Dampak Pandemi, Capaian Imunisasi Rutin pada Bayi Turun jadi 58,4 Persen

0

JAKARTA (Suara Karya): Pandemi covid-19 mempengaruhi capaian program imunisasi rutin pada anak. Data imunisasi rutin per Oktober 2021 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemkes) menunjukkan imunisasi dasar lengkap baru mencapai 58,4 persen dari target sebesar 79,1 persen.

“Karena itu, kami mendorong pemerintah daerah, khususnya dinas kesehatan untuk mengejar target cakupam imunisasi minimal 79,1 persen,” kata Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemkes, Maxi Rein Rondonuwu dalam keterangan pers secara daring, Selasa (30/11/21).

Maxi menyebut baru Provinsi Banten yang mendekati target cakupan imunisasi dasar lengkap sebesar 78,8 persen. Sementara provinsi lainnya, cakupan imunisasi dasar lengkap di atas 60 persen, antara lain Sulawesi Selatan, Bengkulu, Sumatera Utara, Jawa Timur, Gorontalo, Bali, Lampung, Bangka Belitung dan Jambi.

“Ini seharusnya jadi pembelajaran bagi provinsi lain. Cakupan imunisasi yang rendah dan tidak merata dapat menimbulkan akumulasi populasi rentan atau tidak kebal terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I),” ucapnya.

Jenis PD3I yang ada di Indonesia, antara lain BCG, polio, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis, campak, dan rubela.

Maxi mengungkapkan, saat ini sudah terjadi peningkatan kasus PD3I di beberapa daerah. Hal itu berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB), yakni difteri di Kalimantan Barat dan Konawe Sulawesi Tenggara.

“Kasus difteri sampai minggu ke-45 ada 130 kasus yang terdeteksi secara klinis. Sementara difteri yang terdeteksi positif secara laboratorium ada 23 kasus. Kasus paling banyak di Kalimantan Barat, terutama Sintang dan Singkawang,” tuturnya.

Untuk campak dan rubella, Maxi menambahkan, kasusnya sudah ada di beberapa daerah seperti Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua.

“Kasus positif campak sebenarnya sudah tersebar di 34 kabupaten/kota yang tersebar di 17 provinsi, kemudian rubella ada di 44 kabupaten/kota di 17 provinsi,” ucapnya.

Untuk daerah dengan cakupan imunisasi dasar lengkap yang belum mencapai target, Maxi meminta untuk melakukan strategi penanganan, guna menutup kesenjangan imunitas melalui Program Imunisasi Kejar.

Kegiatan Imunisasi Kejar merupakan kegiatan pemberian imunisasi kepada bayi dan bayi dua tahun (baduta) yang belum menerima dosis vaksin sesuai usia yang ditentukan pada jadwal imunisasi nasional.

Imunisasi kejar dapat diberikan kepada anak sampai usia 36 bulan. Upaya yang dilakukan dapat berupa penguatan kerja sama dengan berbagai pihak terkait, termasuk pihak swasta.

“Selain juga meningkatkan komunikasi dan edukasi tentang pentingnya imunisasi kepada seluruh masyarakat. Sehingga masyarakat tidak ada keraguan lagi dalam mengikuti program imunisasi yang sudah disiapkan pemerintah bersama seluruh pihak terkait,” katanya.

Pemberian imunisasi dasar lengkap untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity), dimana sebagian besar masyarakat telah terlindungi dari ancaman suatu penyakit. Cakupan vaksinasi yang tinggi dan merata akan membentuk kekebalan kelompok, guna mencegah penularan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi.

“Untuk mencapai kekebalan kelompok, maka cakupan imunisasi rutin harus mencapai minimal 95 persen, secara merata di seluruh wilayah, sampai unit terkecil yaitu tingkat desa/kelurahan,” ucap Maxi menandaskan. (Tri Wahyuni)