Diduga Korban KDRT Istri, Pria Ini Minta Bantuan Hukum

0

JAKARTA (Suara Karya): Kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi pada siapa saja. Tak hanya perempuan atau anak-anak. Tindakan penganiayaan dalam keluarga juga bisa dialami suami. Itulah yang diakui seorang pria berinisial D yang diduga menjadi korban KDRT yang dilakukan istrinya.

Pria berusia 45 tahun mengaku dianiaya istrinya yang berinisial M. Namun dirinya justru dilaporkan sang istri atas dugaan KDRT ke Polsek Kembangan, Jakbar, pada 4 April 2022 lalu.

D ingin meluruskan bahwa yang menjadi korban adalah dirinya bukan istri saat mendatangi kantor kuasa hukum OC Kaligis di Jalan Majapahit, Gambir, Jakpus, belum lama ini.

Menurut Kaligis, D mengalami luka parah diduga akibat dianiaya M. Ini lantaran D memiliki bukti dugaan perselingkuhan yang sang istri.

M juga diduga melakukan pemerasan karena ada bukti pemberian Rp 30 miliar dari sang suami.

“Jadi modus operandinya pemerasan,” ujar Kaligis, Senin (22/8/2022) dalam keterangan tertulisnya. Selain itu, Kaligis juga mempertanyakan tujuan kedatangan aparat Polsek Kembangan ke kediaman kliennya.

Penyidik melakukan penggeledahan tanpa menunjukkan surat izin penggeledahan dari Pengadilan Negeri. Bahkan dalam penggeledahan tersebut tidak disaksikan oleh dua orang saksi baik warga setempat maupun RT/RW sebagai saksi.

Tindakan tersebut kata Kaligis dinilai melanggar ketentuan Pasal 33 ayat (10 dan ayat (4) KUHAP dan Pasal 32 ayat 1 huruf c Perkapolri No.8 Tahun 2009.

Sebelumnya, M bersama kuasa hukumnya Sunan Kalijaga mendatangi Polsek Kembangan untuk mempertanyakan kelanjutan kasusnya.

“Kita ingin mempertanyakan tindaklanjutnya seperti apa. Apa kendalanya, dikarenakan waktu sudah sangat lama,” kata Kuasa Hukum, Sunan Kalijaga ditemui wartawan di depan Polsek Kembangan pada Juli silam.

Saat itu, penyidik bersama M menggelar tempat kejadian perkara atau di rumah terduga pelaku. Berdasarkan pengakuan M, dia dicekik menggunakan kabel hairdryer dan diancam dibunuh dengan pisau. M mengaku sudah menjadi korban KDRT sang suami sejak awal menikah pada 1995.

“Kejadian itu harus terang benderang, sehingga proses hukum bisa berjalan dan pelaku segera diamankan,” ujar Sunan Kalijaga. (Bobby MZ)