DDII: Hari Santri Harus jadi Momentum Kebangkitan Pesantren

0

JAKARTA (Suara Karya): Peringatan Hari Santri yang dilaksanakan setiap 22 Oktober harus menjadi momentum kebangkitan pesantren sebagai lembaga pendidikan terbaik di Indonesia.

Untuk itu, pesantren dan santri harus mampu menjawab tantangan perubahan secara tepat, agar peradaban Islam tak tergilas zaman.

“Sejak penjajahan dulu, pesantren telah menjadi sentral kebangkitan dan perjuangan bangsa,” kata Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Adian Husaini dalam webinar bertajuk ‘Peta Jalan Kebangkitan Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Terbaik’, Jumat (22/10/21).

Adian menambahkan, banyak tokoh Islam berjuang melawan penjajahan Belanda dengan cara mendirikan pesantren. Hal itu dilakukan, misalkan, oleh Syaikh Yusuf Al-Makassari, Syaikh Abdul Samad Al-Palimbani dan lainnya.

“Pesantren tak saja menjsdi lembaga pendidikan, tetapi memiliki peran penting dalam perjuangan nasional,” ujarnya.

Konsep pesantren, menurut Adian, juga dikembangkan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara lewat Taman Siswa. Karena ia menolak keras sistem pendidikan yang dibangun Belanda.

“Ki Hajar Dewantara menolak sistem pendidikan Belanda karena dibangun hanya untuk kepentingan mereka,” ucapnya.

Ia melanjutkan, Ki Hajar Dewantara menguraikan sifat pesantren atau pondok dan asrama yaitu sebagai rumah kiai guru, yang dipakai untuk pondokan santri-santri dan rumah pengajaran juga. Di sana, setiap hari guru dan murid berkumpul menjadi satu untuk melakukan kegiatan belajar mengajar sendiri.

“Menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak-anak kita, supaya kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan bersusila,” tuturnya.

Ki Hajar Dewantara juga menjabarkan, pengajaran adab kepada siswa agar jiwa anak terbangun seutuhnya bersamaan dengan pendidikan jasmaninya.

“Makanya menarik ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sejak zaman Anies Baswedan hingga Nadiem Makarim selalu menggaungkan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara,” ujarnya.

Kendati demikian, Adian juga mewanti-wanti kepada orang tua siswa agar tak menjadikan pesantren sebagai tempat ‘pelarian’ pendidikan bagi anak-anaknya yang dianggap bermasalah.

Pesantren bukan wadah untuk menjadikan anak-anak yang bermasalah menjadi lebih baik secara instan. Pendidikan harus kerjasama pesantren dan orang tua.

“Harus diingat, jika menanamkan adab itu butuh keteladanan dan pembiasaan,” kata Adian menandaskan. (Tri Wahyuni)