Dihadiri Komunitas Muda, Literasi Digital Digelar di Labuan Bajo

0

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi menggelar workshop Literasi Digital di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Workshop tersebut di hadiri 250 peserta dari berbagai komunitas, seperti Fotografi Labuan Bajo, Musik Tradisional Labuan Bajo, Orang Muda, Bajo Peduli Sesama, Bhineka Muda, Komodo Vaporizer, dan Muslimah Labuan Bajo.

“Literasi digital merupakan peran aktif Kemkominfo dalam mencegah penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi, serta internet,” kata
Direktur Pemberdayaan Informatika, Bonifasius Wahyu Pudjianto dalam kegiatan yang digelar pekan lalu.

Ia menyampaikan 4 pilar digital sebagai kurikulum literasi digital yang diharapkan mampu menjadi bekal bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga Manggarai Barat, agar cakap di bidang digital dan membantu pemerintah dalam penyalahgunaan teknologi informasi.

Disebutkan, empat pilar utama literasi digital itu adalah kecakapan digital, etika digital, budaya digital dan keamanan digital.

Hal itu penting karena hasil Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang diselenggarakan Kemkominfo bersama Katadata Insight Center pada 2021 menyebutkan Indonesia masih berada dalam kategori ‘sedang’ di kisaran angka 3.49 dari 5.00.

Sementara itu, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi mendukung program Kemkominfo karena berharap warganya dapat menjadi duta literasi digital guna mencegah penyalahgunaan teknologi digital.

“Sebenarnya 45 persen warga Manggarai Barat telah melek digitalisasi. Kami berharap workshop ini dapat memanfaatkan kemampuan mereka untuk edukasi maupun usaha,” ucap Endi.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate dalam sambutannya secara daring menyatakan, saat ini pemerintah gencar membangun infrastruktur digital, pusat-pusat data, dan telekomunikasi di seluruh Indonesia.

“Kami juga membuat sekolah vokasi untuk menghasilkan tenaga kerja bertalenta digital,” ujarnya.

Program pelatihan digital dibuat tiga level, yaitu Digital Leadership Academy yang diikuti 200 hingga 300 orang per tahun. Program tersebut bekerja sama 8 universitas ternama di dunia.

Kemudian ada Digital Talent Scholarship, program beasiswa untuk anak muda yang ingin meningkatkan bakat digitalnya. Dan Workshop Literasi Digital yang bisa diikuti secara gratis bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Menkominfo menyebut hasil Survey Indeks Literasi Digital di Provinsi NTT memperoleh nilai 3.60 atau sedikit di atas rata-rata indeks literasi digital nasional. Meski demikian, hal itu belum cukup.

“Semakin tinggi penetrasi internet di Indonesia, maka risiko yang muncul di ruang digital juga semakin tinggi. Itulah yang menjadi dasar pertimbangan Gerakan Nasional Literasi Digital. Saya harap program dapat berjalan baik,” tutur Johnny.

Hari pertama wrkshop, penggiat literasi digital dan wisata Labuan, Siprianus Bhuka menyampaikan materi tentang etika digital dan keamanan digital. Hal itu penting karena media sosial memberi penggunanya ruang bebas dalam berekspresi, sehingga perlu memiliki batas etika.

Terkait keamanan digital, Siprianus menyoroti alat pembayaran uang secara digital seperti Go Pay, Dana, OVO, dan semua platform yang memungkinkan pengguna dapat bertransaksi secara online.

“Risiko dalam transaksi online adalah pengguna tidak ketat dalam menjaga data pribadi seperti pin atau kata sandi. Ganti kata sandi tiap 6 bulan sekali dan jangan beritahu siapapun atau mengakses situs atau link yang menawarkan hadiah yang menggiurkan,” ucapnya.

Tokoh pemuda Manggarai Barat, Aloysius Suhartin Karya dalam paparannya mengatakan, potensi media sosial untuk peningkatan ekonomi digital di industri wisata di Labuan Bajo.

“Platform media sosial seperti Instagram dan Facebook bisa menjadi alat promosi bagi wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Namun, media sosial juga dapat menjadi pisau bermata dua bagi keamanan data pribadi penggunanya,” tuturnya.

Ia memberi tips kepada peserta dalam menjaga keamanan data pribadi di ruang digital. Disebutkan, jangan pernah membagi informasi pribadi; hindari interaksi yang tak perlu dengan pengguna asing di media sosial dan berinteraksi hanya dengan orang-orang yang dekat saja.

Selain itu, menurut Aloysiua, pentingnya menjaga etika, jangan menulis yang mengandung SARA kenal, cantumkan sumber dalam membuat konten agar terhindar dari plagiarisme, jadikan media sosial tempat belajar, dan bangun jejaring yang baik.

“Pada intinya, media sosial harus dimanfaatkan potensinya, tak hanya sebagai media untuk berkomunikasi, berinteraksi, posting foto dan lain sebagainya, tetapi juga wadah untuk menghasilkan sesuatu yang berguna,” ucapnya.

Workshop Literasi Digital hari juga menampilkan narasumber Fitri Ciptosari sebagai Key Opinion Leader (KOL) Manggarai Barat, Aden Firman selaku tokoh adat Manggarai Barat, dan RY Zainuddin sebagai pegiat literasi digital Manggarai Barat. (Tri Wahyuni)