Demi Pemajuan Kebudayaan, Kemdikbudristek Luncurkan Kanal Indonesiana

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) meluncurkan Merdeka Belajar Episode 13 berupa kanal khusus budaya, bernama Indonesiana. Diharapkan, kanal tersebut dapat mewadahi, mengintegrasikan dan mempromosikan karya dan ekspresi budaya Indonesia.

“Kanal dapat diakses lewat laman indonesiana.tv dan siaran televisi jaringan Indihome saluran 200 (SD) dan 916 (HD), serta Facebook, Twitter, Instagram, YouTube dan TikTok kanal Indonesiana TV,” kata Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim secara daring, Jumat (3/9/21).

Menurutnya, Indonesia adalah negara pertama di dunia yang memiliki Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) untuk mengukur pemajuan kebudayaan. Aspek yang dinilai dalam IPK adalah warisan budaya, ketahanan sosial budaya, pendidikan, ekonomi budaya, gender, budaya literasi dan ekspresi budaya.

“Skor IPK Indonesia mengalami kenaikan dari 2018 ke 2019, namun sayangnya nilai aspek ekspresi budaya masih rendah, yakni 37,14 dari rentang nilai 0 sampai dengan 100. Karena itu, kita butuh media untuk pembelajaran, wadah ekspresi dan interaksi budaya,” tuturnya.

Kanal Indonesiana, lanjut Nadiem, akan dijadikan sebagai media resmi Indonesia untuk diplomasi budaya secara internasional, seperti halnya di negara-negara maju.

Disebutkan, kanal kebudayaan asing yang didukung pemerintah di negara maju antara lain, Arirang TV oleh Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan dan BBC Culture yang merupakan saluran radio, televisi, film, laman dan kanal digital yang didukung Sekretariat Negara Bidang Digital, Media dan Olahraga Inggris.

“Kita tidak bisa lagi bergantung pada cara-cara lama untuk memajukan kebudayaan. Misalkan, pertunjukan langsung di atas panggung atau parade kebudayaan. Kita manfaatkan teknologi yang promosi kebudayaan lebih luas,” ujarnya.

Kanal Indonesiana akan dibangun bersama masyarakat, pelaku dan komunitas seni budaya. Karena partisipasi masyarakat adalah kunci dalam menciptakan kanal budaya yang inklusif dan relevan. Selain menumbuhkan rasa kepemilikan bersama atas kebudayaan Indonesia yang luar biasa.

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemdikbudristek Hilmar Farid menyampaikan harapannya agar publik bisa berpartisipasi dalam mengembangkan dan memanfaatkan Kanal Indonesiana. “Partisipasi yang diharapkan adalah menampilkan karya dan ekspresi yang keren-keren dari seluruh daerah,” ujar Hilmar.

Ia juga mengajak masyarakat untuk aktif memberi informasi terkait karya budaya para seniman Indonesia. “Jika ada seniman yang ingin karya dikenal seluruh dunia, cukup mention kita di Indonesiana TV. Ada di Tiktok dan Twitter juga. Nanti redaksi akan menghubungi. Kalau betul-betul pas dengan konsep kita, maka kiya bisa langsung kerja sama,” katanya.

Hilmar berharap Indonesiana bisa diakses seluas mungkin. Saat ini baru bisa dilihar melalui Indihome dan internet. “Namun kami sadar, banyak yang belum punya akses ke sana. Nanti, Indonesiana bisa diakses melalui satuan pendidikan dan komunitas yang biasa gelar nonton bareng di bioskop lokal. Ini pengembangan ke dalam,” ucapnya.

Untuk pengembangan keluar, lanjut Hilmar, Indonesiana akan menjadi platform promosi keragaman dan kekayaan budaya Indonesia ke dunia internasional. “Kami berharap Indonesiana bisa dilihat di saluran-saluran TV kabel di luar negeri. Ini target kita pada 2022-2023,” katanya.

Hadir dalam peluncuran Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian. Hetifah mengungkapkan, salah satu dukungan DPR untuk Indonesiana adalah regulasi sebagai payung hukum untuk pemajuan kebudayaan. Selain persetujaluan anggaran untuk programnya.

Selain Hetifah, hadir penggiat budaya dan maestro tari Didik Ninik Thowok yang mengalami betapa sulitnya mendapat wadah berekspresi yang berkualitas, khususnya di masa pandemi. Karena kesempatan bagi seniman Indonesia untuk mendapat panggung di stasiun televisi sangat terbatas.

“Kerinduan seniman Indonesia, termasuk saya, untuk berekspresi, akan terwujud dalam kanal Indonesiana ini,” tuturnya.

Menurut Didik, jika wadah berekspresi melalui Indonesiana sudah terwujud, maka kehadiran kurator menjadi hal yang penting. Terutama kurator yang memiliki pengalaman dan jejaring dengan seniman-seniman di daerah pedalaman. “Saya sanggup nanti untuk blusukan ke daerah-daerah,” katanya.

Mewakili anak muda, penyanyi Vira Talisa meyakini bahwa suguhan informasi dari Kanal Indonesiana akan menarik bagi generasinya. “Aku ingin melihat tradisi musik itu dari rumah,” katanya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir ikut memberi dukungannya atas keberadaan Kanal Indonesiana. “Untuk pertama kalinya kita bisa menghadirkan akses untuk ekspresi kebudayaan Indonesia secara luas. Tak hanya masyarakat di Indonesia, tapi juga di dunia,” ujarnya.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menyatakan, diluncurkannya Kanal Indonesiana di masa pandemi ini sangatlah tepat. “Selama pandemi, pelaku seni dan budaya Indonesia tidak bisa secara bebas mengekspresikan karya di ruang publik. Sebaliknya, masyarakat luas juga tidak dapat menikmati ragam seni budaya Indonesia secara langsung,” katanya.

Keterbatasan ini juga mempengaruhi kerja diplomasi budaya yang dilakukan pemerintah. Karena itu, kehadiran kanal Indonesiana dapat menjadi platform penting untuk menembus berbagai keterbatasan itu.

Dari luar negeri, Kanal Indonesiana sebagai alat diplomasi budaya juga mendapatkan sambutan positif. Dukungan tersebut antara lain datang dari Duta Besar (Dubes) RI untuk Inggris Raya, Desra Percaya; Dubes RI untuk Republik Rakyat Tiongkok Merangkap Mongolia, Djauhari Oratmangun; dan Dubes RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya.

Dubes Tantowi mengatakan, kanal Indonesiana dapat memperluas akses bagi literasi budaya, ruang ekspresi, dan interaksi budaya.

Pemangku kepentingan lain dari berbagai kalangan juga turut memberi dukungan dan apresiasi pada Indonesiana. Mereka antara lain adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo; Walikota Solo Gibran Rakabuming; Komposer Erwin Gutawa; Penggiat Budaya Batak, Ojax Manalu; Pemeran dan Penari, Nungki Kusumastuti; Dalang dan Pencipta Musik Gamelan, Blacius Subono.

Selain itu masih ada penggiat Budaya Fafa Utami; Koreografer Hartarti; Musisi Neotradisional Ivan Nestorman; Komposer Gamelan, Penulis Lagu, dan Penyanyi, Peni Candra Rini; Penata Musik Adra Karim; Penata Seni Pertunjukan, Inet Leimena; Perupa Dolorosa Sinaga; Sutradara dan Penulis Skenario Rahabi Mandra; Aktris Maudy Kusnaedi; dan beberapa aktor seperti Chicco Jericho, Abimana dan Jeremy Thomas. (Tri Wahyuni)