Demi Pelestarian Bahasa Daerah, BBPJT Susun Kamus Budaya Jawa

0

JAKARTA (Suara Karya): Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (Jateng) saat ini tengah sibuk mengumpulkan kosakata baru untuk penyusunan kamus Budaya Jawa. Kamus tersebut, selain bagian dari upaya pelestarian bahasa daerah, juga demi menyumbang kosakata unik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

“Penyusunan kamus menjadi penting, karena kosakata serapan dari bahasa daerah dapat dimanfaatkan sebagai padanan untuk bahasa asing,” kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Ganjar Harimansyah mengemukakan hal itu dalam siaran pers, pada Senin (25/10/21).

Ganjar menyebut beberapa istilah yang telah dimanfaatkan dan diterima oleh masyarakat, misalkan, kata unduh dan unggah yang diserap dari bahasa Jawa sebagai padanan kata download dan upload.

“Kosakata unik daerah yang belum ada padanannya dalam Bahasa Indonesia juga potensial untuk menambah atau mengayakan kosakata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dijadikan rujukan utama di Indonesia saat ini,” ucapnya menegaskan.

Ditambahkan, penyerapan kosakata itu tentunya harus diikuti dengan kodifikasi agar tercipta keteraturan bentuk yang sesuai dengan kaidah pemakaian bahasa Indonesia. Salah satu bentuk produk kodifikasi itu adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

“Keberagaman kosakata bahasa daerah yang terserap dalam KBBI dapat menjadi salah satu tolok ukur seberapa jauh pemerintah memperhatikan bahasa daerah di nusantara,” tuturnya.

Pada konteks persatuan, menurut Ginanjar, dimasukkannya kosakata bahasa daerah secara tak langsung menumbuhkan rasa memiliki bahasa Indonesia. Seberapa besar kontribusi kosakata bahasa daerah dalam bahasa Indonesia, bisa dilihat dari keberadaan kosakata bahasa daerah di dalam kamus.

“Kamus, selain menjadi sumber rujukan dalam memahami makna kata suatu bahasa, juga merupakan rekaman tertulis penggunaan bahasa yang digunakan oleh masyarakat penggunanya,” katanya.

KBBI merupakan salah satu kamus komprehensif yang merekam penggunaan kata, termasuk di dalamnya kosakata bahasa daerah yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Kosakata daerah yang ada dalam KBBI Pusat Bahasa terbitan tahun 2008 berjumlah 3.592 entri, jumlah yang relatif kecil pada upaya pengayaan KBBI.

“Karena itu, pernyataan yang menyebutkan bahasa daerah adalah pilar utama dan penyumbang terbesar kosakata bahasa negara, seperti tersurat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 40 Tahun 2007, perlu dicermati lagi,” kata Ganjar mempertanyakan.

Pemerintah, melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) telah melakukan upaya untuk memudahkan dan mempercepat pengayaan kosakata bahasa Indonesia, melalui sebuah aplikasi.

Aplikasi pengusulan kosakata berbasis android dan web itu, kini tengah dikembangkan dalam ‘KKBI dalam Jejaring’. Aplikasi itu memuat kosakata berbagai bahasa daerah untuk menjadi bagian dari pemutakhiran KBBI.

Aplikasi tersebut memudahkan pengguna KBBI mengusulkan kosakata baru yang muncul dan digunakan masyarakat dalam ragam komunikasi secara nasional. Kosakata bahasa daerah yang diusulkan tentunya, melalui tahap seleksi dan penyuntingan secara berlapis oleh tim KBBI berdasarkan syarat-syarat yang telah ditetapkan.

Hingga saat ini setidaknya sudah ada penambahan sekitar 100.000-an kosakata bahasa daerah dan istilah khusus bidang ilmu tertentu yang menjadi bagian dari lema-lema dalam KBBI edisi V.

“Indonesia kaya akan budaya dan bahasa daerah. Kekayaan budaya nusantra tersebut menjadi aset besar bagi bangsa Indonesia untuk berbangga di mata dunia. Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi informasi, dan komunikasi, kosakata budaya yang asli milik bangsa mulai tergerus,” ujarnya.

Generasi muda yang saat ini dikenal dengan istilah generasi milenial atau generasi Z sudah tak lagi mengenal kosakata budaya asli Indonesia. Jawa, misalkan, yang merupakan salah satu budaya besar di Indonesia pun tak luput dari kekhawatiran akan punahnya istilah-istilah budaya yang dahulu pernah berjaya.

“Hal itu menjadi salah satu alasan dalam penyusunan Kamus Budaya Jawa yang dilakukan tim KKLP Perkamusan dan Peristilahan, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Kebudayaan Jawa menyimpan banyak khazanah kosakata khusus, yang dimungkinkan menyumbang kosakata dalam KBBI,” ucapnya.

Mengingat pentingnya kosakata budaya untuk disumbangkan menjadi lema dalam KBBI, tim melibatkan beberapa informan di lapangan untuk melakukan upaya pendefinisian secara spesifik terhadap kosakata-kosakata dan istilah budaya tersebut.

“Tim penyusun melakukan wawancara mendalam dengan para informan di lapangan untuk memeroleh data yang akurat dalam melakukan penyusunan Kamus Budaya Jawa ini,” katanya.

Adapun informan yang diwawancarai adalah pelaku-pelaku budaya di Jawa Tengah dan dimungkinkan memiliki khazanah kosakata dan istilah budaya Jawa yang dapat menjadi bahan pengayaan kosakata dan istilah. (Tri Wahyuni)