis, belum terintegrasi secara aman, atau belum memenuhi standar privasi dan akuntabilitas.
Pelatihan juga masih menjadi kendala. Sebanyak 55 persen tenaga kesehatan mengatakan pelatihan untuk alat berbasis AI sulit didapat, terbatas, atau tidak merata.
“Mereka membutuhkan pemahaman tidak hanya mengenai penggunaan teknologi, tetapi juga perlindungan data pasien, tanggung jawab hukum, dan akurasi rekomendasi AI,” kata Astri.
Pemantauan penerapan AI juga belum optimal. Sebanyak 62 persen tenaga kesehatan mengatakan belum tersedia proses yang jelas untuk memantau alat berbasis AI.
Karena itu, institusi kesehatan butuh mekanisme validasi, audit, pelacakan, dan peninjauan secara berkala.
Dalam praktiknya, tenaga kesehatan tetap menilai manusia sebagai pengendali utama. Sebanyak 94 persen mengatakan keterlibatan manusia tetap sangat penting, sedangkan 91 persen percaya seluruh hasil AI harus berada di bawah pengawasan manusia.
Sebanyak 90 perseb tenaga kesehatan juga menilai AI tidak akan menggantikan hubungan yang dibangun antara tenaga kesehatan dan pasien. Bahkan, 87 persen percaya keterampilan interpersonal akan semakin penting seiring perkembangan AI.
Sementara itu, penggunaan AI oleh pasien juga meningkat. Sebanyak 57 persen pasien Indonesia menggunakan AI generatif untuk mencari informasi kesehatan secara online. Namun, 80 persen tenaga kesehatan mengaku pernah meluruskan misinformasi yang dihasilkan AI dan dibawa pasien saat konsultasi.
Karena itu, transparansi menjadi bagian penting dalam penerapan AI. Sebanyak 91 perseb pasien Indonesia mengatakan mereka harus diberitahu ketika AI digunakan dalam perawatan mereka.
Sekadar informasi, FHI 2026 melibatkan 201 tenaga kesehatan dan 2.011 pasien di Indonesia. Secara global, riset independen Vitreous World melibatkan 2.011 tenaga kesehatan dan 20.085 pasien di 10 negara, dengan survei dilakukan pada Februari-April 2026. (Tri Wahyuni)

