Digitalisasi Penjualan Produk UKM, CCB-Smesco Gelar Program Edukasi Perbankan

0
Direktur Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha kecil Menengah (LLP-KUKM), Emilia Suhaimi, saat berbicara dalam acara Program Edukasi Perbankan, di Jakarta, Kamis (20/12/2018).

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah telah mencanangkan pemanfaatan teknologi dalam sistem penjualan produk UKM di Indonesia. Sistem digitalisasi ini, dinilai sangat efektif dalam rangka meningkatkan kuantitas penjualan produk UKM, sekaligus sebagai peluang membuka kesempatan kerja bagi masyarakat luas.

Demikian dikemukakan Direktur Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha kecil Menengah (LLP-KUKM), Emilia Suhaimi, dalam sambutan pembukaan Program Edukasi Perbankan: ‘Strategi Branding & Pemasaran Produk KUKM 2019, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah’, yang bekerja sama Smesco Indonesia dengan CCB (China Construction Bank) Indonesia, di gedung Smesco Indonesia, Jakarta, Kamis (20/12/2018).

“Melalui sistem ini, dengan sendirinya akan berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi secara nasional. Karenanya, saya mengajak seluruh pelaku UKM untuk memanfaatkan potensi ini melalui pemanfaatan teknologi dalam menjual produk-produk unggulan UKM,” ujar Emilia.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Prada Novan Irfani selaku Division Head Comercial Express CCB Indonesia, dan Muhammad Firdaus dari E-commers, sebagai nara sumber.

“Pasar dunia (bukan hanya di Indonesia), saat ini masih sangat besar bila saja sistem penjualan produk UKM ini dilakukan melalui pemanfaatan teknologi. Ya.. peluangnya masih terbuka lebar,” ujar Emilia menambahkan.

Pernyataan hampir sama, disampaikan Muhammad Firdaus. Dia mengatakan, potensi pasar lewat pemanfaatan teknologi digital, hingga saat ini masih sangat terbuka lebar.

Potensi ini, kata dia, semakin menjanjikan setelah pemerintah mencanangkan program digitalisasi penjualan bagi produk-produk yang dihasilkan para pelaku UKM di Indonesia.

“E-commerce itu udah jadi ‘way of life’. Misalnya kalau saya mau traveling dari satu titik ke titik lain di Jakarta, sudah pasti kemungkinan besar yang pertama saya akan akses adalah transportasi online dulu. Kalau saya mau belanja malem-malem, laper,  udah pasti itu online dulu. Nggak mungkin saya nungguin tukang nasi goreng lewat depan rumah,” ujarnya menambahkan.

Dia mengatakan, e-commerce merupakan solusi bisnis dari sisi promosi. “Jadi ini sebenarnya alat bantu jualan,” katanya lebih lanjut.

Sementara itu, Prada Novan Irfani mengatakan, tujuan diselenggarakannya program edukasi CCB Indonesia ini, tidak lain untuk meningkatkan daya saing produk UMKM Indonesia. Kegiatan ini, kata dia, diadakan rutin pada setiap tahunnya.

“Khusus untuk tahun ini, kita ingin memasuki industri usaha Power Point-O di mana ke depan akan berdaya saing yang sangat ketat. Karenanya produk UKM kita harus memiliki daya saing, tidak seperti sebelumnya, yang hanya membuat (memproduksi) tapi kemudian mati, lalu pindah haluan. Itu yang harus diubah,” ujar Prada.

Karena itu, dia mengatakan, dengan program ini, ke depan harus dibuat strategi branding dan pemasaran. Sebab, katanya, ke depannya fungsi teknologi dinilai sangat penting bagi upaya memasarkan produk-produk UKM di Indonesia.

“Jadi bagaimana kita dapat memasarkan produk-produk UKM kita secara online. Bagaimana pula kita bisa mem-branding produk unggulan kita lewat internet. Pemanfaatan potensi ini bagi UKM kita belum dilakukan secara maksimal,” kata Prada menambahkan.

Sehingga, kata dia, saat ini diperlukan adanya edukasi sebagai pembelajaran bagki para pelaku UKM di Indonesia. “Inilah salah satu konsen kita saat ini. Makanya kita melakukan program seperti ini dilakukan secara kontinyu pada setiap tahunnya. Jadi, setelah mereka mendapatkan edukasi, maka mereka bisa bergerak bagaimana bisa memasarkannya secara benar,” Prada.

Sedangkan Direktur Commercial & Retail Bangking CCB Indonesia, Setiawati Samahita menyatakan bahwa pihaknya sangat menyadari pentingnya peran UKM sebagai pondasi kekuatan ekonomi kecil dan menengah serta penyumbang kontribusi positif bagi PDB Indonesia.

Smesco sebagai lembaga yang sangat concern terhadap usaha kecil dan menengah, katanya, adalah partner yang cocok untuk bersama-sama meningkatkan prospek usaha kecil dan menengah yang bisa berdaya saing di industri.

“Strategi branding dari Samuel Watimena (perancang busana) ada dua hal utama. Pertama, bisa mengetahui kelemahan dan kekuatan produk kita. Kedua, memiliki konsep, dengan arti mampu melihat keinginan pasar dan bisa menciptakan trend yang bisa berdaya saing di Indonesia,” ujar Setiawati.

Dia mengatakan, UKM di Indonesia saat inu perlu dibranding, karena masih perlu ‘upgrading’, tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga sisi kapasitas pelaku usaha kecil dan menengah, dimana mereka mau tidak mau harus lebih mengenal serta memanfaatkan teknologi dalam melakukan strategi branding dan pemasaran produk mereka agar lebih dikenal, tidak hanya pasar lokal, melainkan juga pasar regional.

“Nah CCB Indonesia concern terhadap hal itu sesuai dengan semangat pemerintah Indonesia dalam memajukan sektor UKM. Sementara Smesco sebagai lembaga kepanjangan tangan pemerintah, memiliki akses untuk melakukan sinergi positif dalam memajukan UKM di Indonesia,” katanya.

Apalagi, ujar Setiawati, karakter produk UKM di tahun 2019, cenderung yang bisa merangkul pasar milenial, dimana pada tahun 2019-2020 Indonesia mendapatkan bonus demografi mayoritas segmen usia milenial. (Gan)