Dapat Bonus, Eko Bidik Prestasi Olimpiade

0
Eko Yuli Irawan (angkat besi) terima bonus Rp 200 juta dari Menpora (Suarakarya.co.id/Warso)

JAKARTA (Suara Karya): Meraih medali emas di kejuaraan dunia angkat besi di Ashgabat Turkmenistan Eko Yuli Irawan menerima bonus Rp200 juta dari Menpora Imam Nahrawi. Hal itu yang membuat tantangan bagi Eko untuk membidik prestasi di Olimpiade Tokyo, Jepang tahun 2020.

“Saya berterima kasih atas apresiasi berupa bonus dari pemerintah. Hal ini merupakan pertama kali yang saya terima sejak tampil di mono event. Bonus ini saya jadikan pemacu semangat untuk tampil di Olimpiade di Jepang tahun 2020,” tegas Eko yang didampingi Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora R Isnanta di Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Lifter berusia 29 tahun ini, menjadi juara dunia kelas 61 kg pada IWF World Championships 2018 sekaligus mengoleksi tiga medali emas untuk kategori angkatan snatch, clean & jerk, serta angkatan total menyisihkan para rival-rival terdekatnya dari China dan negara pecahan Rusia. “Kami memberikan secara simbolik bonus sebesar Rp 200 juta dan untuk pelatih sebesar Rp 100 juta,” kata Menpora.

Menurutnya, angkat besi, bulutangkis dan beberapa cobor lain yang sudah biasa memberi harapan bagi Indonesia di Olimpiade akan kita maksimalkan termasuk untuk angkat besi.

Ia melanjutkan, Eko dan teman temen dari PABBSI mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Karenanya, sudah barang tentu akan ada modal tambahan pembiayaan untuk try out menuju Olimpiade 2020 harus betul-betul diperhatikan dengan baik. Oleh Karena itu, Presiden meminta kepada seluruh cabang olahraga agar pelatnas jangka panjang itu menjadi sesuatu yang mutlak tidak boleh terputus.

Pemerintah betul-betul ingin memberikan perhatian yang lebih serius lagi tidak hanya memberikan penghargaan atau bonus tapi, lebih dari itu harus menjadi stimulan baru bagi semua atlet.

“Bahwa hari ini pemerintah betul-betul memberikan perhatian lebih pada atlet sehingga kita akan memaksimalkan anggaran yang ada untuk ke nomor event, tidak semua nomor akan mendapatkan prioritas. Karena kita tahu tahun 2020 adalah pintu masuk untuk pembuktian hasil Asian Games, maka tentu medalinya lebih banyak dari pada Olimpiade Brasil 2016,” jelasnya. (Warso)