Demi Mutu Pembelajaran, Uhamka Gencarkan Doktorisasi bagi Dosen

0
Rektor Universitas Prof Dr Hamka, Gunawan Suryoputro. (surakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Universitas Prof Dr Hamka (Uhamka) dalam beberapa tahun terakhir ini gencar melakukan doktorisasi terhadap para dosennya. Upaya itu dilakukan sebagai komitmen kampus untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Setiap tahun, kami dorong 50 dosen untuk mendaftar ke program doktor. Saat ini sudah ada 400 dosen yang sedang kuliah doktor,” kata Rektor Universitas Prof Dr Hamka, Gunawan Suryoputro dalam media gathering yang digelar daring, Selasa (16/2/2021).

Hadir dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor 1 Uhamka Bidang Akademik, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat serta Publikasi, Abdul Rahman Ghani dan Warek 3 Bidang Kemahasiswaan, Lelly Qodariah.

Sangking pentingnya program doktorisasi di Uhamka, Gunawan berseloroh akan memberi sanksi berupa ‘pensiun dini’ kepada dosen yang tak mampu meraih gelar doktor dalam kurun waktu 10 tahun. Karena disadari, kualitas sumber daya manusia (SDM) penting untuk kemajuan kampus.

“Perguruan tinggi unggul itu dinilai dari hasil risetnya. Untuk menghasilkan riset, kekuatannya ada di SDM. Dan SDM akan kuat jika kita punya kualifikasi pendidikan yang sesuai,” ucap Gunawan menegaskan.

Ditambahkan, Uhamka saat ini memiliki sekitar 150 dosen bergelar doktor atau 24 persen dari total 600 dosen. Dari jumlah itu, sekitar 400 dosen sedang disiapkan ikut program doktor. “Semoga 60 persen dosen Uhamka yang masih lulusan S2 bisa segera lanjut doktor,” ucapnya.

Gunawan menuturkan, Uhamka dalam beberapa tahun terakhir ini juga makin diminati lulusan sekolah menengah atas (SMA). Hal itu terlihat dalam penerimaan mahasiswa baru, dimana setiap tahun terjadi peningkatan pendaftar. Dari sebelumnya sekitar 7.500 orang hingga kini menjadi 10.500 orang.

“Tahun ini diperkirakan jumlah pendaftar akan naik hingga 15 ribu orang. Dengan demikian, proses seleksi mahasiswa baru di Uhamka semakin ketat. Karena kami hanya menerima mahasiswa baru sekitar 4.500 orang,” ucap Gunawan.

Program pembenahan lainnya, disebutkan Gunawan adalah penerapan kurikulum global yang memiliki kompetensi abad 21. Kurikulum itu menjadikan mahasiswa berpikir kritis, inovatif dan kemandirian.

“Jika SDM kampus dan kurikulum sudah berbasis global, maka secara otomatis mutu pembelajaran dan risetnya menjadi global,” katanya.

Terkait program Kampus Merdeka yang digagas Kemdikbud, Gunawan siap mendukung. Karena ada beberapa kegiatan dalam program tersebut telah dilakukan Uhamka sejak lama. Salah satunya, program pembimbingan mahasiswa di daerah 3 T.

“Kami punya program kemitraan dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Maranata Kupang dan sebuah PTN di Sorong, Papua. Lewat kerja sama itu, kita bisa belajar budaya-budaya daerah, tak hanya memahami rumpun ilmu tertentu,” katanya.

Soal kolaborasi dengan kampus asing, Gunawan menyebut Uhamka, hal itu telah dilakukan kampus di Filipina dalam 1 tahun terakhir. Termasuk kerja sama dengan kampus di Uzbekistan, Vietnam, Thailand dan Malaysia. Nantinya mahasiswa akan berada di luar kampus, yaitu industri atau perguruan tinggi lain.

“Uhamka mempertimbangkan segala aspek kekuatan ketika melakukan kerja sama baik dengan industri atau kampus lain. Kerja sama itu harus reciprocal benefit atau timbal balik,” kata Gunawan menandaskan. (Tri Wahyuni)