Demi Teknologi CCUS, Universitas Pertamina Libatkan Masyarakat Lokal

0

JAKARTA (Suara Karya): PT Pertamina menggandeng Universitas Pertamina (UP) dalam penerapan teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage and Enhanced Gas Recovery (CCUS/EGR) untuk proyek lapangan Gundih di Cepu, Jawa Tengah. UP dilibatkan dalam bidang komunikasi dengan masyarakat lokal.

“Tim UP akan memetakan dan merumuskan strategi terkait keterlibatan masyarakat dalam proyek CCUS di Gundih,” kata Pelaksana tugas (Plt) Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis & Fakultas Komunikasi sekaligus Ketua Tim Diplomasi Universitas Pertamina, Farah Mulyasari dalam siaran pers, Kamis (22/7/21).

Penerapan CCUS/EGR di lapangan Gundih, Cepu menjadi penting karena teknologi tersebut ramah lingkungan. CCUS dapat mengurangi emisi CO2 hingga 300 ribu ton per tahun, sekaligus meningkatkan produksi gas.

“Penelititian yang dilakukan World Research Institute (WRI) menyebut, Indonesia menempati rangking ke-8 dari 10 negara penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Karena itu, kami menyusun ‘roadmad dekarbonasi’ lewat penerapan teknologi CCUS di Gundih, Cepat guna menurunkan emisi gas rumah kaca tersebut,” tuturnya.

Namun, diakui Farah, teknologi CCUS belum dipahami sepenuhnya oleh masyarakat setempat. Ketidaktahuan itu dikhawatirkan akan menghambat pelaksanaan proyek.

“Universitas Pertamina mendapat tugas untuk urusan komunikasi dengan masyarakat. Semoga prosesnya berjalan sesuai rencana,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Farah, Tim UP telah menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Blora, perwakilan masyarakat Kabupaten Blora, media lokal, Badan Usaha Milik Negara Pengelolaan Hutan Kantor Wilayah Jawa Tengah (Perhutani), National Center of Excellence for CCS/CCUS Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT Pertamina EP.

“Dari FGD diketahui ada perbedaan faktor pembentuk opini publik di masing-masing kelompok pemangku kepentingan. Tim menganalisa tingkat pemahaman pada masing-masing kelompok terhadap isu lingkungan. Selain harapan dan motivasi masing-masing kelompok terhadap hasil proyek,” ucap Farah.

Karena itu, menurut Farah, strategi komunikasi yang dipilih berupa pelibatan pemimpin kunci atau ‘key opinion leader’ dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. “Edukasi ke masyarakat pun dilakukan dengan teknik story-telling melalui pedekatan yang humanis,” tuturnya.

Ia mengaitkan perubahan iklim dan pemanasan global akibat kenaikan emisi CO2 sebagai komponen utama gas rumah kaca dapat merusak lingkungan. “Kami juga libatkan media lokal untuk mempromosikan proyek CCUS Gundih yang dapat menciptakan lapangan kerja baru di wilayah proyek,” ucapnya.

Farah dan tim berharap proyek CCUS Gundih dapat memberi manfaat yang signifikan terhadap upaya mitigasi pemanasan global dan memberi manfaat keekonomian bagi negara dan pelaku bisnis di sektor energi. “Mudah-mudahan strategi ini dapat menjadi inspirasi bagi peneliti lain, yaitu tidak melupakan peran serta publik dalam setiap proyek penelitian yang dilakukan,” ujarnya.

Di Universitas Pertamina, keterlibatan mahasiswa bisa ditemui hampir di seluruh proyek penelitian para dosen. Tujuannya, untuk melatih mahasiswa menyelesaikan masalah riil di industri. Hal itu merupakan metode project based learning yang diterapkan UP.

“Kami juga kerap menggelar kuliah pakar industri, kunjungan rutin ke industri dan berbagai program magang bagi mahasiswa agar lebih siap terjun ke dunia kerja setelah lulus,” kata Farah menandaskan. (Tri Wahyuni)