Dari Pameran IID, Produk Inovatif Indonesia Berhasil Pikat Jerman

0

JAKARTA (Suara Karya): Hasil penelitian inovatif Indonesia berhasil memikat pengusaha Jerman. Hal itu terlihat pada pemeran bertajuk “Indonesia Innovation Day” (IID) di kota Saarbr├╝cken, Jerman pada akhir Juni 2019 lalu. Hampir separo dari 37 produk inovatif yang dipamerkan berlanjut pada kontrak kerja.

“Sekitar 40 persen produk berlanjut dengan kontrak kerja, 25 persen akan ditindaklanjuti. Dan 25 persen lainnya akan dibahas lebih dalam,” kata Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Kemal Prihatman kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Dalam kesempatan itu, Kemal Prihatman didampingi peneliti dari Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, Aswandi dan peneliti dari Balai Besar Pulp dan Kertas, Susi Sugesti.

Kemal menjelaskan, 37 produk yang dipamerkan di Jerman merupakan hasil riset Pusat Unggulan Iptek (PUI) dan Science Techno Park (STP) di Indonesia. Produk tersebut memiliki kualitas yang mumpuni, karena selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga akan dijual di pasar internasional.

“Hasilnya ternyata melebihi target. Kami bawa pulang sekitar 14 kontrak kerja, 25 persen sisanya akan ditindaklanjuti dan 25 persen produk lain masih dibahas lebih dalam,” kata Kemal Prihatman.

Ditanya soal potensi ekonomi yang bakal diperoleh Indonesia dari kontrak kerja itu, Kemal belum dapat menyebut angkanya. Ia mencontohkan produksi buah merah di Papua Barat untuk diekspor ke Jepang, dari hasil kontrak IID tahun 2018 lalu, yang capai Rp500 juta per sekali kirim.

Ditambahkan, perhelatan IID sebenarnya telah digagas sejak 2017 lalu di Belanda. Melihat respon yang bagus, pameran IID pun digelar di Jepang pada 2018. Pameran IID 2019 kembali digelar di Eropa yaitu Jerman, dengan harapan dapat mengulang kesuksesan di Belanda.

“Ada sekitar 100 tamu yang hadir pada IID 2019. Meski jumlahnya tak banyak, tapi antusias mereka pada produk yang dipamerkan membuat kami bahagia. Karena berlanjut dengan kontrak kerja,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Kemal, pihaknya mendapat banyak masukan dari para tamu yang hadir dalam pameran IID. Mereka berharap riset inovatif dikaitkan dengan isu yang berkembang di masyarakat global seperti isu lingkungan. Hal itu, katanya, dijamin akan memikat asing.

Kemal menyebut 37 produk inovatif yang dipamerkan di IID 2019, salah satunya parfum kemenyan tobarium dari Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli. Parfum itu menarik perhatian karena bisa menjadi pengganti alkohol.

“Minyak kemenyan ini ternyata memiliki kekuatan seperti alkohol sebagai biang parfum. Bahkan, aromanya lebih awet dibanding alkohol. Produk ini langsung menarik perhatian pengusaha Jerman untuk kontrak kerja,” ujarnya.

Produk lainnya seperti ikan SuperGold dan SuperGolde dari Balai Riset Budidaya Ikan Hias, tanaman hias air tawar dari Balai Riset Budidaya Ikan Hias, data AIS Satellite dari Pusat Teknologi Satelit.dan nanobisoilika dari sekam padi dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian.

Selain itu masih ada produk serat bambu untuk komposit dan tekstil dari Balai Besar Pulp dan Kertas, inokulum Fermentasi Kakao dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan medium resolution processor/Lapan Advanced Image Processing System (LAIPS) dari Pusat Teknologi dan Data Penginderan Jauh.
(Tri Wahyuni)