Di Pemilu 2019, Golkar Gunakan Metode Micro Targeting

0

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto membuka Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Bapillu (Badan Pemenangan Pemilu), di Jakarta, Sabtu (20/10/2018).

Dalam sambutan pembukaannya, Airlangga menyatakan bahwa
Partai Golkar akan menggunakan cara baru dalam kampanye Pemilu 2019, yaitu model micro targeting.

Model ini, katanya, merupakan salah satu strategi pemasaran yang menggunakan data demografis dalam mengidentifikasi rasa ketertarikan pada setiap individu ataupun kelompok dengan maksud untuk mempengaruhi pemikiran, keputusan, dan aksi para pemilih.

‎”Bappillu sedang mengkaji metode baru dalam kampanye politik, yaitu strategi micro targeting. Ini memanfaatkan big-data untuk memotret secara lebih detail orang perorang dan siapa saja tokoh yang berpengaruh serta apa saja harapan-harapan dan keinginan mereka,” kata Airlangga.

Hadir pada acara itu Ketua Dewan Pakar Agung Laksono, Sekjen PG Ludwiq Paulus, Bendahara Umum PG Robert J Kardinal, Ketua Fraksi PG di DPR Melkias Marus Mekeng, dan para pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PG. Hadir pula para Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tingkat I (Propinsi) dari seluruh tanah air.

Airlangga menjelaskan, Bappillu adalah organ partai yang dibentuk untuk mengendalikan pemenangan pemilu. Dalam memenangkan Pemilu 2019, PG akan mendayagunakan struktur dan jaringan partai serta kekuatan para caleg untuk menguasai setiap dapil di semua tingkatan.

“Semua kekuatan Partai Golkar harus bersatu padu, bergerak secara solid mulai dari pusat sampai ke daerah-daerah. Tantangan yang kita hadapi tidaklah ringan, persaingan antar partai politik akan berlangsung dengan ketat. Suhu politik juga akan meningkat, pertarungan merebut dukungan rakyat akan semakin seru. Karena itu, semua kader Golkar untuk tetap waspada dan terus bekerja demi dan bersama dengan rakyat,” ujar AH yang juga Menteri Perindustrian Republik Indonesia.

Sebagaimana diketahui, ‎micro-targeting cara kerjanya lebih mirip seperti beriklan di Facebook Ads, Twitter Ads, ataupun Google AdWords. Pengiklan bisa memilih apakah informasi pesan yang ingin disampaikan bersifat global atau hanya akan fokus pada kategori tertentu saja.Semakin kecil irisan target yang dibidik, semakin spesifik pula informasi pesan yang dikirimkan.

Penggunaan big data dan micro-targeting diawali kira-kira tahun 2005 ketika George W Bush mencalonkan diri kembali sebagai presiden Amerika Serikat dan ditiru oleh presiden Barack Obama di pemilihan keduanya pada tahun 2012.

Model kampanye politik micro-targeting mengacu pada premis bahwa untuk mendapatkan suara pemilih lebih banyak maka kampanye pemilu harus berdasarkan pada pembagian per-kategori wilayah potensial.

“Metode ini dilakukan supaya pesan yang disampaikan bisa lebih terfokus pada kebutuhan, harapan, permasalahan, dan kepentingan setiap segmentasi kunci dalam upaya meningkatkan elektabilitas sang calon pemimpin,” katanya menambahkan. (Gan)