Desa akan Dilibatkan dalam Program Pemajuan Kebudayaan

0
(Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Desa akan dilibatkan dalam program pemajuan kebudayaan. Karena, desa menyimpan kekayaan budaya lokal yang perlu digali kembali, dilestarikan dan diwariskan.

“Program ini diharapkan bisa menjadi pintu masuk bagi perangkat desa dalam membuat kebijakan agar berbasis kebudayaan,” kata Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Hilmar Farid dalam peluncuran Program Desa Pemajuan Kebudayaan secara virtual, Jumat (14/8/20).

Hadir dalam kesempatan itu, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), Melani Budianta; Direktur Pelayanan Sosial Dasar, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Bito Wikantosa serta Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kemdikbud, Restu Gunawan.

Hilmar menjelaskan, Program Desa Pemajuan Kebudayaan dibuat untuk menemukenali potensi yang dimiliki desa, sehingga masyarakat dapat mengembangkan dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan. Kuncinya adalah lewat penguatan ekosistem budaya.

“Ini adalah momen yang tepat untuk kembali ke desa dan menguatkan ketahanan budaya desa guna mendorong pembangunan yang berkelanjutan. Masyarakat di desa sering hanya menjadi penonton, padahal daerahnya memiliki cerita sejarah, objek pemajuan kebudayaan dan cagar budaya,” tutur Hilmar.

Ditambahkan, desa adalah kekuatan masyarakat yang paling kecil. Ketika budaya desa maju, maka Indonesia akan maju juga. Karena kebudayaan nasional adalah kumpulan dari kebudayaan-kebudayaan yang ada di desa. Mereka menyatu menjadi Indonesia.

Hilmar menyebutkan Program Desa Pemajuan Kebudayaan akan dilakukan dalam beberapa tahapan kegiatan. Antara lain, Bincang Santai Seri Temukenali Budaya Desaku, Lomba Cerita Budaya Desaku dan Pendampingan Pengembangan Potensi Masyarakat Desa di Bidang Kebudayaan.

Hal senada dikemukakan Melani Budianta. Katanya, budaya setempat lahir saat manusia bersinergi dengan alam lingkungannya dan hidup berkelanjutan atas pengelolaan alam di lingkungannya. Selain, menata relasi sosial antar warga untuk menghindari konflik.

“Agar hidup lebih indah dah menyenangkan, masyarakat di desa saling menjaga kekerabatan, kerukunan, kerja sama dan pemecahan masalah lewat kreativitas. Selain membangun spiritualitas (keserasian dengan pencipta, alam ciptaan dan semesta) dan mewariskan nilai luhur tersebut kepada generasi mendatang,” tutur Melani.

Sementara itu, Direktur Pelayanan Sosial Dasar, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Bito Wikantosa berharap program yang digagas Ditjen Kebudayaan dapat menghadirkan dinamika kehidupan desa sebagai wujud kebudayaan.

“Tujuan akhir pembangunan desa adalah mencapai SDG’s Desa atau pembangunan desa yang berkelanjutan,” ucapnya menandaskan.

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemdikbud, Restu Gunawan menambahkan program tersebut dapat menjadi sarana untuk mengembangkan ekosistem budaya di desa. Hal itu itu dilakukan demi tercapaikan Pemajuan Kebudayaan di berbagai lapisan masyarakat.

“Salah satu kegiatan Desa Pemajuan Kebudayaan adalah menggali potensi desa lewat Lomba Cerita Budaya Desaku. Lomba itu menjadi langkah awal bagi kementerian dalam memetakan potensi budaya di masyarakat,” kata Restu seraya menambahkan kegiatan digelar sejak 8 Agustus hingga 10 September 2020.

Disebutkan, peserta lomba adalah komunitas atau kelompok yang berada di desa. Komunitas atau kelompok itulah yang menjadi penggerak di masing-masing desa untuk mempertahankan rasa memiliki akan budaya lokal, lalu melestarikannya untuk generasi penerus.

“Peserta dapat mengirim 3 jenis karya yang dibuat dalam satu kesatuan saling mendukung lewat narasi yang dilengkapi foto dan video. Ketiga karya itu akan masuk dalam data kekayaan budaya desa yang nantinya menjadi dasar dalam perumusan kebijakan desa,” katanya.

Restu mencontohkan video Cerita Budaya Desaku yang diunggah ke kanal youtube. Hal itu menjadi bukti eksistensi dari budaya desa yang dapat menjadi media pewaris antar generasi. Upaya itu juga menjadi salah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari suatu desa.

Nantinya, lanjut Restu, terpilih 30 desa terbaik yang menjadi pendamping dalam pemberdayaan masyarakat desa di bidang kebudayaan. Kegiatan itu akan diperluas lagi pada tahun mendatang. Peserta lomba dapat mengakses materi lomba ke laman desabudaya.kemdikbud.go.id. (Tri Wahyuni)