Didukung KBRI Tokyo, UPI Promosikan Angklung bagi Anak Disabilitas Jepang

0

JAKARTA (Suara Karya): Univeritas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung melakukan promosi angklung bagi anak disabilitas di Jepang. Kegiatan tersebut difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, Jepang.

Kehadiran UPI di Jepang bagian dari diplomasi budaya melalui pengenalan musik dan tarian tradisional Indonesia ke warga Jepang. Hal itu sekaligus untuk mempererat hubungan Indonesia-Jepang yang mencapai usia 65 tahun pada 2023.

Duta Besar RI di Tokyo, Heri Akhmadi usai menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara UPI Bandung dan dua perguruan tinggi Jepang, yaitu Chubu Gakuin University dan Chubu Gakuin College di Tokyo, Jumat (12/8/22) menyambut baik kerja sama tersebut.

Ditambahkan, pengajaran permainan angklung bagi siswa disabilitas di Jepang dikembangkan oleh pelatih angklung KABUMI UPI, Ardian Sumarwan. Pengajaran dilakukan bersama dua perguruan tinggi Jepang tersebut.

“Angklung merupakan warisan budaya Indonesia yang sudah diakui Unesco sejak 2010. Tugas kita untuk terus mempertahankan eksistensi angklung lewat promosi di berbagai belahan dunia,” ucapnya.

Menurut Heri, pengajaran angklung diberikan karena Jepang sangat memperhatikan kebutuhan seluruh warganya, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. “Pengembangan metode bermain angklung pada siswa disabilitas di sekolah Jepang merupakan kontribusi positif dalam penguatan hubungan Indonesia-Jepang,” tuturnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebudayaan UPI, Ayo Sunaryo mengatakan, seni tradisional Indonesia yaitu angklung akan menjadi materi pembelajaran seni di universitas dan sekolah luar biasa, khususnya seni angklung untuk dosen, guru seni, calon guru seni, dan siswa disabilitas.

“Seni angklung dipilih karena cocok dimainkan siswa disabilitas. Angklung tidak bisa digantikan dengan alat musik yang ada di Jepang,” ucap Ayo.

Ia menilai kerja sama bidang seni yang telah berjalan merupakan urgensi di era ini. Seni tradisional Indonesia tak hanya dikenal, tetapi dibutuhkan untuk pembelajaran seni di sekolah dan perguruan tinggi di Jepang.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Jepang, Yusli Wardiatno pada kesempatan yang sama menjelaskan, kerja sama ini merupakan jembatan kedua yang dibangun KBRI Tokyo. Sebelumnya, kerja sama juga dilakukan antara Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) dan Joshibi University of Arts and Design.

“Diplomasi budaya melalui pendidikan sangat penting bagi kedua negara. Kesepakatan ini sekaligus membuktikan pengakuan Jepang terhadap pendidik Indonesia dalam pengembangan pendidikan seni bagi siswa disabilitas. Kita harus bangga,” ucap Yusli menegaskan.

Dalam diskusi lanjutan yang dihadiri dosen Gifu University, Yoshitaka Suzuki, disepakati pembuatan konser angklung dengan penampil siswa berkebutuhan khusus pada 2023 untuk memeriahkan 65 tahun hubungan Indonesia-Jepang.

Delegasi UPI yang hadir, antara lain staf Biro Kerja Sama Luar Negeri, Cep Ubad Abdullah; Kepala UPT Kebudayaan, Ayo Sunaryo; Pelatih Angklung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Keluarga Besar Bumi Siliwangi (Kabumi), Ardian Sumarwan; pelatih gamelan, Hadi Setiadi; dan pelatih tari, Rivaldi Indra Hafidzin.

Hadir pula President of Chubu Gakuin University, Ema Satoshi; President of Chubu Gakuin College, Fumie Katagiri; Assistant President and Director of International Exchange and Regional Collaboration, Hideomi Tauchi; Planning Manager, Makoto Kikuchi; dan perwakilan Strategy Planning Division and Public Relations Office, Koichiro Noguchi. (Tri Wahyuni)