Dana Kedaireka Naik, Diktiristek Dorong Kampus dan Pemda Jalin Kemitraan!

0

JAKARTA (Suara Karya): Dana hibah Kedaireka yang dikelola Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Diktiristek) Kemdikbudristek tahun ini dinaikkan hingga Rp1 triliun.

Untuk itu, kampus didorong membangun kemitraan dengan pemerintah daerah (Pemda) agar tercipta inovasi yang dapat menyelesaikan masyarakat di daerah dan bangsa.

Pernyataan itu disampaikan Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Ditjen Diktiristek, Kemdikbudriatek, Tjitjik Sri Tjahjandarie dalam sosialisasi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kedaireka kepada anggota Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), pada Senin (30/5/22).

Kedaireka adalah platform program kolaborasi antara perguruan tinggi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), termasuk pemerintah daerah, sehingga menghasilkan inovasi yang dapat menjadi solusi atas masalah yang terjadi di daerah. Upaya itu, diharapkan dapat meningkatkan kemandirian bangsa.

Program yang diluncurkan pada 2021 itu merupakan implementasi atas mandat Presiden Joko Widodo agar kampus dan pemda dapat menjalin kerja sama guna memulihkan perekonomian bangsa pascapandemi covid-19.

Ditambahkan, program Matching Fund dengan platform Kedaireka bisa menjadi wadah pertukaran pemikiran atau rekacipta antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan dunia industri, ataupun pemerintah daerah. Kedua pihak dapat saling berkolaborasi untuk memberi kebermanfaatan kepada masyarakat.

Plt Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kiki Yuliati mengatakan, Kemdikbudristek pada 2022 menyediakan anggaran Rp1triliun untuk Program Kedaireka. Mekanisme seleksinya dengan mendaftar ke akun Kedaireka, baik dosen maupun mitra usahanya.

“Dosen dapat memaparkan keahliannya, sedangkan mitra dapat menyampaikan masalah dan kebutuhannya. Sistem akan mencocokkan antara dosen dan mitra. Jika ditemukan kecocokan, maka dosen dapat mengajukan proposal kepada Kemdikbudristek,” tutur Kiki.

Ajuan proposal itu, kemudian akan dinilai dan dipertimbangkan. Kemdikbudristek memberi dana hibah sama dengan dana pemda, dengan rincian perbandingan 1:1. Namun, tidak menutup kemungkinan dana hibah diberi tiga kali lipat, jika masalah dan kebutuhannya menyangkut bangsa dan negara.

“Jika Pemda menyediakan anggaran Rp10, maka kementerian juga akan memberi Rp10 jika proposal yang diajukan layak untuk itu. Sehingga terkumpul dana Rp20 untuk membuat inovasi guna mengatasi persoalan yang ada,” tuturnya.

Koordinator Kemitraan Kedaireka, Rio Zakarias Widyandaru menjelaskan, Program Kedaireka bertujuan agar dosen atau perguruan tinggi dapat membuat kreasi reka dalam bentuk inovasi atau solusi kepada mitra yang terdaftar. Mitra itu bisa berupa lembaga, pemerintah daerah, industri, yayasan, atau lainnya yang sudah terdaftar.

Disebutkan, 5 skema dalam Program Dana Hibah Kedaireka Tahun 2023, yaitu Ekonomi Hijau, Ekonomi Biru, Ekonomi Digital, Kemandirian Kesehatan dan Pariwisata.

Sejalan dengan Program Kedaireka, Apkasi juga memiliki program unggulan dalam bidang pendidikan yang dapat dikolaborasikan untuk mengurai permasalahan di daerah.

Staff Ahli Apkasi, Nur Hasanah mengungkapkan, salah satu program unggulan Apkasi adalah peningkatan mutu guru di bidang matematika dan pembelajar English cepat. Diharapkan, kerja sama dengan Kemdikbudristek akan meningkatkan mutu guru di bidang tersebut semakin baik.

Perwakilan dari Apkasi yang juga Bupati Garut, Rudy Gunawan menyambut baik kerja sama dalam Program Dana Hibah Kedaireka Tahun 2023. Upaya itu akan mendorong inovasi, kreativitas perguruan tinggi, dan pengabdian masyarakat yang mendukung program di masing-masing daerah.

“Kami harap pemerintah daerah bisa memaksimalkan program tersebut, lalu bersinergi bersama,” ucap Rudy.

Koordinator Apkasi Wilayah Sumatera Utara sekaligus Bupati Serdang Bedagai, Darma Wijaya juga berharap dana hibah pada Kedaireka bisa digunakan untuk memajukan sumber daya manusia (SDM) di perguruan tinggi, dunia kerja, dunia usaha dan pemerintah daerah. (Tri Wahyuni)