Dave Laksono: Kominfo dan Operator Telekomunikasi Harus Padu Beri Layanan Internet Untuk Siswa Soal Online Learning Cegah Corona

0

JAKARTA (Suara Karya): Anggota Komisi 1 DPR dari Fraksi Partai Golkar (FPG) Dave Laksono meminta kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan operator telekomunikasi penyedia layanan akses internet secara padu memberikan layanan yang mudah terjangkau bagi siswa-siswa sekolah dan mahasiswa di tengah kondisi tidak adanya aktivitas belajar di sekolah maupun kampus sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus Corona (Covid-19).

Online learning, salah satu istilah yang menggambarkan sistem belajar secara virtual di mana guru tetap mengajar melalui sambungan video ataupun media lainnya. Kebijakan itu mulai aktif pada Senin, 16 Maret 2020.

“Fasilitas layanan internet yang memudahkan distance learning dapat diberikan dalam bentuk paket-paket gratis atau terjangkau yang lebih luas. Tidak saja ke banyak sekolah akan tetapi juga kepada perguruan tinggi yang juga membutuhkan dalam rangka belajar dari rumah,” kata Dave Laksono dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (25/3).

Menurut politisi Partai Golkar itu, kebijakan online learning memiliki kelemahan dari sisi kemampuan akses dan kuota internet siswa yang berbeda-beda.

“Kondisinya banyak siswa yang mengandalkan akses internet cuma lewat kuota. Padahal ketika social distancing ini kemudian work from home, itu kan memerlukan kuota (internet),” katanya.

Sehingga, kata Dave Laksono, perlu ada kebijakan untuk menggratiskan atau mengurangi harga biaya kuota internet. “Harusnya ini bisa dilakukan untuk menolong masyarakat terutama anak-anak sekolah,” lanjutnya.

Sebagai Anggota Komisi 1 DPR, Dave Laksono juga akan meminta kepada Kominfo untuk berkomunikasi dengan operator telekomunikasi dan internet untuk menyediakan bandwidth untuk menunjang aktifitas masyarakat di rumah dalam pencegahan wabah virus Corona.

“Tapi kepada masyarakat, kita minta jangan menggunakan internet atau ruang digital untuk hal-hal yang belum menjadi prioritas. Misalnya kuota dipakai untuk main tik-tok atau download film yang tidak perlu. Sehingga keseluruhan usaha kita untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah itu bisa dilakukan dengan layanan yang prima,” ujarnya. (Pram)