Dari Hakteknas 2021, Mendikbudristek: Beri Perhatian pada Inovasi Mahasiswa!

0

JAKARTA (Suara Karya): Dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) 2021, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyinggung soal hasil inovasi mahasiswa yang belum mendapat perhatian.

Tantangan tersebut akan dimasukkan sebagai salah satu prioritas Kemdikbudristek, lewat Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, yang mengedepankan inovasi dari hasil kolaborasi.

“Saatnya ‘Bangga Buatan Indonesia’ seharusnya tak hanya menjadi jargon, tetapi aksi nyata yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Seperti halnya Merdeka Belajar yang jadi gerakan bersama memperbaiki sistem pendidikan Indonesia,” kata Nadiem dalam peringatan Harteknas 2021 yang digelar daring, Selasa (10/8/21).

Pernyataan senada dikemukakan Wakil Menteri (Wamen) Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono. Dalam diskusi panel, ia mengatakan, pandemi mengajarkan kemandirian bagi bangsa termasuk di bidang kesehatan.

“Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang kompleks. Namun, hasil evaluasi yang dilakukannya, ternyata Indonesia masih mengimpor 10 bahan baku molekul obat yang paling banyak digunakan,” ujarnya.

Menyikapi kondisi itu, Dante berharap, Kementerian Kesehatan (Kemkes) akan mengupayakan agar bahan baku obat tersebut dapat diproduksi di dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia dapat meminimalisir ketergantungnya terhadap produk asing secara bertahap.

Ditambahkan, Kemkes mendukung penciptaan produk kesehatan oleh perguruan tinggi, tetapi produk tersebut harus punya kekuatan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Terbukti, saat pandemi covid-19 terjadi, dalam waktu relatif singkat, Indonesia mampu menghasilkan ventilator dan alat bantu nafas secara mandiri.

“Yang penting, kita semua harus kompak. Menarik industri ke kampus merupakan salah satu upaya yang harus kita lakukan ke depan,” ucapnya menegaskan.

Menurut Dante, berbagai cara bisa dilakukan pemerintah jika memiliki ketahanan di sisi kesehatan, dengan memanfaatkan apa yang ada di sekeliling kita, yaitu kembali ke alam kita. “Dimulai dari kampus yang memberi warna untuk kemandirian kesehatan kita di masa depan,” kaya Wamenkes.

Menyambut hal itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Sesjen Kemenperin), Dody Widodo mengatakan, sebagai bentuk dukungan, pihaknya telah mempertemukan perusahaan dengan peneliti untuk meningkatkan ‘business matching’.

“Ke depan kita bisa dipikirkan lagi, upaya yang lebih luas lagi untuk berkolaborasi, karena kita punya banyak sekolah vokasi dan balai penelitian,” ucap Dody.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek), Nizam mengatakan, semangat membangun kedaulatan teknologi hanya bisa terwujud melalui kolaborasi atau gotong royong.

Dengan semangat untuk membangun teknologi “merah putih”, pemerintah mendorong perguruan tinggi untuk melahirkan inovasi dari kampus untuk bisa memasuki dunia industri dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Platform Kedaireka yang dikembangkan Ditjen Diktiristek mendapat tanggapan positif dari mitra industri, sebagai salah suatu platform untuk berkolaborasi lintas kementerian dan dunia industri,” katanya.

Pada kesempatan terakhir, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinves), Luhut Binsar Pandjaitan memberi apresiasi kepada Kemdikbudristek atas langkah dan inovasinya dalam mewujudkan kemandirian teknologi.

Sebelumnya, Mendikbudristek meluncurkan Lembaga Akreditasi Mandiri Teknik (Lamtek) secara virtual. Peluncuran diikuti Plt. Dirjen Diktiristek, Nizam yang juga Ketua Forum Dekan Teknik Indonesia (FDTI); Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Wikan Sakarinto; Sekretaris Jenderal FDTI Isradi Zainal; Wakil Ketua Umum FDTI, Ngakan Suardana; Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Heru Dewanto; dan Ketua Lamtek, Misri Gozan.

“Diharapkan Lamtek dapat mempercepat peningkatan kualitas program studi teknik yang inovatif, kompetitif dan mandiri,” kata Nadiem menandaskan. (Tri Wahyuni)