Diakui hingga 24 SKS, Lulusan Lembaga Kursus Bisa Lanjut Kuliah!

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) membuka kesempatan bagi lulusan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Demikian dikemukakan Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi), Kemdikbudristek, Kiki Yuliati secara daring, usai menyaksikan penandatangan kerja sama antara 54 LPK dan 4 Perguruan Tinggi terkait Program RPL, Rabu (21/9/22).

Kiki menjelaskan, peserta LKP yang mengikuti program RPL akan dihitung angka kreditnya ketika melanjutkan ke perguruan tinggi. Misalkan, peserta kursus yang telah menjalani 1-2 tahun, pembelajarannya terdahulu akan diakui hingga 24 SKS atau masuk perguruan tinggi langsung ke semester tiga.

“Upaya itu dilakukan karena pendidikan kursus akan terus dikembangkan agar perannya semakin kuat. Salah satunya, memperkokoh kerja sama dengan pihak eksternal untuk pengembangan program agar pendidikan vokasi benar-benar membawa perubahan pada masyarakat,” ujarnya.

Ditambahkan, LKP memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam meningkatkan sumber daya manusia melalui kecakapan hidup atau ‘life skill’.

“Program dalam pendidikan vokasi diharapkan memberi tiga nilai penting, yaitu nilai pendidikan, ekonomi dan sosial. Karena pendidikan vokasi tak hanya memberi nilai keterampilan, tetapi juga nilai pendidikan,” tuturnya.

Pendidikan vokasi, lanjut Kiki, juga memberi kesempatan bekerja, berwirausaha dan melanjutkan studi pendidikan. Sehingga pendidikan vokasi memberi nilai ekonomi.

Nilai selanjutnya, menurut Kiki, pendidikan vokasi harus mampu mencetak lulusan yang mandiri. Mampu menjaga dirinya sendiri, sekaligus mengabdikan dirinya. Untuk itu, nilai pendidikan vokasi lainnya adalah nilai sosial.

Disebutkan, 4 perguruan tinggi yang menjadi mitra dalam Program RPL, yaitu Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Terbuka.

“Lulusan PKL yang akan lanjut ke perguruan tinggi bisa mendaftar ke 4 perguruan tinggi tersebut,” ucap Kiki menandaskan.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Direktur Kursus dan Pelatihan, Wartanto mengatakan, Program RPL dibuat karena keprihatinan atas sertifikat peserta kursus yang selama ini masih dipandang sebelah mata. Padahal, LKP telah memperdalam hal-hal yang bersifat spesifik.

“Kursus otomotif, misalkan, pesertanya tidak belajar A sampai Z. Yang dipelajari kebanyakan hal-hal kecil, seperti belajar membetulkan kaki-kaki, kaca mobil, atau jok. Meski kecil, keterampilan itu dipelajari hingga mahir lewat praktik,” ujar Wartanto.

Karena itu, lanjut Wartanto, tak heran jika kemudian banyak lulusan LKP yang akhirnya buka usaha sendiri, seperti servis kaki-kaki mobil. Adanya Program RPL akan membuka pintu masuk dunia akademik dan vokasi, dengan memanfaatkan sertifikat yang sudah diakui tersebut.

Program RPL, menurut Wartanto, tak hanya menguntungkan peserta LKP karena bisa langsung penyesuaian semester di perguruan tinggi, tetai juga bagi perguruan tinggi yang bersangkutan karena bisa melebarkan sayapnya hingga ke daerah 3T.

“Program RPL dapat melayani anak-anak di wilayah 3T, yang kesulitan kalau kuliah dan harus pindah ke kota akibat keterbatasan finansial,” katanya.

Peserta RPL bisa masuk UT, karena pembelajarannya dirancang dengan menggunakan bahan dari kursus. Dengan harapan, makin banyak lulusan LKP di daerah 3T bisa terlayani.

Program RPL merupakan salah satu bentuk pelaksanaaan kebijakan pemerintah dengan sistem terbuka dan multi makna yang mengacu pada Peraturan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 41 Tahun 2021 tentang Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

RPL mulai dijalankan tahun ini melalui jalur pendidikan nonformal. Peraturan itu mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Direktorat Kursus dan Pelatihan agar LKP dapat bertransformasi menjadi lebih baik dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kualifikasi lulusannya.

Sebelumnya, sosialisasi pedoman program inovasi RPL antara LKP dengan perguruan tinggi ini telah dilakukan pada 115 perguruan tinggi negeri dan swasta, baik itu universitas, politeknik, akademi, sekolah tinggi, serta institut yang memiliki program pendidikan vokasi.

Sosialisasi juga telah diberikan kepada 324 LKP dengan 23 bidang keterampilan yang merupakan sasaran program peningkatan kompetensi SDM, dengan instruktur yang sudah magang di industri. Kurasi kemudian dilakukan pada LKP yang memenuhi syarat untuk melakukan kesepakatan dengan perguruan tinggi.

“Kesepakatan yang dibuat hari ini adalah awal. Diharapkan semakin banyak kerja sama antara LKP dan perguruan tinggi untuk RPL,” kata Wartanto. (Tri Wahyuni)